Jumat, 1 Mei 2026

Digulung Ombak Besar, Kapal Nelayan Tradisional Belawan Tenggelam

Sebuah kapal ikan jenis longline dengan bobot mati di atas 20 grosstonage (GT) pukat umum, asal tangkahan

Tayang:
Editor: Bakri
BELAWAN - Sebuah kapal ikan jenis “longline” dengan bobot mati di atas 20 grosstonage (GT) pukat umum, asal tangkahan “Bincuan” Belawan yang membawa sembilan  anak buah kapal (ABK) diduga tenggelam “digulung” ombak besar (gelombang tinggi) di seputaran perairan perbatasan Aceh dengan perairan Selat Malaka, Minggu (12/5), sekitar pukul 03.00 WIB.

Dikabarkan, sembilan  ABK yang mencari ikan di tengah laut itu selamat setelah diselamatkan nelayan lain yang kala itu kebetulan melintas di sekitar lokasi kejadian.

Keterangan yang diperoleh setelah dikumpulkan dari kalangan para nelayan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB), Minggu (12/5) petang menyebutkan, beberapa hari lalu, tepatnya Kamis (9/5), kapal ikan jenis pukat umum bernomor lambung 88 seperti biasanya pergi melaut mencari ikan.

Kapal ikan yang dinakhodai Syahrul (42), penduduk Pasar (Pajak) Baru, Kelurahan Belawan Bahagia, Kecamatan Medan Belawan itu, seperti melaut mencari ikan di seputaran perairan Selat Malaka dekat ke perairan Aceh.

Abdul Jalil (38), nelayan lain yang bekerja pada sebuah perusahaan ikan di PPSB itu, mengatakan kemungkinan cuaca di tengah laut tak bersahabat. Kabarnya, gelombangnya setinggi bubungan atap rumah (antara 5-6 meter) menyebabkan kapal ikan itu miring (oleng) ke kiri dan tenggelam.

Melihat situasi kapal yang tak memungkinkan, sembilan  awak kapalnya pun  spontan menyelamatkan diri dengan melompat ke laut menggunakan pelampung. Kemudian sempat terapung-apung sekitar satu jam, tanpa bisa menyelamatkan sejumlah barang beharga di dalam kapal yang diperkirakan membawa berbagai jenis ikan yang diperkirakan seberat 3 ton.

Syukurnya, ada kapal nelayan yang saat itu melintas di dekat lokasi kejadian. Selanjutnya, seluruh awak kapal yang sempat minum air asin tersebut dievakuasi hingga akhirnya kembali ke tangkahan PPSB dengan rasa trauma mendalam.

Diakui jalil, sembilan ABK tersebut sebelumnya mengetahui peringatan yang dikeluarkan pihak BMKG Stasiun Belawan, tengang adanya potensi gelombang tinggi mulai empat hingga lima meter terjadi di Perairan Utara Aceh, Laut Andaman, laut Arafuru bagian Timur dan perairan Selatan P Yos Sudarso-Merauke. Namun, peringatan tersebut mereka acuhkan karena  kebutuhan keluarga yang mendesak. Akhirnya, kesembilan ABK itu sepakat mengarungi lautan demi sesuap nasi.

Kini, kesembilan ABK tersebut sudah istirahat di rumah masing-masing dalam keadaan trauma.(lau)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved