Digulung Ombak Besar, Kapal Nelayan Tradisional Belawan Tenggelam
Sebuah kapal ikan jenis longline dengan bobot mati di atas 20 grosstonage (GT) pukat umum, asal tangkahan
Dikabarkan, sembilan ABK yang mencari ikan di tengah laut itu selamat setelah diselamatkan nelayan lain yang kala itu kebetulan melintas di sekitar lokasi kejadian.
Keterangan yang diperoleh setelah dikumpulkan dari kalangan para nelayan di Pelabuhan Perikanan Samudera Belawan (PPSB), Minggu (12/5) petang menyebutkan, beberapa hari lalu, tepatnya Kamis (9/5), kapal ikan jenis pukat umum bernomor lambung 88 seperti biasanya pergi melaut mencari ikan.
Kapal ikan yang dinakhodai Syahrul (42), penduduk Pasar (Pajak) Baru, Kelurahan Belawan Bahagia, Kecamatan Medan Belawan itu, seperti melaut mencari ikan di seputaran perairan Selat Malaka dekat ke perairan Aceh.
Abdul Jalil (38), nelayan lain yang bekerja pada sebuah perusahaan ikan di PPSB itu, mengatakan kemungkinan cuaca di tengah laut tak bersahabat. Kabarnya, gelombangnya setinggi bubungan atap rumah (antara 5-6 meter) menyebabkan kapal ikan itu miring (oleng) ke kiri dan tenggelam.
Melihat situasi kapal yang tak memungkinkan, sembilan awak kapalnya pun spontan menyelamatkan diri dengan melompat ke laut menggunakan pelampung. Kemudian sempat terapung-apung sekitar satu jam, tanpa bisa menyelamatkan sejumlah barang beharga di dalam kapal yang diperkirakan membawa berbagai jenis ikan yang diperkirakan seberat 3 ton.
Syukurnya, ada kapal nelayan yang saat itu melintas di dekat lokasi kejadian. Selanjutnya, seluruh awak kapal yang sempat minum air asin tersebut dievakuasi hingga akhirnya kembali ke tangkahan PPSB dengan rasa trauma mendalam.
Diakui jalil, sembilan ABK tersebut sebelumnya mengetahui peringatan yang dikeluarkan pihak BMKG Stasiun Belawan, tengang adanya potensi gelombang tinggi mulai empat hingga lima meter terjadi di Perairan Utara Aceh, Laut Andaman, laut Arafuru bagian Timur dan perairan Selatan P Yos Sudarso-Merauke. Namun, peringatan tersebut mereka acuhkan karena kebutuhan keluarga yang mendesak. Akhirnya, kesembilan ABK itu sepakat mengarungi lautan demi sesuap nasi.
Kini, kesembilan ABK tersebut sudah istirahat di rumah masing-masing dalam keadaan trauma.(lau)