Saat Genting Jelang Ajal, Shinta Sempat Telepon Ibu
DI hari kedua kepergiannya, Minggu (14/7), rumah almarhum Shinta Silvia (17) di Lorong II, Pantai Perak
Di pojok rumah itu, Rita Silvina, Ibu Shinta, masih terlihat shok. Dia tak mampu banyak berbicara, kecuali menangisi kepergian putri sulung yang yatim tersebut untuk selamanya.
Namun, di tengah isak tangisnya, Rita sempat menjelaskan hal yang mengejutkan. Ternyata, menurut Rita, Shinta sempat menelpon dirinya setelah beberapa saat ditinggalkan di rumah. Sedangkan Rita sendiri, saat itu sudah berada di tempat usaha salon kecantikan miliknya, di Jalan Cot Seutui, Keude Siblah, Blangpidie.
“Barangkali, saat genting seperti itu, Shinta masih sempat menelepon saya,” ungkap Rita dengan berderai air mata.
Ketika telepon dari Shinta masuk, Rita sedang membuka pintu tempat usahanya. “Shinta sering telpon saya kalau diganggu adiknya.” Tapi, kali ini, setelah telepon dari Shinta diangkat, tidak tidak ada suara percakapan, kecuali jeritan dari Shinta, “Sakit... sakit... sakit….. Tapi suara handphone-nya mati secara tiba-tiba,” ungkap Rita.
Naluri seorang ibu langsung membersitkan kekhawatiran pada anak gadisnya yang baru saja ditinggal di rumah. Benar saja, sejenak kemudian, ada warga datang menjemput Rita ke salon dan mengabarkan Shinta sudah dilarikan ke rumah sakit.
Rita pun segera meluncur ke sana. Ia seperti tidak percaya ketika mendapati putri kesayangan itu terbujur kaku di ranjang IGD RSUD Teungku Peukan Abdya. Padahal, Shinta baru bebepa saat lalu ditinggal di rumah dalam kondisi segar bugar.
Semasa hidupnya, Shinta dikenal sebagai seorang gadis periang. Dua hari sebelum kejadian, dia baru pulang liburan dari Banda Aceh. “Pulang liburan, Shinta tidak cerita apa-apa. Hanya setelah pulang shalat tarawih pada Jumat (12/7)--malam sebelum kejadian, Shinta mengeluh badannya sakit-sakitan kecapekan. Kemudian dia meminta saya memijit kepalanya,” ungkap Rita, tidak kauasa menahan tangis.
Meski hatinya lirih, Rita pun harus pasrah atas musibah yang menimpa dirinya. Dia menyerahkan sepenuhnya persoalan tersebut kepada aparat penegak hukum. ”Saya tidak tahu apa lagi yang harus saya sampaikan dalam suatusi seperti ini,” ujar ibu paruh baya ini dengan wajah sedih mendalam.
Pembataian sadis berakibat tewasnyua Shinta Silvia kini menjadi pembicaraan di kalangan masyarakat. Masyarakat menuding, aksi pembunuhan itu sangat biadab karena terjadi pada bulan Ramadhan.
Menderas kabar, tragedi berdarah tersebut terjadi sekira pukul 10.30 WIB. Kala itu, Shinta baru saja bangun dari tidur. Ia sendirian di dalam rumah, setelah beberapa menit ditinggal oleh ibunya, Rita Silvina yang pergi ke tempat usaha salon kecantikan di Jalan Cot Suetui, Kedai Siblah, Blangpidie.
Tidak ada yang menyangka peristiwa tersebut, meski tetangga sekitar sempat mendengar suara jeritan minta tolong. Para tetangga menduga, jeritan itu berasal dari orang bertengkar biasa.
Warga baru terkejut setelah mendapatkan Shinta tergelatak dalam kondisi berlumuran darah. Tubuh Shinta pertama sekali ditemukan Lilisma, makcik korban. Kala itu, Lilisma melihat Shinta tergeletak dan berlumuran darah di ruang keluarga di rumahnya. Saat itu, Shinta sempat melambai-lambaikan tangan minta tolong. Namun, Lilisma yang shok melihat tubuh Shinta berlumur darah itu keluar sambil menjerit minta tolong kepada tetangga.
Dalam waktu singkat, warga memadati rumah tersebut dan membantu melarikan Shinta ke rumah sakit dengan sepeda motor. Shinta sempat meronta-ronta ketika tiba di depan Puskesmas Susoh. Karena takut terjatuh, dia dibawa dengan becak motor menuju IGD RSUD Teungku Peukan.
Meski pihak rumah sakit telah berupaya menangani Shinta dengan tindakan memasang oksigen, nyawa gadis itu pun tak tertolong. Dia banyak mengeluarkan darah. Akhirnya, Shinta menghembuskan napas terakhir beberapa menit setelah dibaringkan di ranjang IGD.(az)