Breaking News:

Dua Pelaku Pesta Seks Dihukum 100 Kali Cambuk

Majelis Hakim Mah­kamah Syar’iyah Sigli mem­vonis enam terpidana yang terbukti melakukan perzinaan (pesta seks) di rumah kosong

Editor: bakri
M Nazar
Algojo mengayunkan sabetan rotan ke punggung salah seorang terpidana dalam proses eksekusi cambuk di halaman Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Pidie di Sigli, Selasa (16/6/2020). 

* Empat Lainnya Jalani Rehabilitasi

SIGLI - Majelis Hakim Mah­kamah Syar’iyah Sigli mem­vonis enam terpidana yang terbukti melakukan perzinaan (pesta seks) di rumah kosong kawasan Kembang Tanjong, Pidie, beberapa waktu lalu. Putusan tersebut dibacakan majelis hakim dalam sidang pamungkas secara virtual di Mahkamah Syari’yah Sigli, Jumat (13/11/2020).

Hal itu diungkapkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Pidie, Tarmizi SH, kepada Pro­Haba, Sabtu (14/11/2020). Dikatakan, dua pelaku yak­ni wanita berinisial TM (19) dihukum 100 kali cambuk dan lelaki MA (19) 100 kali cambuk ditambah kurungan 10 bulan penjara. Hukuman MA lebih berat karena ia terbukti melaku­kan perzinaan dengan anak di bawah umur.

Sedangkan empat lainnya yang masih berusia remaja akan direhab selama 18 bulan di lem­baga pembinaan anak di Banda Aceh. Keempat anak di bawah umur itu akan menjalani rehab lokasi berbeda.

Dikatakan, untuk lelaki K (17) dan D (16) akan dilaku­kan pembinaan di lokasi re­habilitasi anak yang memer­lukan perlindungan khusus (LRSANPK) Darussalam Banda Aceh. Sedangkan J (15) dan M (18) akan direhab di Lembaga Penye­lenggara Kesejahteraan So­sial (LPKS) di Lampineung, Banda Aceh.

“Kami tidak terima putus­an majelis hakim sehingga kita melakukan upaya band­ing. Kita menuntut TM dan MA 15 bulan penjara. Kedua terpidana kita bidik dengan Qanun Ikhtilat,” jelasnya.

Menurutnya, untuk empat terpidana di bawah umur, JPU menerima putusan majelis hakim yang men­jatuhkan 18 bulan rehab di lembaga anak di Banda Aceh. Putusan terhadap em­pat terpidana anak di bawah umur telah inkrah.

Saat ini, kata Tarmizi, terpidana pria masih dititip­kan di Rutan Kelas II B Sigli. Sementara terpidana wanita dititipkan di Lapas Wanita Tibang, Kecamatan Pidie.

Ditambahkan, selama per­sidangan, keenam terdakwa tidak pernah didampingi or­ang tuanya. Pihak orang tua telah lepas tangan terhadap keenam remaja tersebut. Keenam remaja itu hanya dilakukan pendampingan dari Dinas Sosial Pidie dan Dinas Pemberdayaan Per­empuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Pidie.

Untuk diketahui, keenam terpidana dinilai majelis hakim telah terbukti mela­kukan perzinaan di rumah kosong kawasan Kembang Tanjong, Pidie. Aksi keenam remaja tersebut diketahui warga sekitar, yang kemud­ian menggelandang mereka ke kantor polisi.

Saksi Kasus Prostitusi

Pada bagian lain, Jak­sa Penuntut Umum (JPU), Tarmizi mengatakan, tiga anak di bawah umur beri­nisial K (17), J (15), dan M (18) yang divonis menjalani rehab selama 18 bulan itu akan dijadikan saksi dalam kasus prostitusi yang digelar di Pengadilan Negeri Sigli. “Tiga terpidana masih di bawah umur itu akan dija­dikan saksi dalam perkara prostitusi dengan terdakwa RR,” jelasnya.

Ia mengatakan, tiga terpi­dana dijadikan saksi karena dinilai sebagai korban yang diduga telah dijual RR ke­pada lelaki hidung belang. Sehingga RR meraup keun­tungan dari ‘menjual’ anak di bawah umur itu. Bahkan, sebut Tarmizi, wanita RR tidak memperkerjakan tiga terpidana itu saja, tapi ada wanita lain yang juga masih di bawah umur.(naz)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved