Selasa, 9 Juni 2026

Matahari Buatan Korsel Pecahkan Rekor Baru Dunia

Matahari buatan Korea Selatan (Korsel) dilaporkan mencetak rekor baru dunia, karena berhasil mempertahankan plasma bersuhu tinggi selama 20 detik..

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
FOTO: PHYS
PERANGKAT fusi superkonduktor atau matahari buatan KSTAR, yang dikembangkan para peneliti Korea Selatan dan Amerika Serikat. Operasi matahari buatan ini pecahkan rekor baru dunia dengan suhu lebih dari 100 juta derajat Celsius. 

SEOUL – Matahari buatan Korea Selatan (Korsel) dilaporkan mencetak rekor baru dunia, karena berhasil mempertahankan plasma bersuhu tinggi selama 20 detik dengan suhu ion lebih dari 100 juta derajat Celsius.

Sebelumnya, matahari buatan Cina telah lebih dulu menyala. Kali ini, matahari buatan dari pemanfaatan energi nuklir yang dikembangkan Korsel berhasil menyala lebih lama dan mencetak rekor dunia.

Perangkat fusi superkonduktor atau matahari buatan tersebut dikembangkan Korea Superconducting Tokamak Advanced Research (KSTAR), merupakan studi bersama Seoul National University (SNU) dan Columbia University, Amerika Serikat.

Dengan mempertahankan pengoperasian plasma yang berkelanjutan selama 20 detik, para peneliti telah mencapai syarat inti fusi nuklir dalam Kampanye Plasma KSTAR 2020. D i l a n s i r d a r i Phys, Senin (28/12/2020), pada percobaan yang dilakukan tahun 2018, KSTAR dapat mencapai suhu ion plasma 100 juta derajat Celsius untuk pertama kalinya, dengan waktu retensi sekitar 1,5 detik.

Untuk kembali menciptakan kembali reaksi fusi yang terjadi pada matahari di Bumi, maka isotop hidrogen harus ditempatkan di dalam perangkat fusi nuklir seperti KSTAR.

Hal itu dilakukan untuk menciptakan keadaan plasma, di mana ion dan elektron dipisahkan, kemudian ion dipanaskan dan dipertahankan pada suhu tinggi.

Kendati demikian, sejauh ini, ada perangkat fusi lain yang dapat mengatur plasma secara singkat pada suhu 100 juta derajat Celsius atau lebih tinggi.

Namun, tak satu pun dari mereka yang mampu memecahkan penghalang untuk dapat mempertahankan operasi plasma selama lebih dari 10 detik.

Baca juga: Matahari Buatan Cina Menyala, Apa Fungsinya?

Sementara itu, durasi 10 detik atau lebih adalah batas operasional perangkat berkonduksi normal dan sulit untuk mempertahankan status plasma yang stabil dalam perangkat fusi pada suhu tinggi untuk waktu yang lama.

KSTAR berupaya meningkatkan kinerja mode Internal Transport Barrier (ITB) yang dilakukan dalam percobaan tahun 2020.

ITB adalah salah satu mode operasi plasma generasi berikutnya yang dikembangkan tahun lalu.

Mode ini berhasil mempertahankan status plasma pada matahari buatan tersebut untuk jangka waktu yang lama, mengatasi batasan yang ada pada operasi plasma bersuhu tinggi.

Direktur Si-Woo Yoon dari Pusat Penelitian KSTAR mengatakan teknologi yang dibutuhkan untuk operasi jangka panjang 100 juta plasma adalah kunci realisasi energi fusi.

“Dan keberhasilan KSTAR dalam mempertahankan plasma bersuhu tinggi selama 20 detik akan menjadi titik balik penting dalam percobaan operasi plasma berkinerja tinggi, komponen penting dari reaktor fusi nuklir komersial di masa depan,” jelasnya.

Yong-Su Na, profesor di Jurusan Teknik Nuklir SNU yang juga melakukan penelitian bersama mengatakan keberhasilan eksperimen KSTAR telah membawa kita selangkah lebih dekat ke pengembangan teknologi untuk realisasi energi fusi nuklir matahari.

“Suhu ion 100 juta derajat dicapai dengan memungkinkan plasma inti yang efi sien pemanasan untuk durasi yang begitu lama menunjukkan kemampuan unik dari perangkat KSTAR superkonduktor, dan akan diakui sebagai dasar yang kuat untuk plasma fusi kondisi stabil dan berkinerja tinggi,” kata Dr. Young-Seok Park dari Columbia University.

Perangkat matahari buatan yang dikembangkan Korea Selatan tersebut telah mulai dioperasikan pada Agustus lalu.

Tujuan akhir dari matahari buatan KSTAR ini adalah diharapkan dapat berhasil melakukan operasi plasma berkelanjutan selama 300 detik dengan suhu ion lebih tinggi dari 100 juta derajat Celsius pada tahun 2025. (kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved