Breaking News:

Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia

KETIKA dunia fokus pada Covid-19, sejumlah ilmuwan justru bekerja keras untuk memastikan virus Nipah tidak menyebabkan pandemi berikutnya di dunia..

Editor: Muliadi Gani
FOTO: SHUTTERSTOCK
KELELAWAR buah adalah inang virus Nipah yang bisa menjadi ancaman pandemi di Asia. 

Misalnya, di Pasar Battambang, kota di Sungai Sangkae di barat laut Kamboja.

Ribuan kelelawar buah hinggap di pepohonan sekitar pasar, berak, dan kencing pada apa pun yang lewat di bawahnya.

Bila diamati dari dekat, atap kios-kios di pasar penuh dengan tahi kelelawar.

Baca juga: Fotopobia Kini Jadi Salah Satu Gejala Terpapar Covid-19

“Manusia dan anjing liar berjalan di bawah sarang-sarang, terpapar urine kelelawar setiap hari,” kata Duong.

Kontak manusia dengan kelelawar juga ditemukan di berbagai tempat lainnya.

“Kami mengamati (kelelawar buah) di sini dan di Thailand, di pasar- pasar, tempat ibadah, sekolah, dan lokasi turis seperti Angkor Wat, ada sarang besar kelelawar di sana,” ujarnya.

Angkor Wat biasa dikunjungi 2,6 juta orang setiap tahun. Ini berarti, 2,6 juta kesempatan bagi virus Nipah untuk melompat dari kelelawar ke manusia setiap tahun, hanya di satu lokasi.

Dari 2013 hingga 2016, Duong dan timnya meluncurkan program pemantauan GPS untuk memahami kelelawar buah dan virus Nipah, serta membandingkan aktivitas kelelawar Kamboja ke kelelawar lain di wilayah-wilayah ‘hotspot’ lainnya.

Di antara wilayah-wilayah ini adalah Bangladesh dan India.

Kedua negara ini pernah mengalami wabah virus Nipah yang kemungkinan besar terkait dengan kebiasaan meminum jus kurma. Pada malam hari, kelelawar yang terinfeksi terbang ke perkebunan kurma dan mengisap sari buahnya saat keluar dari pohon.

Saat mereka makan, mereka biasanya kencing di pot pengumpulan.

Warga setempat yang tidak tahu apa-apa membeli jus dari pedagang keesokan harinya, meminumnya dan terinfeksi oleh virus Nipah.

Di Aceh pun mulai banyak orang keranjingan jus kurma, bahkan jus nipah.

Dalam 11 wabah di Bangladesh dari 2001 hingga 2011, 196 orang dikonfi rmasi terinfeksi Nipah dan150 orang di antaranya meninggal dunia.

Jus kurma juga populer di Kamboja, tempat Duong dan timnya menemukan bahwa kelelawar buah di Kamboja terbang jauh–sampai 100 kilometer setiap malam–untuk menemukan buah.

Ini berarti, masyarakat di wilayah ini perlu menyadari bahwa mereka tidak hanya dekat dengan kelelawar, tetapi juga mungkin mengonsumsi produk yang terkontaminasi olehnya. (kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved