Kamis, 23 April 2026

Cara Jitu Menghindari Varian Baru Virus Corona

Beberapa hari lalu Pemerintah Indonesia mengumumkan varian B.1.1.7 sudah masuk Indonesia. Ada dua kasus Covid-19 dengan varian ini.Setelah B.1.1.7 ...

Editor: Muliadi Gani
FOTO: SHUTTERSTOCK
Ilustrasi Virus Corona di Dunia 

PROHABA.CO - Beberapa hari lalu Pemerintah Indonesia mengumumkan varian B.1.1.7 sudah masuk Indonesia.

Ada dua kasus Covid-19 dengan varian ini.

Setelah B.1.1.7, kemarin Otoritas Kesehatan Australia mengumumkan pula bahwa mutasi Covid-19 asal Rusia ditemukan di Queensland.

Varian bernama B.1.1.317 dilaporkan menginfeksi seorang pasien yang baru datang dari luar negeri.

Tak hanya itu, sejumlah varian baru lain juga telah diumumkan oleh banyak negara.

Varian B.1.351 yang pertama kali terlihat di Afrika Selatan juga sudah muncul di Carolina Selatan dan Maryland, Amerika Serikat.

Maraknya varian baru yang terus bermunculan di banyak negara ini bukanlah hal yang mengejutkan bagi para ilmuwan.

Bagaimanapun, semua jenis virus, termasuk corona SARSCoV- 2, selalu berubah dan berkembang.

Ditambah lagi, penyebaran virus yang tidak terkendali di seluruh dunia membuat virus memiliki banyak kesempatan untuk terus bermutasi.

Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk menghadapi varian ini? Prof Amin Soebandrio, Direktur Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman mengatakan, varian-varian baru virus corona akan terus bermunculan.

Baca juga: Empat Varian Baru Virus Corona yang Bikin Gusar

Dia berkata, masing-masing varian virus corona memiliki karakteristik berbeda.

“Memang ada kekhawatiran, tapi belum ada bukti kuat apakah varian baru virus (corona) menimbulkan infeksi dengan gejala lebih berat atau bisa menimbulkan lebih banyak kematian,” kata Prof Amin kepada Kompas.com saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (6/3/2021).

“Walaupun memang sudah ada beberapa laporan (tentang kajian varian baru Covid-19), tapi itu masih dalam skala masih sedikit.

Jadi, belum signifi kan,” imbuh Prof Amin.

Artinya, hingga saat ini pun para ilmuwan di berbagai negara dan bidang terus berkerja keras untuk lebih memahami varian-varian baru Covid-19 yang terus bermunculan itu.

“Kadang-kadang varian itu hanya punya arti epidemiologi saja. Kalau kita lihat ada pergeseran.

Misalnya, dari Januari tahun lalu, (varian) dominan di Indonesia kan klet S dan sebagainya.

Tapi seiring berjalannya waktu, sekarang banyaknya klet G,” jelas Amin.

Untuk Indonesia, varian baru yang terdeteksi hingga saat ini adalah B.1.1.7 yang beberapa hari lalu diumumkan.

Sampai saat ini para ilmuwan Indonesia terus mengamati galur virus.

“Sampai siang tadi, semua yang sudah dilaporkan menunjukkan belum ada lagi varian baru.

Baru dua (kasus) itu aja dari B.1.1.7,” ungkapnya.

Baca juga: Gangguan Mata Minus Meningkat Selama Pandemi Covid-19

Cara lindungi diri Prof Amin menegaskan, untuk melindungi diri dari varian baru Covid-19 kita harus tetap menerapkan protokol kesehatan (prokes), 5M dan 3T.

“Dalam hal ini tidak ada perbedaan perlakuan.

Apa yang harus dilakukan, 5M dan 3T itu harus.

Tetap sama,” kata Amin.

“Jadi terhadap varian yang biasa, varian Inggris, varian Afrika Selatan, varian Brasil, atau varian dari Rusia, apa yang harus kita lakukan itu tidak berbeda,” tegas dia.

“Terapkan kewaspadaan universal.

Kita enggak bisa beda-bedain (perlindungannya) karena kita juga enggak tahu, yang ada di sekililing kita itu varian yang mana.

Kita baru bisa tahu di laboratorium,” ujarnya.

Prokes 5M yang dimaksud adalah menjaga jarak 1-2 meter, memakai masker, mencuci tangan dengan sabun, mengurangi mobilitas, dan menghindari kerumunan.

Sedangkan 3T adalah tindakan yang digalakkan pemerintah, yakni: testing, yakni peningkatan pengujian PCR; test tracing, yakni dilakukan untuk menelusuri kasus suspek, kasus probable, dan kasus konfirmasi.

Terakhir treatment, yakni penambahan fasilitas kesehatan rumah sakit dalam penanganan Covid-19, termasuk penyediaan tempat tidur, alat pelindung diri (APD), ventilator, kamar isolasi, dan obat-obatan.

Berkaitan dengan vaksinasi dalam melawan varian baru Covid-19, Amin menegaskan bahwa vaksin yang ada di Indonesia saat ini dinilai masih efektif melawan varian baru tersebut.

“Untuk vaksinasi, sampai saat ini belum ada arahan untuk mengubah vaksin, mengingat vaksin yang ada saat ini masih dianggap efektif,” tandasnya. (kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved