Breaking News:

Pemalsu Madu Gunakan Gula Pasir dan Gincu

Pembuat madu palsu, Syamsul Bahri, menjalani sidang perdana yang dilakukan secara online dari Pengadilan Negeri Medan, Jumat (21/5/2021)...

Editor: Muliadi Gani
TRIBUN MEDAN/GITA NADIA PUTRI TARIGAN
TERDAKWA pembuatan madu palsu Syamsul Bahri mengikuti sidang virtual yang digelar di Pengadilan Negeri Medan, Jumat (21/5/2021). Syamsul membuat madu palsu dengan campuran gula pasir, gincu, dan tepung. 

PROHABA, MEDAN - Pembuat madu palsu, Syamsul Bahri, menjalani sidang perdana yang dilakukan secara online dari Pengadilan Negeri Medan, Jumat (21/5/2021).

Dalam sidang yang digelar secara daring itu, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Abdul Hakim Harahap menuturkan perkara yang menjerat lelaki 51 tahun itu, bermula pada September Tahun 2020 lalu, bertempat di rumah terdakwa di Jalan Tani Asli, Gang Abbas, Kelurahan Tanjunggusta, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang.

"Terdakwa memproduksi madu palsu yang diperolehnya dari pengalaman terdakwa bekerja di tempat usaha saksi Okta Viendra di Padang dengan mengikuti petunjuk atau cara-cara yang dilakukan oleh saksi Okta Viendra," ucap Jaksa di hadapan Majelis Hakim yang diketuai Abdul Kadir.

Dikatakan Jaksa, Syamsul memproduksi madu palsu dengan mencampurkan bahan baku gula pasir, gincu, dan tepung ke air mendidih hingga gula pasir mencair selama kurang lebih tiga jam.

Selanjutnya setelah mencair, terdakwa diamkan selama kurang lebih dua jam, untuk selanjutnya terdakwa tambahkan sarang lebah dan didiamkan selama kurang lebih tiga hari.

"Hasil produksi madu olahan terdakwa tersebut, selanjutnya terdakwa jual kepada saksi Paidil Syahputra alias Fadil sebanyak kurang lebih sembilan jerigen, namun hasil produksi madu terdakwa hasilnya tidak bagus dan tidak laku di pasaran, sehingga terdakwa tidak lagi memproduksi madu olahan," ucapnya.

Setelah tidak lagi memproduksi madu, terdakwa selanjutnya menjual atau mengedarkan madu olahan yang diproduksi oleh saksi Okta Viendra di Sumatera Barat, dengan cara menghubunginya dan meminta dikirimkan madu olahan produksi dari saksi Okta Viendra.

Baca juga: Sindikat Penjual Madu Palsu Tipu Korban Puluhan Juta, Tergoda Untung Besar

Dalam penjualan madu tersebut terdakwa juga menawarkan kepada saksi Paidil Syahputra alias Fadil, sehingga terdakwa dan saksi Paidil memesan dalam jumlah banyak kepada saksi Okta Viendra.

Pada 7 Januari 2021, terdakwa dan saksi Paidil Syahputra alias Fadil memesan sebanyak 27 jerigen, berisikan kurang lebih 45 Kg madu olahan kepada saksi Okta Viendra dengan harga Rp 1 juta per-jerigennya, dan dikirim oleh saksi Okta Viendra melalui melalui bus dari terminal Bukit Tinggi dengan tujuan Medan.

"Dimana setelah madu tersebut sampai di Medan yaitu pada 9 Januari 2021 selanjutnya 27 jerigen disimpan di tempat saksi Paidil Syahputra alias Fadil, sedangkan sisanya tiga jerigen, disimpan di rumah terdakwa.

Bahwa pada saat penangkapan terhadap terdakwa, petugas mengamankan barang bukti tiga jerigen berisikan madu masing-masing berat sekitar 45 kg, satu jerigen berisikan madu dengan berat sekitar 20 kg , satu buah jerigen ukuran 50 kg, dan barang bukti lainnya.

Berdasarkan keterangan ahli bahwa madu yang diperdagangkan oleh terdakwa, berdasarkan hasil pengujian laboratorium, Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan di Medan menyimpulkan bahwa pengujian madu olahan terdakwa tersebutTidak Memenuhi Syarat (TMS).

"Perbuatan terdakwa memenuhi rumusan dan diancam pidana sebagaimana diatur dalam Pasal 140UU RI  Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan," punya Jaksa.(tribun-medan.com)

Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved