Breaking News:

Pria dengan Testosteron Rendah Berpeluang Idap Covid-19 Parah

Sebuah penelitian kecil menunjukkan bahwa pria dengan kadar testosteron rendah lebih mungkin terkena Covid-19 yang parah...

Editor: Muliadi Gani
FOTO: SHUTTERSTOCK
Ilustrasi pasien Covid-19 yang sedang mendapat perawatan dari tim medis. 

Kemungkinan besar membutuhkan perawatan intensif atau intubasi selama dua atau tiga hari ke depan," penulis utama Dr Sandeep Dhindsa, ahli endokrinologi di Saint Louis University.

"Tingkat testosteron yang lebih rendah tampaknya memprediksi pasien mana yang kemungkinan besar akan menjadi sangat sakit selama beberapa hari mendatang."

Tim tersebut juga menemukan bahwa, pada pria dengan kadar testosteron yang lebih rendah, beberapa gen diaktifkan yang memudahkan tubuh untuk menggunakan hormon tersebut.

Tetapi para peneliti belum tahu apa implikasi dari adaptasi itu bagi tubuh dan tingkat keparahan penyakit.

Baca juga: Tiga Vaksin Covid-19 Efektif Lawan Varian Baru Virus Corona

Ada hal yang masih menjadi tanda tanya bagi para ahli. Apakah Covid-19 yang parah menyebabkan kadar testosteron turun atau kadar testosteron rendah yang menyebabkan Covid-19 parah.

Dokter belum mengukur kadar testosteron pada pasien ini sebelum mereka sakit.

"Kemungkinan kadar testosteron mereka sudah turun pada saat mereka tiba di rumah sakit karena Covid-19," kata ahli dalam laporannya.

Namun, ada juga kemungkinan bahwa pria yang mengembangkan Covid-19 parah memiliki kadar testosteron yang lebih rendah dari rata-rata sebelum mereka sakit, yang mungkin mengakibatkan penurunan massa dan kekuatan otot, dan dengan demikian kapasitas paru-paru yang lebih rendah dan risiko yang lebih tinggi memerlukan ventilator.

Data menunjukkan bahwa "kehati-hatian harus dilakukan" dengan perawatan terapi hormon yang mengurangi kadar testosteron atau meningkatkan kadar estrogen untuk pria dengan Covid-19.

Mereka sekarang berharap untuk menyelidiki apakah ada hubungan antara hormon seks ini dan masalah kardiovaskular pada orang yang mengembangkan gejala Covid-19, yang juga dikenal sebagai "Long Covid," menurut pernyataan itu.

Penemuan ini sudah dipublikasikan pada 25 Mei 2021 di jurnal JAMA Network Open. (kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved