Breaking News:

Film Cut Nyak Dhien Dalam Konteks Kekinian Aceh

KALAU Moustapha Akkad, Mehmed Bozdag, dan Metin Gunay telah mampu mempersembahkan tentang wajah asli Islam–The Message dan wajah asli imperium Islam..

Editor: Muliadi Gani
Film Cut Nyak Dhien Dalam Konteks Kekinian Aceh
Film Cut Nyak Dhien Dalam Konteks Kekinian Aceh

Serial Film Islam (5, Habis)

PROHABA.CO - KALAU Moustapha Akkad, Mehmed Bozdag, dan Metin Gunay telah mampu mempersembahkan tentang wajah asli Islam–The Message dan wajah asli imperium Islam, Ertugrul--kepada pemirsa kedua kisah itu, bagaimana dengan Cut Nyak Dhien kita? Aceh dan bahkan Indonesia beruntung karena gambaran Cut Nyak Dhien belum pernah dinarasikan oleh “pihak jahat” seperti yang ditayangkan tentang Islam dan Ottoman oleh beberapa pihak di Barat yang salah.

Bahkan, kehebatan Cut Nyak Dhien diakui secara kesatria oleh musuhnya, Belanda sampai hari ini.

Bayangkan saja, Pemerintah Belanda membayai restorasi film yang disutradarai oleh Eros Djarot ini, sehingga memungkinkan peluncuran barunya seperti yang sedang dan akan tampil saat ini.

Dalam racıkan Eros Djarot, Tjoet Nja’ Dhien (Cut Nyak Dhien) telah menjadi sebuah ikon tentang “perempuan” Aceh yang kehidupannya tidak semata diputuskan oleh lelaki, hatta sehebat Teuku Umar sekalipun.

Dhien dan Umar adalah setara, mereka adalah sejoli yang berperang melawan musuh untuk keadilan dan martabat bangsanya.

Dalam konteks keindonesiaan, komentar penonton perdananya, Menteri BUMN Erick Thohir, cukup memadai.

Di samping semangat perlawanan, Thohir mencatat dua pesan penting dari Cut Nyak Dhien, yakni kehancuran bangsa berasal dari ulah sendiri, tidak disiplin, dan tidak kompak.

Baca juga: Wajah Islam Sejati dalam Serial Ertugrul 

Dalam konteks kekinian Aceh, film Cut Nyak Dhien mengirim pesan untuk kita agar tidak semena-mena mencabut keberadaan perempuan Aceh dengan menggagahi penafsiran fikih seperti yang diperagakan oleh kekuasaan lelaki Aceh selama ini.

Pesan Cut Nyak Dhien untuk lelaki Aceh abad ke-21 adalah tidak mempersepsikan perempuan, apalagi menjadikan perempuan sebagai pangkal “bala” dan kutukan dari Tuhan untuk bumi Aceh.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved