Breaking News:

Bentrok antara Milisi dan Militer Myanmar Pecah Lagi, 20 Tewas

Sedikitnya 20 orang tewas dalam pertempuran antara milisi dan pasukan keamanan Myanmar, menurut saksi mata dan media Myanmar,dalam kekerasan ...

Editor: Muliadi Gani
AFP PHOTO/KC ORTIZ
Gambar yang diambil pada tanggal 31 Januari 2015 ini menunjukkan tentara dari Brigade Ketujuh Tentara Pembebasan Nasional Karen (KNLA) yang berparade sebagai bagian dari perayaan Hari Revolusi Karen ke-66 di markas mereka di negara bagian Kachin, Myanmar. KNLA adalah sayap bersenjata dari Serikat Nasional Karen (KNU) dan diyakini memiliki antara 3.000 hingga 5.000 milisi aktif di barisannya. 

PROHABA.CO, NAYPYIDAW - Sedikitnya 20 orang tewas dalam pertempuran antara milisi dan pasukan keamanan Myanmar, menurut saksi mata dan media Myanmar, dalam kekerasan terburuk sejak penentang pemerintah militer menyerukan "perang defensif rakyat" minggu ini.

Kekerasan terbaru terjadi ketika para aktivis dan pasukan antimiliter mendesak masyarakat internasional, Sabtu (11/9) untuk mengambil tindakan.

Menurut mereka, kurangnya "intervensi luar yang berarti" telah menyebabkan perlawanan bersenjata.

“Orang-orang muda Myanmar (tidak punya) pilihan selain untuk melawan dengan apa yang mereka miliki,” kata Gerakan Pembangkangan Sipil dalam sebuah pernyataan, Sabtu (11/9) pagi melansir Al Jazeera.

Mereka menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa (AS) dan perwakilan dari Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) untuk “secara langsung terlibat” dengan oposisi Pemerintah Persatuan Nasional (NUG).

Menjelang pertemuan Majelis Umum PBB untuk memutuskan siapa yang mewakili Myanmar sebagai utusan khusus, pasukan oposisi juga meluncurkan kampanye akhir pekan ini untuk mendesak pengakuan NUG sebagai perwakilan pemerintah yang sah.

NUG dibentuk untuk melawan pengambilalihan militer Myanmar pada 1 Februari sebelumnya.

Kelompok ini telah menyerukan pemberontakan melawan kekuasaan militer, dalam upaya nyata untuk mengoordinasikan kelompok-kelompok yang memerangi tentara, dan meyakinkan tentara dan pejabat negara untuk beralih pihak.

Baca juga: Jepang Ancam Bekukan Bantuan ke Myanmar

Myanmar berada dalam kekacauan sejak penggulingan pemerintahan Aung San Suu Kyi, yang mengakhiri satu dekade demokrasi tentatif dan memicu kemarahan, pemogokan dan protes nasional.

Kelompok-kelompok milisi kemudian muncul dan telah melakukan perlawanan pada pasukan keamanan.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved