Jumat, 10 April 2026

Luar Negeri

Eropa Alami Musim Dingin Terpanas Kedua dalam Sejarah

Menurut data yang dikeluarkan oleh Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa itu, rata-rata suhu di Eropa sejak Desember 2022 hingga Februari 2023,

Editor: Muliadi Gani
AFP
Orang-orang bekerja untuk membersihkan jalan setelah hujan salju lebat di Murree, sekitar 70 kilometer (45 mil) timur laut ibu kota, Islamabad pada 8 Januari 2022 setelah insiden sebelumnya di mana sedikitnya 22 orang tewas dalam kemacetan lalu lintas besar yang disebabkan oleh puluhan ribu orang pengunjung memadati kota perbukitan Pakistan untuk melihat hujan salju yang luar biasa lebat. 

PROHABA.CO, LONDON - Para peneliti pada Rabu (8/3/2023) mengungkap bahwa Eropa mengalami musim dingin terhangat kedua dalam sejarah.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Layanan Perubahan Iklim Copernicus Uni Eropa itu, rata-rata suhu di Eropa sejak Desember 2022 hingga Februari 2023, 1,4 derajat celcius lebih panas dibanding rata-rata tahun 1991-2020 untuk bumi belahan utara.

Angka ini membuat rekor musim dingin terhangat kedua di Eropa, dengan tahun 2019-2020 tercatat sebagai musim dingin yang jauh lebih hangat.

Bulan Februari mencatat suhu tinggi di atas rata-rata pada kawasan Eropa timur dan sebagian Eropa timur laut, kata laporan Copernicus tersebut, seraya menambahkan bahwa suhu tinggi itu menyusul adanya gelombang panas musim dingin yang parah pada akhir Desember 2022 dan awal Januari 2023.

Rekor temperatur musim dingin ini juga disebut melanda Perancis hingga Hungaria yang menyebabkan pusat wisata ski harus ditutup lantaran kekurangan salju.

Baca juga: Longsoran salju menyapu jalur ski di Austria barat, 10 Pemain Ski Dilaporkan Hilang

Baca juga: Kisah Gempa Turkiye, Ayah Pegang Tangan Putrinya yang Tewas, Enggan Dilepas Meski Cuaca Dingin

Baca juga: Pria Amerika Rampok 1 Dolar di Bank Supaya Bisa Dipenjara, Polisi Jadi Bingung

Peneliti Copernicus sebelumnya menyebut musim panas tahun 2022 jadi yang terpanas sejak pencatatan mereka dimulai.

Mereka menduga periode hangat Eropa dalam jangka panjang ini berkaitan dengan perubahan iklim ulah manusia.

Dampak buruk bagi tumbuhan dan hewan Meskipun musim dingin "hangat" yang tidak biasa ini menawarkan bantuan jangka pendek di tengah harga gas yang tinggi setelah Rusia memangkas pengiriman BBM ke Eropa, suhu tinggi yang dikaitkan dengan perubahan iklim ulah manusia ini justru menimbulkan risiko bagi satwa liar dan pertanian.

Pasalnya, lonjakan suhu membuat tanaman berkembang biak lebih awal, dan memperdaya hewan untuk menyelesaikan hibernasi lebih dini.

Hal ini membuat mereka rentan untuk dibunuh oleh hawa dingin di akhir musim.

(kompas.com)

Baca juga: Negeri Paman Sam Dilanda Suhu Dingin Ekstrem Hingga Pemadaman Listrik

Baca juga: Badan Menggigil hingga Tak Sadarkan Diri saat Cuaca Dingin, Bisa Jadi Anda Terkena Hipotermia

Baca juga: Belgia Kini Juga Melarang Penggunaan Aplikasi Tiktok

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved