Sabtu, 30 Mei 2026

Lingkungan

84 Persen Warga Aceh Singkil Masih BAB Sembarangan

Kabupaten Aceh Singkil menjadi nomor 7 tertinggi tingkat BAB sembarangan di tempat terbuka hingga November 2023.

Tayang:
Penulis: Dedek Sumarnim | Editor: Jamaluddin
SERAMBINEWS.COM/ZAINAL ARIFIN M NUR
Ilustrasi seorang warga BABS di sungai. 

Dijelaskan, hal ini menjadi masalah kesehatan yang serius karena tinja yang mengalir di sungai dan laut mencemari serta menjadi sumber penyakit bagi yang lain.

PROHABA.CO Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di tempat terbuka dapat mencemari lingkungan.

Contoh BABS antara lain di laut, sungai, parit, dan sebagainya.

Hingga November 2023, sebanyak 66,65 persen warga Aceh masih BABS di tempat terbuka.

Kabupaten Aceh Singkil menjadi nomor 7 tertinggi tingkat BAB sembarangan di tempat terbuka.

Hal itu seperti data yang dipaparkan Kadis Kesehatan Aceh, dr Munawar, saat ditemui di ruangannya, Senin (11/12/2023).

Dijelaskan, hal ini menjadi masalah kesehatan yang serius karena tinja yang mengalir di sungai dan laut mencemari serta menjadi sumber penyakit bagi yang lain.

"Bahkan ada yang mendapat rumah duafa bantuan dari pemerintah, minta supaya kamar mandinya dipisah ke luar rumah," ungkap dr Munawar dikutip dari Serambinews.com.

"Ini sangat sulit mengubah perilaku masyarakat BAB sembarangan di tempat terbuka, namun kita terus mendorong agar perlahan berubah," tambahnya.

Kiri ke kanan - Kabid P2P Dinkes Aceh dr Iman Murahman, Kabid Kesmas Dinkes Aceh dr Sulasmi, Kadinkes Aceh Aceh dr Munawar, Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia Zainal Arifin M Nur, Wakil Pemimpin Perusahaan Firdaus Darwis, Manajer Iklan Hari Teguh Patria dan Wakil Manajer Iklan Kurniadi saat berkunjung ke Dinkes Aceh membahas peningkatan kesehatan dan penurunan angka stunting Aceh, Senin (11/12/2023).
Kiri ke kanan - Kabid P2P Dinkes Aceh dr Iman Murahman, Kabid Kesmas Dinkes Aceh dr Sulasmi, Kadinkes Aceh Aceh dr Munawar, Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia Zainal Arifin M Nur, Wakil Pemimpin Perusahaan Firdaus Darwis, Manajer Iklan Hari Teguh Patria dan Wakil Manajer Iklan Kurniadi saat berkunjung ke Dinkes Aceh membahas peningkatan kesehatan dan penurunan angka stunting Aceh, Senin (11/12/2023). (For Serambinews.com)

Difteri dan campak meningkat

Pada bagian lagi, Kadis Kesehatan Aceh menjelaskan bahwa penyakit difteri dan campak kembali meningkat di Aceh.

Penyebabnya karena imunisasi pada bayi saat baru lahir masih rendah.

Dikatakan, orang tua terutama kaum bapak banyak yang menolak anaknya diimunisasi setelah pandemi Covid-19.

Alasannya, dampak vaksin saat imunisasi menyebabkan anak demam tinggi dan sakit.

"Padahal, demam setelah vaksin itu bagus, artinya ada reaksi dalam pembentukan imun tubuh," jelas dr Munawar.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Aceh, dr Iman Murahman, mengatakan, kasus difteri meningkat pada tahun ini.

"Hingga Oktober 2023, sudah 30 kasus dan tiga kematian di Aceh akibat difteri," ungkap dr Iman.

Kasus difteri tahun ini lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya.

Peningkatan kasus itu terjadi di beberapa kabupaten/kota seperti Pidie, Banda Aceh, Aceh Besar, dan Aceh Jaya.

Baca juga: Viral Maling BAB di Celana saat Ditangkap Polisi, Tak Tahan Baunya Langsung Keluar Semua

Penurunan stunting kecil 

Selanjutnya, Kabid Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Aceh, dr Sulasmi, mengatakan, kasus stunting di Aceh hanya turun 1 persen antara 2021-2022.

Sementara target penurunan stunting pada 2024 sebesar 14 persen.

"Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) menunjukkan Aceh penurunannya sedikit sekali," kata dr Sulasmi.

Kasus ini, menurutnya, harus diintervensi agar anak-anak Aceh segera keluar dari masalah stunting dan ke depan tidak ada kasus baru.

Salah satu caranya dengan mendorong remaja putri dan ibu hamil untuk mengonsumsi tablet tambah darah.

Kemudian, memastikan semua anak datang ke posyandu setiap bulan untuk diukur dan ditimbang.

"Kalau tidak naik, kita mesti curiga, karena ini calon stunting nantinya," ungkap dr Sulasmi.

Baca juga: BEREH, Meski Banjir ASN Aceh Singkil Masuk Kerja tanpa Sepatu

Selanjutnya, Dinkes Aceh juga mengawal bersama Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal agar masuk ke mulut para anak dengan tepat sasaran.

Pusat sudah mengalokasikan dana langsung ke puskesmas untuk menyisir semua balita dan Ibu Hamil Kurang Energi Kronis (KEK) agar mendapat makanan tambahan.

PMT diberikan di antara makan pagi dan siang, kemudian antara makan siang dan malam berupa kudapan atau makanan lengkap yang diberikan seminggu sekali.

"Ini hanya makanan tambahan, bukan pengganti makanan pokok.

Diharapkan mereka yang menjadi sasaran bisa terpenuhi kebutuhan gizinya dengan protein hewani tinggi," pungkasnya.

Hadir dalam kunjungan ini, Pemimpin Redaksi Serambi Indonesia, Zainal Arifin M Nur, Wakil Pemimpin Perusahaan, Firdaus Darwis, serta Manajer dan Wakil Manajer Iklan, Hari Teguh Patria dan Kurniadi.

Kunjungan ke Dinkes Aceh merupakan bagian dari upaya Serambi Indonesia untuk mendorong peningkatan kesehatan di masyarakat, terutama dalam hal menekan angka stunting di Aceh.

Baca juga: Menggunakan Atap Terpal yang Diikat pada Batang Kayu, Etnis Rohingya di Pidie Kehujanan

(Penulis adalah mahasiswa internship dari Universitas Teuku Umar Meulaboh Aceh Barat)

Artikel ini telah tayang di SerambiNews.com dengan judul 66 Persen Warga Aceh Masih BAB Sembarangan di Tempat Terbuka, Tertinggi Gayo Lues

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved