Breaking News:

Belasan Tahun Suami Ini Pukuli Istri dan Anak

Entah apa yang merasuki pikiran JG (42). Ayah tiga anak ini tega melakukan tindakan kekerasan terhadap istrinya, CH (40), serta tiga anaknya

JAKARTA - Entah apa yang merasuki pikiran JG (42). Ayah tiga anak ini tega melakukan tindakan kekerasan terhadap istrinya, CH (40), serta tiga anaknya, yaitu S (12), T (10) dan J (6), selama belasan tahun hingga mengalami trauma yang mendalam.

Bertalindeho, pengacara empat korban tersebut mengatakan, sang istri diketahui telah mengalami kekerasan sejak 17 tahun silam. Sementara tiga anaknya mendapat tindak kekerasan sejak tahun 2005.

“Tidak jelas alasan dia melakukan kekerasan karena apa. Bisa dibilang seumur hidup anaknya itu dipukuli ayahnya, dikekang, enggak boleh bergaul,” ujar Berta saat ditemui Kompas.com di Kantor Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Rabu (14/11).

Menurut Berta, kondisi istri dan tiga orang anaknya yang tinggal di wilayah Jakarta Barat tersebut sangat memprihatinkan. Tak hanya dipukuli tanpa alasan yang jelas, bahkan JG tidak memperbolehkan anak dan istrinya untuk melakukan kegiatan ibadah di gereja.

“Gereja saja enggak boleh. Kata ayahnya, gereja itu artinya mengemis-ngemis belas kasihan kepada Tuhan, jadi enggak boleh,” tutur Berta. Yang memprihatinkan adalah perkembangan tiga orang anaknya yang tergolong masih kecil. Sehari-hari, istri dan tiga anaknya layaknya mendekam di dalam penjara rumahnya.

Setelah pulang sekolah, anaknya tidak diperbolehkan  menonton televisi dan membatasinya hanya pada hari Minggu, itu pun hanya satu jam.

Puncaknya, 19 Oktober 2012, S, T dan J melarikan diri dari rumah yang layak disebut penjara itu ke rumah sanak saudaranya. JG pun mengamuk. Sang istri kembali menjadi sasaran.

JG kemudian menyambangi sekolah anaknya. Namun, pihak keluarga tetap tak memperbolehkan sang anak bertemu JG. “Setelah anak menyelamatkan diri dari rumah, bapaknya marah besar. Lewat telepon, SMS, dia menebar teror. Katanya mau ngapain lah kalau enggak pulang. Akhirnya lapor polisi,” terang Berta.

Tanggal 1 November 2012, sang ayah diringkus petugas Kepolisian Resort Metro Jakarta Barat di salah satu kamar di Apartemen Kedoya. Sang ayah tak bisa berbuat banyak saat digiring ke ruang penyidik guna mempertanggungjawabkan perbuatan teganya memperlakukan darah dagingnya sendiri layaknya bukan manusia.

Berdasarkan informasi dari pihak kepolisian ke pihak pengacara, JG diancam dengan Undang-undang Nomor 23 tahun 2004, Pasal 44 tentang Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan ancaman hukuman di atas lima tahun penjara dan denda maksimal Rp 15 juta.

Meski sang ayah telah mendekam di penjara, kondisi psikologis sang anak tak lantas pulih. Ketiganya masih mengalami trauma mendalam. Terlebih, jika sang anak melihat sesuatu yang berhubungan dengan sang ayah.

“Sampai dia melihat mobil Alphard saja, padahal itu punya orang lain, dikira bapaknya. Bisa lari sampai, maaf, bisa terkencing-kencing itu. Artinya apa, kondisi jiwanya sudah terganggu,” lanjut Berta.

Kini, pihak korban hanya bisa berharap sang ayah mendapatkan hukuman setimpal. Jangan sampai sang ayah yang notabene memiliki banyak harta bertindak sesukanya melawan penegak hukum. Di sisi lain, pihak keluarga akan fokus ke pemulihan trauma istri terutama sang anak agar dapat kembali melanjutkan kehidupannya.(kcm)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved