Breaking News:

Mayat di Krueng Aceh Warga Samalanga

Mayat yang ditemukan mengapung di aliran Krueng Aceh, Jalan Tepi Kali, Gampong Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh

BANDA ACEH – Mayat yang ditemukan mengapung di aliran Krueng Aceh, Jalan Tepi Kali, Gampong Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Banda Aceh, Senin (20/1) pagi ternyata bernama Abrar (36), warga Gampong Tanjung Baru, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen.

 

Identitas mayat tersebut dipastikan setelah pihak keluarga mendatangi Instalasi Pemulasaran Jenazah RSUDZA Banda Aceh, menjelang dini hari sekitar pukul 23.45 WIB, Selasa (21/1) atau setelah 14 jam disemayamkan.

 

Seorang warga Gampong Tanjung Baru, Kecamatan Samalanga, Kabupaten Bireuen bernama Miswar (36) yang datang ke kamar jenazah memastikan mayat itu adalah anggota keluarganya setelah dilihat dari ciri‑ciri fisiknya. Pada dini hari itu juga jasad Abrar dibawa pulang oleh pihak keluarga.

 

Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Trisno Riyanto SH melalui Kapolsek Baiturrahman, AKP Irwan SSos mengutip keterangan keluarga mengatakan, selama ini korban memiliki riwayat penyakit kejiwaan dan sudah setahun lebih terlihat berkeliaran di Simpang Jambo Tape dan Simpang Surabaya, Banda Aceh.

 

Berdasarkan pengecekan tim medis RSU Zainoel Abidin tidak ditemukan tanda‑tanda kekerasan di tubuh korban.

 

Seperti diberitakan, sesosok mayat laki‑laki diperkirakan berusia 35 tahun mengenakan baju kaos lengan panjang dan celana ponggol (celana pendek) ditemukan mengapung di aliran Krueng Aceh, Jalan Tepi Kali, kawasan Gampong Peuniti, Kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Senin (20/1) pagi sekitar pukul  09.30 WIB.  Beberapa saat setelah ditemukan, mayat tanpa identitas itu langsung dievakuasi ke RSUDZA Banda Aceh.

 

Berdasarkan foto‑foto maupun rekaman video yang menyebar di media sosial, terlihat kondisi mayat ketika diangkat dari sungai oleh polisi dan relawan PMI masih utuh sehingga secara kasatmata mengindikasikan pria itu belum lama meninggal.

 

Mayat tersebut ditemukan dalam posisi telengkup di aliran sungai dan tertahan oleh potongan‑potongan dahan kayu. Mayat pria yang diperkirakan berumur 35 tahun itu terlihat pertama sekali oleh warga Gampong Peuniti bernama Dimas Agesta (20) yang waktu itu ingin mengangkat jaring kepiting yang dipasang pada malamnya di sekitar lokasi mayat ditemukan yang tak jauh dari Jembatan Pante Pirak.

 

Sebelum akhirnya dijemput oleh pihak keluarga pada Selasa (21/1) dini hari, identitas mayat tidak diketahui. Padahal, kata Kapolsek Baiturrahman, tim Identifikasi Satuan Reskrim Polresta Banda Aceh sudah menggunakan alat pemindai sidik jari bernama MAMBIS.

 

MAMBIS atau Mobile Automatic Multi Biometric Identification System merupakan sebuah alat yang menyerupai mesin gesek kartu kredit. Alat tersebut seharusnya dapat mengidentifikasi data diri seseorang kurang dari satu menit, asalkan orang yang diambil sidik jarinya itu sudah terdaftar di elektronik KTP atau e‑KTP. Artinya, alat tersebut terintegrasi dengan basis data e‑KTP.

 

Identifikasi dengan MAMBIS hanya untuk mereka yang sudah punya e‑KTP. Untuk mereka yang belum pernah terdaftar di elektronik KTP atau e‑KTP, MAMBIS tidak dapat bekerja atau mengakses data seseorang.

 

“Kemungkinan mayat Mr X yang ditemukan di aliran Krueng Aceh belum pernah terdaftar di elektronik KTP atau e‑KTP,” kata Kapolresta Banda Aceh.(mir)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved