Breaking News:

Pemerintah Diminta Terbuka Soal Jebloknya Tes Covid-19

Anggota Komisi IX DPR Alifudin meminta pemerintah menggencarkan testing dan tracing Covid-19 menjelang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat ...

Editor: Muliadi Gani
Shutterstock
Ilustrasi alat tes deteksi virus corona, tes covid-19 

PROHABA.CO, JAKARTA - Anggota Komisi IX DPR Alifudin meminta pemerintah menggencarkan testing dan tracing Covid-19 menjelang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 yang berakhir pada Minggu (25/7).

Hal tersebut disampaikannya untuk merespons fenomena tren kasus Covid-19 menurun yang justru dikarenakan testing atau pemeriksaan spesimen dikurangi.

"Pemerintah jangan malah tidak gencar karena menuju pelonggaran 26 Juli nanti.

Eloknya, pemerintah gencar juga melakukan testing kepada masyarakat agar semua benarbenar mengetahui berapa banyak yang positif," kata Alifudin, Kamis (22/7).

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu meminta pemerintah terbuka kepada publik terkait data Covid-19.

Ia mengaku heran jika pemerintah melakukan pengurangan testing oleh karena ingin melonggarkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Level 4 pada 26 Juli.

"Harus terbuka ke publik, apalagi naudzubillah jika ada manipulasi data dengan cara testing yang dikurangi, dan terlihat kurvanya semakin menurun karena testing-nya juga dikurangi.

Baca juga: Viral! Relawan Pasien Covid-19 Joget Dekat Lubang Pemakaman, Begini Penjelasan Polisi

Baca juga: Indonesia Peringkat Pertama Kasus Harian Covid-19 Tertinggi di Dunia, Stop Penerbangan ke Indonesia

Maka dari itu, proses transparansi data ke publik harus benar-benar dilakukan," kata dia.

Alifudin berpendapat, pemerintah semestinya konsisten untuk melakukan program 3T yaitu testing, tracing, dan treatment. Sebab, hal itu merupakan upaya penanganan pandemi Covid-19.

Terkait enggannya masyarakat untuk testing, pemerintah diminta lebih digencarkan dengan cara pendekatan persuasif serta sosialisasi ke masyarakat bahwa testing diperlukan dan baik adanya.

"Karena banyak kejadian masyarakat yang memiliki gejala Covid-19, namun takut untuk ditesting karena kekhawatiran dan lain sebagainya," tutur dia.

Di sisi lain, tambah Alifudin, testing berbayar juga masih membuat masyarakat terlalu berat untuk beban pembiayaannya.

Oleh karena itu, dia meminta pemerintah menjalankan kebijakan terkait penetapan harga maksimal untuk rapid test antigen dan tes swab PCR agar lebih murah.

"Khawatir masyarakat yang tidak punya uang untuk testing Covid-19 akhirnya tidak diketahui positif atau negatifnya," kata Alifudin.(kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved