Breaking News:

Virus Corona

WHO: Pandemi Bisa Berlanjut hingga 2022,Vaksin Covid-19 Berpusat di Negara Kaya

Dr Aylward mengimbau negara-negara kaya untuk mundur dalam antrian vaksin agar produsen bisa memprioritaskan negara berpenghasilan rendah.

Editor: IKL
Christopher Black / World Health Organization / AFP
Tedros Adhanom Ghebreyesus saat rapat di kantor WHO di Genewa Swiss pada 5 Oktober 2020 

Kelompok amal juga mengkritik Kanada dan Inggris karena pengadaan vaksin untuk populasi mereka sendiri melalui Covax, program global yang didukung PBB untuk mendistribusikan vaksin secara adil.

Program Covax bertujuan untuk mendistribusikan vaksin Covid-19 secara merata dalam lingkup global.

Namun sebagian negara G7 memiliki kesepakatan pribadi dengan para perusahaan farmasi.

Penasihat Kesehatan Global Oxfam, Rohit Malpani, mengakui bahwa Kanada dan Inggris secara teknis berhak mendapatkan vaksin melalui Covax setelah membayar dalam mekanisme ini.

Namun secara moral tidak bisa diterima lantaran kedua negara ini sudah mendapat jutaan dosis vaksin melalui perjanjian pribadinya.

"Mereka seharusnya tidak mendapatkan dosis ini dari Covax," katanya.

"Tidak ada yang lebih baik dari double-dipping dan berarti negara-negara miskin yang sudah berada di belakang antrian, akan menunggu lebih lama."

Pemerintah Inggris menunjukkan bahwa pihaknya adalah salah satu negara yang "memulai" Covax tahun lalu dengan sumbangan sebesar £548 juta.

Sementara itu pemerintah Kanada berusaha menekankan bahwa mereka telah berhenti menggunakan vaksin Covax.

Update Covid-19 Global

Ilustrasi Coronavirus.  (CNN)
Ilustrasi Coronavirus. (CNN) (istimewa)
Halaman
123
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved