Kamis, 16 April 2026

Luar Negeri

Presiden Terlama di Dunia Bersiap Perpanjang 43 Tahun Masa Jabatan

Presiden terlama di dunia yakni Presiden Guinea- Ekuatorial, Teodoro Obiang bersiap memperpanjang masa jabatan setelah yakin bakal menang dalam ...

Editor: Muliadi Gani
AFP/ZINYANGE AUNTONY
Presiden Guinea-Ekuatorial Teodoro Obiang Nguema Mbasogo saat berpidato dalam seremoni perpisahan mantan Presiden Zimbabwe Robert Mugabe yang meninggal, di National Sports Stadium, Harare, 14 September 2019. Teodoro Obiang Nguema Mbasogo adalah presiden terlama di dunia yang masih menjabat, dengan masa kekuasaan 43 tahun. 

PROHABA.CO, DAKAR – Presiden terlama di dunia yakni Presiden Guinea- Ekuatorial, Teodoro Obiang bersiap memperpanjang masa jabatan setelah yakin bakal menang dalam pemilihan presiden (pilpres) tahun ini.

Pemungutan suara Pilpres Guinea-Ekuatorial telah diadakan pada hari Minggu (20/11/2022).

“Apa yang Anda tabur adalah apa yang Anda tuai,” kata Obiang.

43 Tahun berkuasa Obiang kini berusia 80 tahun.

Dia telah secara rutin memenangkan lebih dari 90 persen suara dalam pilpres selama lima periode sebelumnya.

Obiang pertama kali menjabat Presiden Guinea-Ekuatorial pada 1979 setelah merebut kekuasaan dari pamannya dalam kudeta.

“Saya yakin, kemenangan PDGE,” ujar dia, merujuk pada partainya, sebagaimana dikutip dari Reuters.

Dua kandidat oposisi mencalonkan diri dalam Pilpres Guinea-Ekuatorial melawan Obiang.

Baca juga: Pertemuan Jokowi dengan Presiden FIFA di Istana Tak Libatkan PSSI, Ini Alasannya

Baca juga: Sara Duterte-Carpio Dilantik Jadi Wakil Presiden Filipina

Keduanya adalah Buenaventura Monsuy Asumu, yang telah mencalonkan diri dalam lima pemilihan sebelumnya dan Andrés Esono Ondo, tokoh oposisi yang mencalonkan diri untuk pertama kalinya.

“Ini penipuan total,” kata Esono Ondo kepada Reuters melalui telepon.

Dia mengatakan partainya akan menantang hasil Pilpres Guinea-Ekuatorial yang menyatakan Obiang menang di pengadilan.

Dia mengatakan pemungutan suara yang adil memang terjadi di ibu kota Guinea-Ekuatorial, Malabo.

Namun, partainya memiliki bukti bahwa pejabat di tempat lain memberikan suara atas nama pemilih atau memaksa mereka untuk memilih partai yang berkuasa.

Pemerintah dan pejabat direktorat pemilu Guinea- Ekuatorial tidak dapat dihubungi untuk dimintai komentar.

Maja Bovcon, seorang analis senior Afrika di perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, menyebut hasil Pemilu Guinea-Ekuatoria tidak diragukan lagi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved