Perang Hamas Israel
28 Bayi Prematur di RS Al-Shifa Gaza Dievakuasi ke Mesir
Bayi-bayi tersebut diangkut dari RS Al-Shifa ke RS Bersalin Al-Helal L-Emirati di Rafah, Gaza Selatan dan selanjutnya akan diberangkatkan ke Mesir.
Penulis: Luthfi Alfizra | Editor: Jamaluddin
"Semua bayi sedang berjuang melawan infeksi serius dan terus membutuhkan perawatan kesehatan," tambah juru bicara WHO tersebut.
PROHABA.CO, YERUSALEM - Sebanyak 28 bayi prematur sudh dievakuasi dari Rumah Sakit Al-Shifa, Jalur Gaza ke Mesir, pada Minggu (19/11/2023).
Bayi tersebut merupakan pasien di fasilitas medis terbesar di Gaza.
Beberapa bayi lain meninggal dunia setelah inkubator mereka berhenti bekerja karena kekurangan bahan bakar di RS Al-Shifa.
Dilansir dari Aljazeera, pada Minggu (19/11/2023), bayi-bayi tersebut diangkut dari RS Al-Shifa ke RS Bersalin Al-Helal L-Emirati di Rafah, Gaza Selatan.
Setelah kondisinya stabil, maka bayi-bayi tersebut dipindahkan lagi ke Mesir melalui perbatasan Rafah pada Senin (20/11/2023).
"Tiga bayi masih dirawat di RS Emirat dan terus menerima perawatan," kata seorang juru bicara WHO kepada kantor berita Reuters.
"Semua bayi sedang berjuang melawan infeksi serius dan terus membutuhkan perawatan kesehatan," tambah juru bicara WHO tersebut.
Baca juga: Pelukan Hangat Seorang Ibu yang Telah Tiada, Bayi Ditemukan Selamat di Bawah Reruntuhan Bangunan
Baca juga: Pringatan Rumah Sakit Al-Aqsa Gaza, Banyak Bayi dan Pasien Bisa Berakhir di Kuburan Massal
Untuk diketahui, militer Israel pekan lalu sudah merebut RS Al-Shifa untuk mencari apa yang mereka katakan sebagai jaringan terowongan Hamas dan pusat komando yang dibangun di bawah kompleks rumah sakit tersebut.
Tapi, semua pernyataan dan fitnah yang dibuat oleh Israel tersebut dibantah oleh pasukan perjuangan Hamas.
Penyerangan yang dilakukan Israel terhadap RS Al-Shifa menyebabkan ratusan pasien, staf medis, dan pengungsi harus meninggalkan Al-Shifa dan pindah ke Jalur Gaza Selatan.
Sejak para dokter di RS Al-Shifa memberikan peringatan mengenai situasi di rumah sakit untuk bayi prematur dan kurangnya air bersih serta obat-obatan di bangsal neonatal, sebanyak delapan bayi meninggal.
Hal itu disampaikan pejabat rumah sakit setempat. (Penulis adalah mahasiswa internship dari Universitas Teuku Umar, Meulaboh)
Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/Bayi-Prematur-Al-Shifa.jpg)