Senin, 4 Mei 2026

Pengolahan Sampah Kelapa

Dari Sampah Kelapa ke Aksi Iklim, PT Solusi Bangun Andalas Raih PROPER Hijau 2025 

Program berbasis ekonomi sirkular yang dijalankan bersama dengan komunitas Bank Sampah Generasi Milenial

Tayang: | Diperbarui:
Editor: Misran Asri
Foto Humas PT SBA/HO
TERIMA PROPER HIJAU - Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, Asruddin (kiri) bersama Direktur Operasi, Edi Sarwono (kanan), menerima 3 PROPER Hijau 2025 untuk Pabrik Lhoknga, Pabrik Cilacap dan Pabrik Tuban dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa (7/4/2026). 

Ringkasan Berita:
  • PT Solusi Bangun Andalas berhasil mengolah sampah kelapa hingga 60 ton per bulan di kawasan pesisir Lhoknga, Aceh Besar melalui program Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera (Sakeladera)
  • Program berbasis ekonomi sirkular yang dijalankan bersama dengan komunitas Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil)
  • Program itu mengantar PT Solusi Bangun Andalas meraih penghargaan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia

 

PROHABA.CO, ACEH BESAR – PT Solusi Bangun Andalas berhasil mengolah sampah kelapa hingga 60 ton per bulan di kawasan pesisir Lhoknga, Aceh Besar, melalui program Sampah Kelapa untuk Desa Sejahtera (Sakeladera). 

Program berbasis ekonomi sirkular yang dijalankan bersama dengan komunitas Bank Sampah Generasi Milenial (Basagemil) ini, mengantar Perusahaan meraih penghargaan PROPER Hijau 2025 dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. 

PROPER atau Program Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan dalam Pengelolaan Lingkungan Penghargaan yang dianugerahkan kepada PT Solusi Bangun Andalas, menandakan kinerja pengelolaan lingkungan yang dijalankan oleh Perusahaan telah melampaui kepatuhan (beyond compliance), termasuk efisiensi energi, pengurangan emisi, serta pemberdayaan masyarakat.

Direktur PT Solusi Bangun Andalas, Edi Sarwono, menggaris bawahi bahwa capaian ini merupakan hasil sinergi antara inovasi operasi dan pemberdayaan komunitas. 

“PROPER Hijau ini menjadi bukti bahwa keberlanjutan harus dibangun secara menyeluruh, mulai dari pengelolaan energi dan penurunan emisi di pabrik, hingga bagaimana kami tumbuh bersama masyarakat.

RAIH PROPER HIJAU DARI KEMENTERIAN LINGKUNGAN HIDUP
RAIH PROPER HIJAU - General Manager PT Solusi Bangun Andalas, R. Adi Santosa menerima PROPER Hijau 2025 untuk PT Solusi Bangun Andalas dari Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia di Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, Selasa (7/4/2026).(Foto Humas PT SBA/HO)

Ini adalah komitmen kami untuk menghadirkan solusi yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat nyata,” ujar Edi Sarwono.

Sebelum Program Sakeladera dijalankan, sampah kelapa di wilayah pesisir sebagian besar dibakar atau dibiarkan membusuk, yang berkontribusi terhadap emisi karbon hingga 34,8 ton CO₂ per bulan. 

Di sisi lain, peternak setempat menghadapi tingginya biaya pakan yang mencapai Rp48 juta per bulan akibat ketergantungan pada pasokan dari luar daerah.

Melalui program Sakeladera, sampah kelapa diolah menjadi cocopeat (serbuk halus dari sabut kelapa) sebagai alternatif campuran pakan ternak. 

Inovasi ini mampu menekan biaya pakan hingga 60 persen atau sekitar Rp28,2 juta per bulan, sekaligus mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah. 

Produk cocopeat juga telah lulus uji laboratorium Balai Riset dan Standardisasi Industri terkait kandungan kalsium dan protein.

Dalam implementasinya, Solusi Bangun Andalas memberikan dukungan berupa pendampingan secara berkelanjutan, penyediaan sarana produksi, serta penguatan kelembagaan masyarakat, sehingga mampu membangun ekosistem usaha yang mandiri dan berkelanjutan. 

UPAYA MENURUNKAN EMISI
LIBATKAN MASAYARAKAT - Solusi Bangun Andalas libatkan masyarakat dalam pengelolaan limbah kelapa menjadi pakan ternak, sekaligus mengurangi timbulan sampah dan menurunkan emisi.(Foto Humas PT SBA/HO)

Operasional program ini pun telah menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan dengan rasio Social Return on Investment (SROI) sebesar 2,5. Artinya, setiap Rp1 investasi, menghasilkan Rp2,5 manfaat bagi masyarakat.

Kini, timbulan sampah kelapa telah mengalami penurunan menjadi 20–24 ton per bulan. Muhammad Ikhsan, salah satu warga penerima manfaat program, menyampaikan bahwa perubahan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved