Breaking News:

Efek Vaksin pada Wanita Lebih Buruk Dibanding Pria

Menurut studi yang dilakukan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, perempuan lebih banyak melaporkan efek samping vaksin Covid-19 ...

Efek Vaksin pada Wanita Lebih Buruk Dibanding Pria
FOTO: KOMPAS.COM
Presiden Joko Widodo meninjau vaksinasi massal terhadap seniman dan budayawan Yogyakarta, Rabu (10/3/2021).

PROHABA.CO - Menurut studi yang dilakukan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, perempuan lebih banyak melaporkan efek samping vaksin Covid-19 dibanding laki-laki.

Hampir 7.000 orang melaporkan efek samping seusai menjalani vaksin Covid-19 ke CDC, termasuk gejala sakit kepala, kelelahan, dan pusing.

Dari jumlah tersebut, 80 persen yang melaporkan efek samping adalah perempuan.

Survei yang dilakukan bulan Februari oleh para peneliti CDC itu menganalisis data keamanan pada lebih dari 13 juta penerima vaksin virus corona dosis pertama yang diberikan kepada orang AS sejak 13 Januari 2021.

Dilansir Business Insider, selama sebulan total ada 13.794.904 vaksin Covid-19 yang diberikan kepada orang Amerika.

Jumlah wanita yang mendapat vaksin tercatat 8.436.863 atau 61,2 persen.

Shelly Kendeffy, teknisi medis di State College Pennsylvania yang menerima vaksin Moderna Covid-19 mengatakan kepada The New York Times, seusai diberi vaksin bahwa dia merasa baik-baik saja.

"Akan tetapi, pada sore hari gigi saya gemetar, saya berkeringat basah kuyup, dan menggigil di malam hari," ujar Kendeffy dilansir New York Times, Senin lalu.

Keesokan harinya Kendeffy menanyai teman-teman kantornya, delapan pria dan tujuh wanita tentang pengalaman vaksin mereka.

Enam teman perempuannya mengaku mengalami nyeri tubuh, menggigil, dan kelelahan.

Baca juga: Sebut Indonesia Beruntung, Jokowi Targetkan Vaksinasi Covid-19 Selesai Akhir Tahun

Sedangkan satu temannya yang lain mengaku tidak mengalami gejala flu, tapi dia muntah sepanjang malam.

Sementara, kedelapan teman prianya mengaku merasakan efek samping sangat berbeda.

Satu orang mengalami nyeri lengan ringan dan pusing.

Dua orang mengaku kelelahan dan sedikit sakit. Satu orang merasa sakit kepala.

Empat lainnya tidak memiliki gejala sama sekali.

Riset respons vaksin

Perbedaan efek samping vaksin yang dialami Kendeffy dengan koleganya dirasakan banyak orang di seluruh dunia.

Sabra Klein, seorang ahli mikrobiologi dan imunologi di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health mengaku tidak terkejut dengan temuan ini.

"Perbedaan efek samping vaksin berdasarkan jenis kelamin sepenuhnya konsisten dengan laporan pada masa lalu dari vaksin lain," kata Klein dilansir The Times.

Pada tahun 2013, sebuah studi yang dilakukan para ilmuwan mengungkapkan bahwa wanita dewasa berisiko lebih tinggi terhadap reaksi vaksin pandemi flu 2009 dibandingkan pria.

Studi lain yang meneliti reaksi anafilaksis terhadap vaksin influenza antara tahun 1990 dan 2016 menunjukkan bahwa wanita bertanggung jawab atas sebagian besar efek samping yang merugikan.

Baca juga: Ada Empat Pertanyaan Belum Terjawab soal Vaksin Covid-19

Julianne Gee, petugas medis di Kantor Keamanan Imunisasi CDC mengatakan bahwa secara umum wanita memang memiliki lebih banyak reaksi terhadap berbagai vaksin dibanding pria.

"Ini termasuk vaksin influenza yang diberikan pada orang dewasa dan vaksin lain yang diberikan saat masih bayi seperti vaksin hepatitis B dan vaksin MMR untuk campak, gondok, dan rubella," kata Gee.

Penyebab berbeda

Berkaitan dengan apa yang menyebabkan perbedaan ini, ahli imunologi di Universitas Toronto mengatakan faktor biologi berperan penting.

“Respons imun wanita berbeda dalam banyak hal, dari respons imun laki-laki,” kata Eleanor Fish, ahli imunologi di Universitas Toronto.

Penelitian telah menunjukkan bahwa perempuan menghasilkan lebih banyak–terkadang dua kali lebih banyak--antibodi pelawan infeksi sebagai respons terhadap vaksin untuk influenza, MMR, demam kuning, rabies, serta hepatitis A dan B.

"Perempuan sering meningkat tanggapan yang lebih kuat dari sistem kekebalan yang disebut sel T," kata Ms Gee. "Perbedaan ini sering kali lebih kuat di antara orang dewasa yang lebih muda yang menunjukkan efek biologis.

Mungkin terkait dengan hormon reproduksi," katanya.

Hormon seks, termasuk estrogen, progesteron, dan testosteron juga dapat mengikat permukaan sel kekebalan dan memengaruhi cara kerjanya.

Paparan estrogen menyebabkan sel kekebalan memproduksi lebih banyak antibodi sebagai respons terhadap vaksin flu, misalnya.

Perbedaan genetik antara pria dan wanita juga dapat memengaruhi kekebalan.

Baca juga: Varian Baru Virus Corona Berpeluang Muncul Lagi

Banyak gen yang berhubungan dengan kekebalan berada pada kromosom X, di mana wanita memiliki dua salinan dan pria hanya memiliki satu.

Secara historis, ahli imunologi percaya bahwa hanya satu kromosom X pada wanita yang dihidupkan dan yang lainnya tidak aktif.

Namun, penelitian sekarang menunjukkan bahwa 15 persen gen lolos dari inaktivasi ini dan lebih banyak diekspresikan pada wanita.

Respons imun yang kuat ini membantu menjelaskan mengapa 80 persen penyakit autoimun menimpa wanita.

“Wanita memiliki kekebalan yang lebih besar, apakah itu untuk diri kita sendiri, apakah itu untuk antigen vaksin, apakah itu untuk virus,” kata Dr Klein.

Meskipun wanita berisiko lebih tinggi terkena efek samping, Klein mengatakan wanita tidak perlu khawatir tentang kemungkinan efek samping dari vaksin.

"Anda meningkatkan respons kekebalan yang sangat kuat.

Sebagai hasilnya Anda kemungkinan akan terlindungi," katanya kepada The Times.  (kompas.com)

Editor: Muliadi Gani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved