Senin, 13 April 2026

Kongres Desak Biden Tunda Jual Senjata ke Israel

Fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Amerika Serikat mendesak Presiden Joe Biden menunda penjualan bom mutakhir senilai Rp 10,5 triliun ...

Editor: Muliadi Gani
FOTO: AP
Presiden Amerika Serikat, Joe Biden 

PROHABA.CO - Fraksi Partai Demokrat di Dewan Perwakilan Amerika Serikat mendesak Presiden Joe Biden menunda penjualan bom mutakhir senilai Rp 10,5 triliun kepada Israel.

Dilansir Middle East Eye yang mengutip The Hill, Rabu (19/5/2021), fraksi Demokrat menggelar rapat virtual membahas rencana penjualan senjata itu.

Menurut Ketua Komisi Hubungan Luar Negeri DPR AS, Gregory Meeks, dia tidak menyadari rencana penjualan senjata canggih itu dan akan mengirim surat kepada Gedung Putih untuk mengajukan penundaan.

Menurut salah satu anggota komisi dari Partai Demokrat, Ilhan Omar, jika rencana penjualan senjata itu dilanjutkan, maka pemerintahan Biden dinilai tidak peka terhadap situasi kekerasan yang saat ini terjadi terhadap warga sipil di Israel dan Palestina.

"Amerika Serikat tidak boleh diam saja melihat kejahatan kemanusiaan yang dilakukan dengan bantuan kita," kata Omar.

Anggota fraksi Demokrat lainnya, Alexandra Ocasio-Cortez, mengatakan dalam rapat itu Israel adalah negara apartheid, karena perlakuan buruk terhadap rakyat Palestina.

"Presiden dan sejumlah tokoh pada pekan ini mengatakan Israel berhak mempertahankan diri.

Baca juga: Israel Miliki Kubah Besi Penangkal Roket

Namun, apakah rakyat Palestina punya hak untuk hidup? Apakah kita meyakini hal itu? Jika iya, maka kita harus bertanggung jawab terhadap hal itu," kata Cortez.

Sedangkan Senator dari fraksi Demokrat, Bernie Sanders, mendesak pemerintahan Biden kembali mempertimbangkan kucuran bantuan militer bagi Israel yang nilainya mencapai US$3.8 miliar (sekitar Rp 54,3 triliun) dan diberikan setiap tahun.

Senjata canggih yang akan dijual AS adalah jenis Amunisi Serang Langsung Gabungan (JDAM) buatan Boeing.

Perangkat itu bisa mengubah bom yang mulanya tidak berpemandu yang diluncurkan dari pesawat tempur atau pesawat pembom ringan menjadi bisa dikendalikan dengan menggunakan Alat Pemandu Global (GPS).

Nantinya perangkat itu bisa mengendalikan sirip yang berada bagian ekor bom untuk mencapai sasaran dengan tepat.

Jika meleset pun selisih jarak dari target maksimal hanya sejauh satu sampai dua meter.

Sampai saat ini jumlah warga Jalur Gaza, Palestina yang tewas akibat serangan udara Israel mencapai 217 jiwa, termasuk 63 anak-anak dan 36 perempuan.

Baca juga: Akibat Kasus Alat Antigen Bekas di Kualanamu, Menteri Erick Thohir Pecat Seluruh Jajaran Direksi KFD

Selain itu korban luka mencapai lebih dari 1.500 orang.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved