Fenomena Langka, Astronom Temukan Tiga Galaksi Bergabung

ALAM semesta selalu memiliki kejutan yang unik. Salah satunya adalah fenomena langka bergabungnya tiga galaksi yang berhasil disaksikan astronom...

Editor: Muliadi Gani
ESA/HUBBLE & NASA, A. BELLINI
GALAKSI Spiral NGC 2008. Ilmuwan melacak asal pancaran radio di luar angkasa menggunakan Teleskop Luar Angkasa Hubble, yang ternyata berasal dari galaksi spiral. Galaksi spiral adalah galaksi umum yang ada di alam semesta, salah satunyaGalaksi Bima Sakti 

PROHABA.CO - ALAM semesta selalu memiliki kejutan yang unik.

Salah satunya adalah fenomena langka bergabungnya tiga galaksi yang berhasil disaksikan astronom.

Belum lama ini, sebuah studi menemukan tujuh contoh terpisah, dari tiga galaksi yang bertabrakan satu sama lain.

Sebuah tim astronom yang dipimpin oleh Jonathan Williams dari University of Maryland, Amerika Serikat, telah menemukan klaster penggabungan tiga galaksi, dilansir dari Phys, Rabu (16/6/2021).

Namun, astronom memperkirakan salah satunya berpotensi memiliki dua lubang hitam supermasif yang aktif.

Peristiwa ini memungkinkan para astronom mengintip lebih dalam dari dinamika sistem dua objek paling ekstrem di alam semesta ini.

Untuk menemukan keunikan dari sistem ini, Williams melihat dan menganalisis data dari teleskop Very Large Array, European Southern Observatory, WM Keck Observatory, Chandra X-ray Observatory, dan Atacama Large Millimeter / Submillimeter Array.

Setelah memeriksa data tersebut, ia menemukan sistem di sepetak langit yang sangat terang sekitar 800 juta tahun cahaya jauhnya.

Baca juga: NASA Temukan Miliaran Galaksi Tersembunyi di Alam Semesta

Ketiga galaksi berbeda satu sama lain dalam berbagai cara.

Satu galaksi dikenal sebagai tipe Seyfert cakram berputar besar yang diketahui memiliki lubang hitam supermasif di pusatnya.

Galaksi cincin langka, R5519 mungkin tercipta selama tabrakan besar dan dahsyat antara dua galaksi di alam semesta.

Galaksi lain dikenal sebagai ‘wilayah garis emisi nuklir ionisasi rendah’, atau galaksi LINER, yang beberapa ilmuwan juga berspekulasi bahwa galaksi ini memiliki lubang hitam supermasif di pusatnya, tetapi ini belum terbukti secara tak terbantahkan.

Sedangkan galaksi lainnya, merupakan galaksi kerdil, tetapi memiliki lubang hitam supermasif aktif.

Galaksi ini meninggalkan jejak debu di belakangnya dan tampak berjalan tegak lurus ke Bumi.

Kombinasi faktor-faktor ini memungkinkan data tentang karakteristik fisik dari penggabungan galaksi yang seharusnya tidak terdeteksi.

Kendati demikian, dengan kekayaan data ini, masih ada beberapa hal yang membingungkan, baik galaksi Seyfert dan LINER tidak bertindak murni sesuai dengan harapan kedua jenis galaksi ini.

Diakui Williams bahwa diperlukan lebih banyak data dan studi untuk mendapat pemahaman fisika yang lebih baik tentang proses yang terjadi dalam peristiwa penggabungan galaksi ini.

Oleh sebab itu, Williams berencana untuk mengumpulkan lebih banyak data tambahan menggunakan teleskop luar angkasa Hubble, agar dapat menjelaskan lebih banyak tentang galaksi di alam semesta ini. (kompas.com)

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved