AS Tetapkan Militer Myanmar Genosida Muslim Rohingya, Banyak Terdampar ke Aceh

Amerika Serikat pada Minggu (20/3/2022) menetapkan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh militer di Myanmar terhadap minoritas Rohingya merupakan ...

Editor: Muliadi Gani
ANTARA FOTO/RAHMAD
Sejumlah pengungsi etnis Rohingya berjalan menuju bus saat proses evakuasi di Pelabuhan ASEAN, Krueng Geukuh, Aceh Utara, Aceh, Jumat (31/12/2021). Pemerintah Indonesia melalui Satgas Penanganan Pengungsi Luar Negeri (PPLN) mempertimbangkan keadaan darurat dan sisi kemanusiaan sehingga memutuskan untuk menyelamatkan 120 orang etnis Rohingya terdiri dari 7 laki-laki, 62 perempuan dan 51 anak-anak yang terdampar di perairan laut Aceh pada Sabtu (25/12/2021). 

PROHABA.CO, WASHINGTON DC - Amerika Serikat pada Minggu (20/3/2022) menetapkan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh militer di Myanmar terhadap minoritas Rohingya merupakan genosida dan kejahatan terhadap kemanusiaan.

Ratusan ribu muslim Ro-hingya melarikan diri dari Myanmar yang mayoritas beragama Buddha sejak 2017, setelah tindakan keras militer yang sekarang menjadi subjek kasus genosida di Pengadilan Tertinggi PBB di Den Haag, Belanda.

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken akan secara resmi mengumumkan penetapan tersebut dalam sambutannya saat kunjungan ke Museum Holocaust di Washington, Senin (21/3/2022), menurut laporan AFP.

Museum itu menggelar pameran berjudul “Jalan Burma Menuju Genosida” menggunakan nama lama Myanmar.

Baca juga: Pemerintah Bakal Tampung Pengungsi Rohingya di Aceh

Sebelumnya, Blinken dalam kunjungan ke Malaysia pada Desember 2021 berujar, Amerika Serikat sangat aktif menelusuri apakah perlakuan terhadap Rohingya mungkin merupakan genosida.

Sekitar 850.000 orang Rohingya mendekam di kamp-kamp di negara tetangga Banglades, sementara 600.000 anggota masyarakat lainnya tetap berada di negara bagian Rakhine di barat daya Myanmar.

Dari Banglades banyak pula di antara migran itu menuju Malaysia atau Australia, tapi boat-boat kayu yang mengangkut mereka sudah puluhan kali terdampar ke perairan Aceh.

Baca juga: Atas Nama Kemanusiaan, Pemerintah Bakal Tampung Pengungsi Rohingya di Aceh

Bahkan saat ini pun masih ada migran Rohingya yang ditampung sementara di wilayah Bireuen dan Kota Lhokseumawe.

Kasus yang dibuka terhadap Myanmar di Mahkamah Internasional pada 2019 diperumit oleh kudeta militer tahun lalu yang menggulingkan Aung San Suu Kyi dan pemerintah sipilnya, kemudian memicu protes massal dari warga sipil dan tindakan keras berdarah oleh aparat keamanan.

Aung San Suu Kyi yang merupakan peraih Nobel Perdamaian menghadapi kritik dari kelompok-kelompok hak asasi manusia atas keterlibatannya dalam kasus Rohingya.

Ia sekarang berada di bawah tahanan rumah dan diadili oleh jenderal yang dia bela di Den Haag. (Kompas.com)

Baca juga: KRI Parang-647 TNI AL Tarik Kapal Pengungsi Rohingya ke Pelabuhan Kruengkeukuh Lhokseumawe

Baca juga: Pengungsi Wanita Ukraina Jadi Pelacur Setiba di Israel, Diotaki Jaringan Kriminal Yahudi

Baca juga: Pengungsi Afghanistan Bakar Diri di Depan Kantor UNHCR

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved