Sabtu, 6 Juni 2026

Terganggu Aktivitas Perusahaan Tambang, Murid SD Tutup Jalan

Sejumlah siswa SD (sekolah dasar) di Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara menutup akses jalan milik perusahaan tambang menggunakan kursi dan meja

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
Dokumen TribunnewsSultra.com
Sejumlah siswa SD (sekolah dasar) di Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara menutup akses jalan milik perusahaan tambang menggunakan kursi dan meja. Aksi protes siswa SD ini terjdi di Puusuli, Kecamatan Andowia, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Selasa (31/5/2022). 

PROHABA.CO, KENDARI - Sejumlah siswa SD (sekolah dasar) di Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara menutup akses jalan milik perusahaan tambang menggunakan kursi dan meja.

Aksi protes dilakkukan para siswa SD di Puusuli, Kecamatan Andowia, Selasa (31/5).

Para murid menutup akses jalan milik perusahaan tambang di wilayah tersebut karena merasa terganggu dengan aktivitas pertambangan yang beroperasi tak jauh dari sekolah mereka.

Selain itu, penutupan jalan oleh puluhan murid dan masyarakat karena mereka resah jalan di pemukiman mereka rusak karena dilalui kendaraan operasional tambang tersebut.

Berdasarkan foto yang diterima TribunnewsSultra,com, terlihat para murid masih mengenakan baju sekolah saat menutup jalan di area pertambangan tersebut.

Baca juga: KPK Telusuri Aset Briptu HSB yang Punya Tambang Emas Ilegal

Sementara, beberapa kendaraan operasional tambang sempat terhenti karena aksi para murid SD tersebut.

Salah seorang warga di Desa Puusuli, mengatakan, aksi protes para murid sekolah dasar karena mereka terganggu dengan aktivitas pertambangan saat proses belajar mengajar berlangsung.

Selain itu, mobil tambang juga merusak jalan menuju sekolah mereka hingga terkadang menghambat para murid yang berangkat ke sekolah.

"Mereka terganggu dengan jalan yang dilalui mobil tambang.

Karena jalannya perusahaan tambang tepat berada di depan sekolah mereka," kata warga, Rabu (1/6).

Ia juga mneyebut mobil yang lalu lalang di depan sekolah sangat bising sehingga murid kesulitan konsentrasi.

Baca juga: Lagi, Israel Tembak Mati Jurnalis Perempuan Palestina di Tepi Barat

Selain itu warga menyebut sumber mata air masyarakat juga berdampak dengan aktivitas tambang.

Sehingga akses air bersih kini susah didapatkan masyarakat setempat.

"Akibat pertambangan ini, sumber mata air di desa kami keruh dan berlumpur karena galian material di perusaaan tambang," ujar warga.

Ia mengatakan pihak perusahaan tak mau mendengar kelurhan warga sehingga meteka meminta pemerintah mengatasi masalah tersebut.

Untuk itu, warga setempat meminta pemerintah bisa mengatasi masalah ini bahkan menindak pihak perusahaan tambang yang tak mau mendengar keluhan warga.

(kompas.com)

Baca juga: Jadi Bos Tambang Emas Ilegal, Briptu H Ditangkap di Bandara

Baca juga: IRT Ketagihan Brondong, Kelabakan Digerebek Suami

Baca juga: Hari Ke-5, Nelayan Tenggelam di Singkil Belum Juga Ditemukan

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved