Minggu, 14 Juni 2026

Tahukah Anda

Gelombang Panas Bisakah Terjadi di Indonesia?

Fenomena alam gelombang panas sudah dilaporkan terjadi di berbagai negara di dunia dan berdampak buruk bagi kehidupan manusia ...

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
PHOTO CREDIT: REUTERS
Seorang perempuan menggunakan kipas angin portabel ketika gelombang panas menghantan Kota London, Inggris pada 19 Juli kemarin. 

PROHABA.CO - Fenomena alam gelombang panas sudah dilaporkan terjadi di berbagai negara di dunia dan berdampak buruk bagi kehidupan manusia.

Di Eropa, tepatnya Portugal, gelombang panas dalam sebulan terakhir telah menyebabkan kematian lebih dari 1.000 orang akibat dehidrasi.

Lalu, apakah gelombang panas ini juga bisa terjadi di Indonesia?

Gelombang panas adalah periode cuaca panas yang tidak umum, yang biasanya berlangsung selama dua hari atau lebih.

Untuk dianggap sebagai gelombang panas, suhu harus berada di luar rata-rata historis untuk area tertentu.

Koordinator Subbidang Informasi Gas Rumah Kaca Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofi sika (BMKG), Alberth Nahas mengatakan, dari defi nisi dan klasifikasi yang ada saat ini Indonesia tidak pernah mengalami fenomena gelombang panas.

“Gelombang panas itu kalau temperatur udara di suatu lokasi itu di atas 35 derajat Celsius selama 3-5 hari berturut-turut.

Kebetulan kalau di Indonesia secara umum belum pernah terjadi,” kata Alberth dalam diskusi Bicara Udara Journalist Class, Selasa (19/7/2022).

Baca juga: Gelombang Panas Terjang Cina, Genteng Meleleh dan Jalan Retak

Alberth menjelaskan, Indonesia sendiri belum pernah mengalami fenomena gelombang panas ini karena letak geografi snya yang dikelilingi oleh lautan.

“Jadi, salah satu komponen yang bisa mengurangi gelombang panas adalah komponen uap air,” kata dia.

Gelombang panas, umumnya terjadi berkaitan dengan berkembangnya pola cuaca sistem tekanan atmosfer tinggi di suatu area secara persisten dalam beberapa hari.

Dalam sistem tekanan tinggi tersebut, terjadi pergerakan udara dari atmosfer bagian atas menuju permukaan (subsidensi) sehingga termampatkan dan suhunya meningkat.

Pusat tekanan atmosfer tinggi ini menyulitkan aliran udara dari daerah lain masuk ke area tersebut.

Semakin lama sistem tekanan tinggi ini berkembang di suatu area, semakin meningkat panas di area tersebut, dan semakin sulit awan tumbuh di wilayah tersebut.

Alberth menambahkan, dengan letak geografi s Indonesia yang dikelilingi lautan ini, membuat wilayah Indonesia selalu dalam kategori kondisi lembab.

Oleh karenanya, fenomena gelombang panas ini belum pernah terjadi di Indonesia.

Baca juga: Krisis Iklim Makin Mengkhawatirkan, Kenali 6 Penyebab Pemanasan Global

Seperti yang diketahui, air yang ada di permukaan Bumi memiliki jumlah yang tetap.

Pasalnya, air selalu bergerak dalam suatu lingkaran peredaran yang disebut siklus hidrologi atau siklus air.

Dilansir dari Sumber Belajar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, siklus hidrologi terjadi dengan dipengaruhi sinar matahari.

Matahari memanfaatkan energi panas permukaan bumi, kemudian terjadi penguapan air dari sungai, danau, rawa, dan laut.

Setelah uap air terbentuk, ini akan naik ke atas, ke tempat yang lebih tinggi dengan suhu udara semakin rendah sehingga uap air dapat mengalami proses kondensasi.

Proses kondensasi mengubah uap air menjadi kumpulan titik-titik air yang jatuh di permukaan Bumi sebagai hujan.

“Jadi, kita (di Indonesia) selalu lembab,” kata dia.

Selain itu, gelombang panas hanya terjadi pada wilayah yang terletak pada lintang menengah dan tinggi sehingga tidak mungkin terjadi di wilayah Indonesia yang terletak di wilayah ekuator, terutama daerah Eropa.

Baca juga: Perubahan Iklim Berpotensi Sebabkan Pandemi Berikutnya

“Di luar negeri biasanya kebanyakan lebih kering, ketika summer (musim panas) posisi matahari juga lebih naik, jadi potensi terjadinya heat wave (gelombang panas) juga besar,” tambahnya.

Dengan begitu, gelombang panas tidak akan pernah terjadi di Indonesia.

Fenomena panas yang bisa saja terjadi adalah panas ekstrem saja.

“Heat wave di Indonesia sampai saat ini tidak pernah terjadi.

Tapi, kalau panas ekstrem 1-2 hari bisa atau pernah terjadi.

Tapi, bukan heat wave,” tegasnya.

Alami gelombang panas Beberapa waktu belakangan ini, fenomena gelombang panas dilaporkan terjadi di beberapa negara seperti India, Cina, dan Portugal.

Gelombang panas menerjang sejumlah wilayah di barat laut India dan Pakistan, pada pekan lalu.

Suhu udara di negara ini bahkan pecahkan rekor terpanas.

Suhu udara di ibu kota India, New Delhi per Minggu (15/5/2022) bahkan mencatat rekor tertinggi yakni di atas 49 derajat Celsius.

Sementara di Pakistan, suhu terpanas mencapai 51 derajat Celcius.

Baca juga: Penyakit akibat Perubahan Iklim Bisa Rugikan Indonesia Rp 301 T

Gelombang panas India yang masih berlangsung hingga saat ini, menyebabkan jutaan penduduknya mengalami gagal panen, pemadaman air, serta pemadaman sumber listrik.

Selanjutnya, sejumlah kota di Cina, termasuk Shanghai, juga diterjang gelombang panas sejak beberapa waktu belakangan.

Akibat fenomena ini, setidaknya 86 kota mengeluarkan peringatan tertinggi.

Peringatan tersebut yakni berupa peringatan suhu lebih dari 40 derajat Celcius yang artinya proyek konstruksi dan pekerjaan luar ruangan harus dihentikan.

Akibat suhu tinggi di Cina, sejumlah jalan mengalami retak dan beberapa genteng bangunan sampai meleleh.

Sementara, Portugal melaporkan lebih dari 1.000 kematian akibat gelombang panas terjadi hingga Senin (18/7/2022).

Kepala Direktorat Jenderal Kesehatan Portugal (DGS) Graca Freitas mengatakan, negara tersebut harus bersiap mengatasi dampak perubahan iklim karena suhu terus meningkat.

“Portugal adalah salah satu wilayah di dunia yang semakin bisa terkena dampak panas ekstrem,” kata Freitas kepada Reuters.

Pekan lalu, Portugal dilanda kekeringan parah dan suhu udara mencapai 40 derajat Celsius, sebagaimana dilansir Reuters, Selasa (19/7/2022).

Selain ketiga negara tersebut, ada pula Inggris, Spanyol dan Prancis yang juga melaporkan terdampak fenomena gelombang panas ini.

(Kompas.com)

Baca juga: Bahan Kimia Baru Sangat Reaktif Ditemukan di Atmosfer Bumi

Baca juga: Sidang Perceraian Nathalie Holscher dan Sule, Mediasi Temui Jalan Buntu

Baca juga: Ini Daftar Lima Bek Termahal Sepanjang Masa

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved