Luar Negeri

Jerman Hukum Nenek 97 Tahun yang Terlibat 10.000 Pembunuhan, Pernah Jadi Sekretaris Kamp Nazi

Irmgard Furchner dituduh sebagai bagian dari aparat yang membantu kamp dekat Danzig, sekarang kota Gdansk di Polandia. Pengadilan negara bagian ...

Editor: Muliadi Gani
FOTO: BBC
Auschwitz-Birkenau adalah kamp Nazi terbesar di Polandia. 

PROHABA.CO, BERLIN - Seorang nenek yang dulu pernah bekerja sebagai sekretaris untuk seorang komandan di kamp konsentrasi Nazi dinyatakan bersalah terlibat kematian lebih dari 10.505 orang.

Irmgard Furchner, 97, ketika masih remaja bekerja sebagai tukang ketik di Stutthof dari tahun 1943 sampai 1945.

Pengadilan Jerman pada Selasa (20/12/2022) memvonis seorang wanita berusia 97 tahun karena terlibat dalam lebih dari 10.000 pembunuhan.

Dilansir dari The Hill, wanita ini berperan sebagai Sekretaris Komandan SS Kamp Konsentrasi Nazi di Stutthof selama Perang Dunia II.

Irmgard Furchner dituduh sebagai bagian dari aparat yang membantu kamp dekat Danzig, sekarang kota Gdansk di Polandia.

Pengadilan negara bagian Itzehoe di Jerman utara memberinya hukuman percobaan dua tahun karena membantu pembunuhan dalam 10.505 kasus dan membantu percobaan pembunuhan dalam lima kasus.

Baca juga: Babak Baru Perkara Pembunuhan Yosua: Daftar Pengakuan Bharada E di Sidang, Kuliti Tabiat Ferdy Sambo

Pengadilan mengatakan, para hakim yakin bahwa Furchner, melalui pekerjaannya sebagai juru steno di kantor komandan kamp konsentrasi Stutthof dari 1 Juni 1943 hingga 1 April 1945, dengan sengaja mendukung fakta bahwa 10.505 tahanan dibunuh dengan kejam oleh kondisi yang tidak bersahabat di dalam kamp.

Tahanan dikirim lewat transportasi ke kamp kematian Auschwitz di akhir perang.

"Promosi tindakan ini oleh terdakwa terjadi melalui penyelesaian dokumen di kantor komandan kamp," kata pernyataan pengadilan.

“Kegiatan ini diperlukan untuk pengorganisasian kamp dan pelaksanaan tindakan pembunuhan yang kejam dan sistematis,” tambahnya.

Putusan dan hukuman itu sesuai dengan tuntutan jaksa.

Pengacara pembela telah meminta klien mereka untuk dibebaskan dengan alasan bahwa bukti tidak menunjukkan dengan pasti bahwa Furchner tahu tentang pembunuhan sistematis di kamp tersebut, yang berarti tidak ada bukti niat yang diperlukan untuk pertanggungjawaban pidana.

Baca juga: Akhirnya, Kantor BPN Kota Subulussalam Jadi Definitif

Baca juga: Pelaku Pembunuhan Siswi SMA di Deli Serdang, Ternyata Pacar Korban

Dalam pernyataan penutupnya, Furchner mengatakan dia menyesal atas apa yang telah terjadi dan menyesal telah berada di Stutthof saat itu.

Furchner tampaknya mengikuti putusan dengan penuh perhatian, tetapi tidak menunjukkan emosi yang jelas.

Tidak segera jelas apakah dia akan mengajukan banding, meskipun pengacara Wolf Molkentin mengatakan tim pembela menganggap kasus tersebut menimbulkan keraguan yang tidak dapat diatasi mengenai kesalahannya.

Sejak pertengahan 1944, puluhan ribu orang Yahudi dari ghetto di Baltik dan dari Auschwitz memenuhi kamp, bersama dengan ribuan warga sipil Polandia yang tersapu dalam penindasan Nazi yang brutal atas pemberontakan Warsawa.

Orang lain yang dipenjarakan di sana termasuk tahanan politik, penjahat yang dituduh, orang yang dicurigai melakukan aktivitas homoseksual, dan saksi-saksi Yehuwa.

(Kompas.com)

Baca juga: Kendala Ekonomi, Seorang Ibu Rumah Tangga Ketahuan Mencuri Handphone

Baca juga: Rusia Klaim Tewaskan 100 Tentara Bayaran Asal Polandia dan Jerman di Kharkov.

Baca juga: Sejak Invasi Rusia Dimulai, Lebih Dari 2,8 Juta Orang Ukraina Pergi Ke Polandia

Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved