Selasa, 28 April 2026

Tahukah Anda

Populasi Cina Turun, Generasi Muda Tak Tertarik Punya Anak

Namun, kebanyakan orang muda di Negeri Panda tersebut mengatakan, mereka tidak punya rencana untuk memiliki anak karena berbagai alasan ...

Editor: Muliadi Gani
FOTO: AP
Foto ilustrasi keluarga dengan anak di Cina. Kini, semakin banyak generasi muda Cina yang tidak tertarik punya anak. 

PROHABA.CO - Pemerintah Cina kini menawarkan berbagai insentif bagi kaum muda untuk berkeluarga dan punya lebih banyak anak.

Namun, kebanyakan orang muda di Negeri Panda tersebut mengatakan, mereka tidak punya rencana untuk memiliki anak karena berbagai alasan.

Pekan lalu, Cina mencatat penurunan populasi untuk pertama kalinya dalam 60 tahun, dengan proyeksi jangka panjang menunjukkan kecenderungan penurunan selama 30 tahun ke depan.

Sebagai tanggapan, pemerintah meluncurkan berbagai langkah dalam upaya untuk meningkatkan angka kelahiran.

Termasuk menawarkan subsidi keuangan dan tunjangan lain untuk keluarga.

Namun, beberapa orang muda mengatakan kepada DW bahwa mereka memiliki pandangan pesimistik tentang masa depan.

Hal ini tercermin dari perubahan sikap mereka terhadap pernikahan dan keluarga.

"Kaum muda di Cina umumnya merasa masa depannya suram dan hidup akan penuh tekanan," kata Emma Li, perempuan berusia 25 tahun yang tinggal di Shanghai.

Baca juga: Covid-19 di Cina, 5.000 Orang Tewas Setiap Hari, Rumah Sakit Mulai Penuh

“Punya anak adalah sebuah pilihan yang akan menambah stres dalam hidup.

Banyak dari kita yang memutuskan untuk menjadi 'generasi terakhir' dalam keluarga kita."

Dia mengatakan, berita statistik tentang penurunan populasi tidak mengubah pandangannya tentang berkeluarga.

"Saya telah berdiskusi tentang pernikahan dan memiliki anak dengan banyak teman saya, dan banyak dari mereka tidak punya keinginan untuk mengikuti cara tradisional,” katanya kepada DW.

Apa yang menghalangi kaum muda berkeluarga?

Yang lain mengatakan, gaya hidup yang penuh tekanan dan tuntutan dalam kehidupan sehari-hari menghalangi mereka untuk memulai sebuah keluarga.

"Jam kerja yang panjang, pekerjaan yang tidak memuaskan, dan tekanan untuk bertahan hidup dengan upah rendah selama inflasi membuat kami tidak mungkin membesarkan anak," kata Cynthia Liu, perempuan berusia 27 tahun yang tinggal di Beijing.

Yun Zhou, pengamat Cina dan asisten profesor sosiologi di University of Michigan mengatakan kepada DW, lebih banyak perempuan muda di Cina yang lebih fokus pada pengejaran karier dan kehidupan pribadinya.

Baca juga: Populasi Dunia Capai 8 Miliar Jiwa, Adakah Risiko Serius di Baliknya?

"Diskriminasi gender di pasar tenaga kerja Cina dan harapan luar biasa sebagai ibu bagi perempuan adalah kendala yang menghalangi mereka untuk menikah atau punya anak," katanya.

Penguncian (lockdown) selama pandemi corona dan peningkatan kontrol dari pihak berwenang, juga berdampak signifikan pada pandangan masyarakat tentang masa depan.

"Penguncian berulang kali selama tiga tahun terakhir telah merugikan banyak orang, termasuk tabungan dan rasa aman mereka," kata Adam Wang, pria berusia 26 tahun yang tinggal di Tianjin.

"Pabrik dan perusahaan tidak dapat menawarkan tunjangan dasar bagi pekerjanya, sementara makin banyak orang bersaing untuk menjadi pegawai negeri karena tingkat pengangguran kaum muda mencapai titik tertinggi baru selama pandemi," ujarnya.

Setelah penguncian di kota-kota di seluruh Cina sejak 2020, jumlah warga antara usia 16 dan 24 yang menganggur naik menjadi 20 juta pada Desember 2022.

Angka dari Biro Statistik Nasional menunjukkan bahwa tingkat pengangguran kaum muda telah mencapai 19,9 persen pada Juli 2022.

Baca juga: Air di Rumah Dinas Mati, Kapolres Manggarai Barat Diduga Aniaya Anggota

Baca juga: Frustrasi Akibat Lockdown, Kasus Bunuh Diri di Cina Meningkat

Kurang berhasil

Terakhir kali populasi Cina mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya adalah pada tahun 1961, ketika terjadi kelaparan hebat.

Sekarang, PBB memproyeksikan populasi Cina akan terus menurun sampai tahun 2050.

Pemerintah telah meluncurkan serangkaian kebijakan untuk memberikan insentif kepada kaum muda agar memiliki lebih banyak anak.

Di beberapa kota, pemerintah menjanjikan subsidi untuk keluarga dengan tiga anak, sementara kota lain memberikan subsidi untuk mendorong warga membeli rumah dan mendorong orang berkeluarga.

"Kota-kota kaya seperti Shenzhen dan Jinan telah menawarkan insentif sampai 20.000 yuan (Rp44,13 juta) selama tiga tahun untuk keluarga yang punya tiga anak.

Tapi, saya piker, hanya orang yang memang ingin punya lebih banyak anak yang akan mencoba mendapatkan subsidi itu,” kata Cynthia Liu di Beijing kepada DW.

"Bagi perempuan yang tidak ingin punya anak lagi, mereka bisa dengan mudah mendapat lebih banyak uang dibanding tawaran insentif itu, dalam waktu hanya enam bulan," tambahnya.

"Di bagian lain Cina, otoritas lokal tidak menawarkan subsidi apa pun.

Tindakan mereka mendorong orang untuk punya lebih banyak anak sebagian besar slogan-slogan kosong yang ditulis di dinding saja," tambah Liu.

Emma Li dari Shanghai mengatakan, banyak teman perempuannya yang juga belum menikah, dan anggota keluarganya berpendapat, pemerintah tidak memberi dukungan yang cukup untuk meyakinkan perempuan memiliki anak.

"Saya piker, tingkat kesuburan di Cina akan terus menurun, tetapi dalam waktu dekat kualitas hidup anak muda akan meningkat karena mereka memiliki lebih banyak sumber daya untuk dibelanjakan buat diri mereka sendiri," pungkasnya.

(Kompas.com)

Baca juga: Diancam Tak Diberi Uang Saku, Gadis 12 Tahun Dinodai Ayah Tiri

Baca juga: Kali Ciliwung Meluap. Dua Rumah Warga Kelurahan Bidara Cina Roboh Diterjang

Baca juga: Mengapa Populasi Satwa Liar Dunia Menurun Drastis?

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved