Rabu, 8 April 2026

Tahukah Anda

Mengapa Fenomena Udara Panas Melanda Indonesia?

Analisis yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan fenomena udara panas ini bukan karena ‘heatwave’atau gelombang

Editor: Muliadi Gani
https://www.freepik.com/
Ilustrasi cuaca cerah - Berikut adalah prakiraan cuaca yang telah dikeluarkan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk besok, Sabtu (9/10/2021). 

PROHABA.CO - Udara panas di Indonesia akhirakhir ini dikeluhkan oleh masyarakat.

Analisis yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan fenomena udara panas ini bukan karena ‘heatwave’ atau gelombang panas.

Sejumlah negara di kawasan Asia Selatan dilaporkan dilanda gelombang panas sejak pekan lalu hingga saat ini.

Dalam rilis BMKG, Selasa (25/4/2023), gelombang panas ini dilaporkan negaranegara seperti Bangladesh, Myanmar, India, Cina, Thailand, dan Laos.

Berdasarkan analisis BMKG, kenaikan suhu udara di negara ini mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.

Fenomena gelombang panas dapat terjadi dengan ditandai oleh dua karakteristik, yakni berdasarkan fenomena dan indikator statistik suhu kejadian.

Sementara itu, fenomena udara panas yang dirasakan di Indonesia saat ini, menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, dalam pernyataan persnya, menegaskan bahwa berdasarkan analisis yang dilakukan, kondisi ini tidaklah termasuk gelombang panas.

Baca juga: Krisis Iklim Makin Mengkhawatirkan, Kenali 6 Penyebab Pemanasan Global

“Fenomena udara panas yang terjadi di Indonesia belakangan, jika ditinjau secara lebih mendalam dengan dua penjelasan tersebut, tidak termasuk dalam kategori gelombang panas, karena tidak memenuhi kondisi-kondisi tersebut,” jelas Dwikorita.

Dwikorita menegaskan bahwa secara karakteristik fenomena, suhu udara panas di Indonesia disebabkan oleh gerak semu matahari.

Analisis BMKG menunjukkan bahwa kondisi tersebut adalah siklus yang biasa terjadi setiap tahun sehingga potensi suhu udara panas seperti ini, yang sedang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, juga dapat berulang terjadi pada periode yang sama setiap tahunnya.

Sementara itu, menurut analisis indikator pengamatan suhu kejadian, menunjukkan bahwa lonjakan suhu maksimum yang mencapai 37,2 derajat Celsius yang dilaporkan dari stasiun BMKG di Ciputat pada 17 April 2023.

Suhu tinggi tersebut sudah turun dan kini suhu maksimum teramati berada dalam taksiaran 34-36 derajat Celsius di beberapa wilayah.

Lebih lanjut Dwikorita mengatakan bahwa variasi suhu maksimum di Indonesia masih relatif normal dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, berkisar antara 34-36 derajat Celsius.

Baca juga: Negeri Paman Sam Dilanda Suhu Dingin Ekstrem Hingga Pemadaman Listrik

Baca juga: Pria di Makassar Tewas Dikeroyok Usai Dituding Pencuri, Polisi Periksa 14 Warga

Secara klimatologi, di Jakarta sepanjang April-MeiJuni, merupakan bulan-bulan yang suhu maksimum dapat mencapai puncaknya, selain Oktober-November.

Udara panas tak terkait indeks UV Selain udara panas, akhirakhir ini, laporan sinar ultraviolet (UV) tinggi juga disebut-sebut sebagai penyebab suhu panas di Indonesia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved