Rabu, 29 April 2026

Iran vs Israel

Serangan Iran ke Israel Sukses Bikin Kabinet Perang Israel Alami Perpecahan 

Menteri Keamanan Nasional dan Menteri Pertahanan telah beberapa kali berselisih dalam satu tahun terakhir mengenai bagaimana melakukan perang terhadap

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
Twitter-X/Twitter-X
(FOTO ILUSTRASI) Pengawal Revolusi Iran Meluncurkan Drone Kamikaze dan Rudal Balistik, menunjukkan ledakan menerangi langit di Hebron dan Tel Aviv selama serangan Iran terhadap Israel. Minggu (14/4/2024). Pengawal Revolusi Iran mengkonfirmasi bahwa serangan pesawat tak berawak dan rudal sedang dilakukan terhadap Israel, sebagai pembalasan atas serangan pesawat tak berawak yang mematikan pada tanggal 1 April di konsulatnya di Damaskus. (Twitter-X / HO) 

PROHABA.CO -  Ketegangan antara Iran dan Israel yang ditandai saling ancam akhirnya pecah. Untuk pertama kalinya, Iran menyerang wilayah Israel, Minggu (14/4/2024).

Dalam catatan Israel, Iran mengirimkan lebih dari 300 pesawat nirawak (drone) dan rudal dalam serangan itu.

Kabinet perang Israel terpecah belah  setelah serangan rudal dan drone Iran.

Menteri Keamanan Nasional dan Menteri Pertahanan telah beberapa kali berselisih dalam satu tahun terakhir mengenai bagaimana melakukan perang terhadap Gaza dan kebijakan terhadap pemukim di Tepi Barat.

Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk memecat Menteri Pertahanan Yoav Gallant pada tanggal 15 April.

Permintaan Ben Gvir itu muncul setelah tentara Israel memulai persiapan untuk membongkar pos ilegal Gal Yosef di Tepi Barat yang diduduki.

“Keputusan Menteri Pertahanan Gallant untuk mengevakuasi dan menghancurkan bangunan di peternakan Gal Yosef tempat Benjamin Achimeir yang berusia 14 tahun dibunuh, bahkan selama minggu shiva [berkabung], mewakili kebodohan yang mengerikan, kebingungan moral, kebodohan keamanan, dan pelanggaran terhadap martabat orang mati,” kata Ben Gvir.

Baca juga: Presiden Rusia Dikabarkan Dukung Iran Jika AS Serang Teheran

“Alih-alih membangun dan menyetujui lebih banyak lahan pertanian dan memperluas permukiman Yahudi, kita malah menyerah kepada musuh,” kata Ben Gvir, menteri sayap kanan tersebut, seraya menyatakan bahwa “sudah tiba waktunya bagi perdana menteri untuk mempertimbangkan penggantian Menteri Gallant.”

Perselisihan antara Ben Gvir dan Gallant, keduanya anggota kabinet perang Israel, terjadi di tengah upaya merencanakan tanggapan terhadap serangan balasan Iran terhadap Israel pada hari Sabtu.

Iran meluncurkan ratusan drone dan rudal ke pangkalan militer Israel sebagai tanggapan atas serangan Israel terhadap kedutaan Iran di Damaskus awal bulan ini.

Menteri Keamanan Nasional Ben Gvir telah menyerukan agar Menteri Pertahanan Gallant dipecat beberapa kali selama setahun terakhir karena apa yang Ben Gvir anggap sebagai kesalahan Gallant dalam melancarkan perang di Gaza dan kurangnya dukungan terhadap pemukim Yahudi di Tepi Barat, termasuk penggunaan kekerasan melawan Palestina.

Permukiman Yahudi di wilayah pendudukan Palestina adalah ilegal menurut hukum internasional namun tetap legal menurut hukum Israel.

Baca juga: Serangan Rudal Iran Dilaporkan Berhasil Bobol Sistem Pertahanan Udara Israel, Iron Dome Eror

Baca juga: Salah Paham Diduga Jadi Pemicu Paman dan Keponakan Lakukan Duel Maut di Tengah Sawah

Namun, pos terdepan seperti Gal Yosef juga ilegal menurut hukum Israel.

Para pemukim mendirikan pos-pos terdepan di tanah Palestina yang dicuri, dengan harapan bahwa pos-pos tersebut nantinya akan disahkan berdasarkan hukum Israel dan berkembang menjadi pemukiman.

Benjamin Achimeir yang berusia empat belas tahun hilang dari pos terdepan Gal Yosef pada hari Jumat.

Sumber: Tribunnews
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved