Jumat, 24 April 2026

Kampus

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Belajar Filologi Islam Nusantara di Museum Manuskrip Aceh Milik Cek Midi

Sebanyak 65 mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN), Ar-Raniry, Banda Aceh, belajar lapangan tentang Filologi Islam Nusantara pada Senin (21/10/2024)

Editor: Jamaluddin
FOR PROHABA.CO
Mahasiswa UIN Ar-Raniry foto bersama usai belajar lapangan tentang Filologi Islam Nusantara di Museum Manuskrip Aceh milik Tarmizi A Hamid (Cek Midi) pada Senin (21/10/2024). 

Lebih lanjut Cek Midi menyampaikan, pada era kesultanan, manuskrip Aceh dipakai sebagai referensi dalam pembelajaran di seluruh dunia termasuk Afrika hingga Melayu Islam yang meliputi Nederlandsch-Indie atau Hinda-Belanda (Indonesia sekarang), Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, Filipina, hingga Singapura.

PROHABA.CO - Sebanyak 65 mahasiswa dari berbagai fakultas di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN), Ar-Raniry, Banda Aceh, belajar lapangan tentang Filologi Islam Nusantara pada Senin (21/10/2024).

Lokasinya, di Museum Manuskrip Aceh milik Tarmizi A Hamid atau yang akrab disapa Cek Midi.

Materi Filologi Islam Nusantara adalah bagian dari mata kuliah Kajian Islam pada semua prodi di UIN Ar-Raniry dan salah satunya diasuh oleh Hasan Basri M Nur.

“Untuk materi filologi, kami sengaja menjadwalkan Cek Midi sebagai dosen dan belajar langsung di museum milik beliau agar mahasiswa dapat melihat langsung contoh manuskrip yang ada,” ujar Hasan Basri M Nur.

Dalam belajar lapangan itu, Cek Midi memulai pemaparannya tentang pengertian filologi dan ruang lingkupnya. 

Dia juga memperkenalkan sampel manuskrip yang sudah dirawatnya secara mandiri.

Cek Midi menjelaskan tentang ulama masa lalu yang hobi menulis dan berbagi ilmu ke negeri lain, terutama pada awal abad Ke-17 hingga abad 20 Masehi.

“Intelektual Aceh dikenal gemar menulis, selain ada permintaan dari sultan kala itu. 

Ribuan judul manuskrip karya ilmuwan Aceh masa lampau masih ada hingga saat kini,” ujar Cek Midi yang disampaikan kembali kepada Prohaba.co pada Rabu (23/10/2024).

“Syeikh Abdurrauf As-Singkili atau Tgk Syiek Di Syiah Kuala, Nuruddin Ar-Raniry, Hamzah Al Fansuri, dan Samsuddin As Sumatrany adalah empat di antara puluhan ulama-ulama besar Aceh yang sangat populer atas karya-karya masterpice hingga era sekarang.

Nama-nama mereka terabadikan di dunia filologi, museum dan perpustakaan di dunia.

Semua intelektual Islam Aceh masa lalu terverifikasi sebagai nama agung pada era kesultanan,” timpalnya.

Tidak hanya itu, sambung Tarmizi, saat Aceh dipimpin oleh para sultanah (ratu), perkembangan ilmu di Tanah Rencong terus memuncak.

“Ini menjadi bukti kehebatan emansipasi wanita di Aceh yang melebihi suku manapun di Nusantara. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved