Sabtu, 25 April 2026

Psikologi

Hidup di Era Teknologi Tapi Mudah Depresi, Mengapa? Ini Alasannya

Hidup di era perkembangan teknologi tidak dapat menjamin kesehatan mental stabil, beberapa faktor yang menyebabkan Gen Z mudah mengalami depresi.

Penulis: Cut Bintu Jabbabirah | Editor: Jamaluddin

Namun siapa sangka jika di era teknologi yang berkembang pesat ini, Gen Z mudah mengalami depresi dan mengalami Anxiety (kecemasan).

PROHABA.CO - Gen Z merupakan generasi yang lahir pada tahun 1997-2012.

Gen Z juga dikenal dengan generasi Internet karena mereka lahir di era perkembangan teknologi yang pesat.

Namun siapa sangka jika di era teknologi yang berkembang pesat ini, Gen Z mudah mengalami depresi dan mengalami Anxiety (kecemasan).

Hasan Askari, seorang Realistic Psychology dan HR Consultant dalam channel YouTube Jeda Nulis mengatakan, anak kecil dan orang-orang zaman sekarang perkembangannya banyak bermasalah. 

Mengapa demikian?

Ini sebabnya:

1. Lebih Banyak Indoor daripada Outdoor

Berdasarkan hasil riset, Gen Z yang paling banyak tingkat depresi dan kecemasan karena dididik sama orang tuanya yang tidak pernah menyatu dengan alam.

“Kita survei lebih banyak mana yang megang hanphone sama outdoor.

Saya jamin banyak yang megang handphone.

Ada peneliti, penulis buku namanya Johahn Hari, dia meneliti kenapa sekarang epidemik orang depresi dan orang yang punya gangguan kecemasan di era modern ini meningkat, bahkan cukup signifikan peningkatannya dibanding dengan generasi orang tua kita atau nenek kita.

Johann Hari ini pengen tahu penyebab-penyebab depresi ini apa saja.

Karena kebanyakan psikiater dan psikolog kontemporer menggatakan bahwa depresi ini muncul karena ketidakseimbangan kimia di otak kita, ketidakseimbangan hormon di otak kita," jelasnya.

Depresi adalah tidak adanya atau tidak cukupnya hormon serotonin di otak kita seperti seharusnya. 

“Johann Hari ini menemukan fakta dan menulis dalam bukunya Lost Connections bahwa manusia modern ini hidup dari indoor menuju indoor melewati indoor.

Maksudnya, dia tinggal di rumah (indoor), dia keluar untuk ke kantor melalui mobilnya (indoor), masuk ke kantor indoor.

Ketika mereka mau liburan, transportasi indoor lagi, masuk ke mall membeli sesuatu yang ada di mall itu indoor lagi.

Jadi, salah satu lost connection yang dibahas sama Johann Hari adalah manusia sekarang ini kehilangan koneksi dengan alam.

Kita tidak lagi ke air terjun, kita tidak lagi main ke sungai, kita tidak lagi ke pantai, kita tidak lagi hiking ke gunung, dan sebagainya.

Kehilangan koneksi dengan alam dan kita sebagai homosapien yang jutaan tahun lalu bertahan di dunia atau di bumi tanpa indoor lalu sekarang hilang, itu juga salah satu faktor terjadinya depresi dan anxiety,” lanjutnya.

Back to nature merupakan salah satu hal yang penting, tapi masalahnya sekarang banyak orang yang mengakali itu dengan mendengarkan suara aliran sungai untuk meditasi dan sebagainya. 

“Alih-alih orang-orang kembali ke nature, dia mendegarkan instrument suara di pantai.

Ketika diteliti apa hubungannya alam dengan kesehatan mental, ternyata bersatu dengan alam, mendekatkan diri dengan alam itu meningkatkan hormon sterotonim secara alami, meningkatkan hormon edortim dan meningkatkan oksitosim.

Ketiga hormon ini dibutuhkan orang untuk merasa happy,” tambah Johann Hari.

Yang lebih kacau lagi adalah anak kecil zaman sekarang perkembangannya banyak bermasalah.

Secara pikologi, anak sekarang banyak bermasalah tentang tumbuhkembangnya.

Contohnya, tanpa merangkak tiba-tiba langsung duduk, dan tiba-tiba jalan.

Dia (anak-anak) menskip bagian merangkak dan nanti anak ini akan mengalami masalah dalam tumbuh kembangnya.

Anak kecil yang tidak jalan, yang selalu jalan dengan alas kaki ternyata itu bisa berhubungan dengan rahangnya dia, kekuatan dia untuk mengunyah.

Nah lucunya anak-anak yang lahir era sekarang dilahirkan dan dibesarkan oleh keluarga yang sangat mencintai kenyamanan indoor. 

2. Kehilangan koneksi dengan manusia

Alasan mengapa orang-orang modern lebih banyak depresi dan gangguan mental lainnya adalah karena kehilangan koneksi dengan manusia atau deep and meaningfull connection.

“Orang dulu itu sangat dekat dengan tetangganya, sangat dekat dengan saudara-saudara mereka, sekarang di era modern manusia mulai hilang koneksi yang disebabkan oleh teknologi.

Kita lihat saja orang-orang nongkrong di kafe, kita survei lebih banyak mana yang megang handphone sama yang asik ngobrol.

Saya jamin lebih banyak yang megang hanphone,” jelasnya.

Kehilangan koneksi antarmanusia ini menjadi penyebab bahwa orang merasakan depresi karena kesepian.

Maka solusinya adalah kita harus belajar untuk kembali di kehidupan yang sebenarnya.

Sebagai makhluk sosial, kita harus berinteraksi dengan sesama dan dengan untuk mencegah rentan terjadinya depresi. (Penulis adalah mahasiswa internship dari Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala)

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved