Selasa, 14 April 2026

Khutbah Jumat

Jangan Buka Aib Muslim, Ini Kutbah Jumat di Masjid Raya Baiturrahman

Islam sangat melarang kita membukakan aib sesama muslim. Membuka aib sesama muslim hukumnya haram dan termasuk dosa besar.

Editor: IKL
For Serambinews
Abu Tgk M Nur Abdullah (Anggota MPU Aceh), Khatib Jumat di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh 

Oleh:  Abu Tgk M Nur Abdullah (Anggota MPU Aceh), Khatib Jumat di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

PROHABA.CO - JAMAAH Jumat yang dirahmati Allah! 
Islam sangat melarang kita membukakan aib sesama muslim, karena hal tersebut dapat menimbulkan kebencian, perkelahian, dan dendam hingga akibat yang lebih fatal lagi yaitu pembunuhan. Membuka aib sesama muslim hukumnya haram dan termasuk dosa besar.

KHUTB AHJUMAT1
Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Prohaba.co/ANSHAR

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam Surat al Hujurat ayat 12 yang artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah kebanyakan prasangka karena sesungguhnya sebagian prasangka adalah dosa. Janganlah kamu sekalian mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah kamu sekalian berghibah (menggunjing) satu sama lain. Adakah seseorang di antara kamu sekalian yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik kepadanya. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang.” 

Dalam Kitab Tanbihul Ghafilin (peringatan bagi orang yang lalai), Abu Laits as Samarqandi mengulas dahsyatnya bahaya ghibah.

Abu Laits menukil sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, Nabi Muhamad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tahukah kamu a pakah ghibah?" Jawab sahabat: "Allah Ta'ala dan Rasulullah yang lebih mengetahui." "Ghibah itu jika kamu menyebut (membicarakan) hal keadaan saudaramu yang ia tidak suka hal itu disebut atau dibicarakan kepada orang lain, maka itu berarti ghibah padanya," jawab Rasulullah.

Lalu sahabat bertanya: "Bagaimana kalau saudaraku betul begitu?" Nabi berkata: "Jika yang kau sebut itu benar ada padanya, maka itu ghibah. Tetapi jika tidak betul maka itu buhtan (membuat-buat kepalsuan, pendustaan untuk menjelekkan nama orang lain)."

Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan wahyu kepada Nabi Musa as: "Orang yang mati dalam keadaan bertaubat dari dosa ghibah (menggunjing), ia adalah orang terakhir yang masuk Surga. Orang yang mati dalam keadaan membiasakan ghibah, ia adalah orang pertama yang masuk Neraka." (Kitab Risalah al-Mu’awanah, hal 30)

Kaum muslimin rahimakumullah! 
Sebuah riwayat mengisahkan bahwa pada zaman Rasulullah saw ada dua orang wanita yang berpuasa, lalu ada yang menceritakan perihal keduanya kepada Rasulullah saw.

Dia berkata, “Wahai Rasulullah, di sini ada dua orang wanita yang berpuasa, keduanya hampir mati karena kehausan.” Ternyata Rasulullah Saw malah berpaling dan tidak menggubrisnya.

Orang itu pun datang lagi kepada beliau dan kembali menceritakan kejadian tersebut. Dia berkata, “Wahai Rasulullah keduanya hampir mati.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Panggil keduanya.” Akhirnya kedua wanita itu pun datang. Rasulullah meminta untuk diambilkan sebuah ember, lalu beliau bersabda, “Muntahlah!” 

Maka salah satu dari keduanya pun muntahh, ternyata dia memuntahhkan air nanah bercambur darah sehingga memenuhi setengah ember. 

Lalu Rasulullah memerintahkan kepada wanita yang satunya untuk muntah, dan dia pun memuntahkan nanah bercampur darah sehingga ember itu penuh, lalu beliau bersabda, “Kedua wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah namun malah berbuka dengan yang diharamkan oleh-Nya, keduanya duduk-duduk untuk makan daging manusia.”

Seiring berjalannya syariat siksaan itupun tak lagi diperlihatkan, namun ironisya kian hari semakin banyak orang yang saling menggunjing, bahkan dosa besar tersebut seakan-akan dianggap sebagai hal biasa dan lumrah terjadi. 

Padahal, Rasulullah SAW sudah menyatakan bahwa dosa ghibah berat dari dosa zina. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved