Jumat, 15 Mei 2026

Khutbah Jumat

Ibadah Haji dan Regulasi Emosi: Jalan Islam Tenangkan Jiwa Manusia

Di zaman modern, manusia semakin menyadari bahwa kesehatan fisik tidak bisa dipisahkan dari kondisi emosional dan spiritual. 

Tayang:
Editor: IKL
FOR PROHABA
MASJID RAYA BAITURRAHMAN - Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. (insert) Guru Besar FMIPA Kimia USK, Prof Dr rer nat Ilham Maulana SSi, yang menjadi khatib Jumat di Masjid Raya Baiturrahman pada hari ini, 15 Mei 2026 

Khatib - Prof. Dr. rer. nat. Ilham Maulana, S.Si | MASJID RAYA BAITURRAHMAN

PROHABA.CO - Di zaman modern, manusia semakin menyadari bahwa kesehatan fisik tidak bisa dipisahkan dari kondisi emosional dan spiritual. 

Banyak penelitian psikologi dan kedokteran menunjukkan bahwa stres kronis, trauma batin, kecemasan berkepanjangan, kemarahan yang dipendam, hingga dendam yang tidak terselesaikan dapat berdampak langsung pada tubuh manusia.

Berbagai penyakit menahun seperti hipertensi, gangguan tidur, gangguan lambung, nyeri kronis, penurunan daya tahan tubuh, bahkan penyakit degeneratif sering dikaitkan dengan tekanan emosi yang berlangsung lama.

Tubuh ternyata menyimpan apa yang gagal dilepaskan oleh hati dan mengonversinya menjadi penyakit. Fenomena ini membuat banyak ilmuwan modern mulai berbicara tentang pentingnya regulasi emosi, yaitu kemampuan manusia mengelola, menerima, dan menyalurkan emosinya secara sehat.

Menariknya, Islam sejak awal sebenarnya telah mengajarkan konsep regulasi emosi yang sangat mendalam. Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah ritual, tetapi juga tentang bagaimana manusia membersihkan hati, mengelola rasa takut, marah, sedih, kecewa, dan kehilangan.

 Salah satu bentuk pendidikan emosional paling kuat dalam Islam dapat ditemukan dalam ibadah haji. Al-Qur’an memberikan perhatian besar terhadap kondisi hati manusia.

Keselamatan dalam Islam bukan hanya keselamatan fi sik atau materi, tetapi juga keselamatan batin.

Allah berfirman dalam QS. Asy-Syu‘ara: 88–89 yang artinya, “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat (bersih).” Ayat ini menunjukkan bahwa hati yang bersih merupakan inti dari keselamatan manusia.

Dalam perspektif Islam, hati yang dipenuhi dendam, iri, kebencian, dan keterikatan berlebihan kepada dunia akan sulit menemukan ketenangan. Karena itu, Islam tidak hanya mengatur perilaku lahiriah manusia, tetapi juga mengajarkan penyucian hati sebagai bagian penting dari ibadah.

Hari ini banyak orang hidup dengan tubuh yang sehat secara medis, tetapi jiwanya lelah.

Ada yang terus memikirkan masa lalu, menyimpan luka bertahun-tahun, merasa gagal memaafkan, atau hidup dalam ketakutan akan masa depan. 

Beban emosional semacam ini sering kali tidak terlihat oleh orang lain, tetapi diam-diam menguras energi hidup seseorang.

Dalam kondisi seperti ini, manusia membutuhkan sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar hiburan atau pelarian sementara. Ia membutuhkan ketenangan eksistensial.

Islam menawarkan ketenangan itu melalui tauhid. 

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved