Rabu, 13 Mei 2026

Maulid Nabi Muhammad SAW

5 September 2025, Umat Islam Peringati Maulid Nabi Muhammad SAW, Ini Doanya

Maulid Nabi Muhammad shallallāhu ʿalayhi wa sallam (SAW) atau hari kelahiran Nabi Muhammad Saw tahun ini diperingati pada Jumat,

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
Canva/Tribunnews
DOA MAULID NABI - Gambar dibuat di Canva, Rabu (3/9/2025). Doa Maulid Nabi Muhammad dapat dibaca untuk menyambut hari kelahiran Rasulullah pada 12 Rabiul Awal atau 5 September 2025 pada tahun ini. 

PROHABA.CO -  Maulid Nabi Muhammad shallallāhu ʿalayhi wa sallam (SAW) atau hari kelahiran Nabi Muhammad Saw tahun ini diperingati pada Jumat, 5 September 2025.

Untuk menyambutnya, umat Islam bisa membaca doa memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Maulid Nabi diperingati setiap tanggal 12 Rabiul Awal 1447 H dalam kalender Hijriah. 

Ini merupakan momen penting bagi umat Islam untuk memperingati kelahiran Rasulullah dengan berbagai cara.

Kata maulid berasal dari bahasa Arab مَولِد (mawlid) yang berarti kelahiran.

Dalam konteks Islam, Maulid merujuk pada kelahiran Nabi Muhammad SAW, sosok yang membawa risalah terakhir untuk umat manusia.

Perayaan Maulid Nabi mulai dikenal secara luas di dunia Islam sejak abad ke-12 Masehi.

Di Indonesia, tradisi ini biasanya diisi denganmemperbanyak doa, zikir, sholawat, ceramah, serta kegiatan sosial keagamaan untuk mengenang kelahiran Rasulullah, serta meneladani perjuangan, akhlak, dan ajaran Nabi

Sejumlah ulama berbeda pendapat mengenai perayaan maulid Nabi, salah satunya Prof. Dr. Abuya Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani dari Makkah, Arab Saudi.

Dalam kitab Ḥawla al-Iḥtifāl bi-Dhikrā al-Mawlid al-Nabawī al-Sharīf (Seputar Peringatan Maulid Nabi yang Mulia), beliau menjelaskan jika yang pertama kali merayakan/memperingati maulid itu adalah Nabi Muhammad sendiri, ini didasarkan pada hadis dari Abu Qotadah Al-Anshori.

Hadis itu menjelaskan, Nabi Muhammad pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab itu adalah hari kelahirannya.

"Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku." (HR. Muslim no. 1162)

Nabi Muhammad tidak menjawab apakah itu perintah Allah, namun mayoritas ulama berpendapat memperingati maulid Nabi adalah mengikuti perilaku Nabi.

Para ulama berpendapat, puasa adalah cara ringan memperingati maulid dan isyarat bahwa memperingati hari kelahiran Nabi adalah boleh.

Ada pun doa pada perayaan maulid Nabi di Indonesia, biasanya disertai bacaan sholawat kepada Nabi Muhammad.

Baca juga: Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Inilah Hidangan Istimewa Masyarakat Kemukiman Lampuuk

Doa Maulid Nabi

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad kamā ṣallaita ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm innaka ḥamīdun majīd. Allāhumma bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad kamā bārakta ‘alā Ibrāhīm wa ‘alā āli Ibrāhīm innaka ḥamīdun majīd.

Artinya: “Ya Allah, limpahkanlah rahmat-Mu atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat atas Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Dan limpahkanlah keberkahan atas Nabi Muhammad dan keluarga Nabi Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan keberkahan atas Nabi Ibrahim dan keluarga Nabi Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”

Bacaan di atas merupakan sholawat Ibrahimiyah yang terdapat dalam bacaan tasyahud akhir yang dibaca setiap akhir shalat.

Perintah membaca sholawat kepada Nabi Muhammad disebutkan dalam Al Quran Surat Al-Ahzab ayat 56.

"Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab ayat 56)

Hukum Merayakan Maulid Nabi

Hukum merayakan maulid Nabi sudah lama menjadi perdebatan umat Islam karena secara khusus tidak ditemukan dalil nash yang nyata mau pun tersirat tentang larangan atau perintah marayakan maulid Nabi.

Nabi Muhammad, para sahabat dan para ulama salaf tidak merayakan maulid Nabi.

Meski tidak dilakukan oleh Nabi Muhammad, perayaan ini tidak serta merta bertentangan dengan ajaran beliau.

Dalam skripsi berjudul Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Peringatan Maulid Nabi Saw di Desa Kaligayam Kecamatan Talang Kabupaten Tegal oleh Uswatun Khasanah, mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Universitas Islam Negeri (UIN) Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto tahun 2025., dijelaskan mengenai hukum merayakan maulid Nabi.

Para ulama menggunakan istilah Bid'ah Hasanah untuk menggambarkan perayaan maulid Nabi.

Seorang ahli bahasa, Abu Bakar Ibn al-Arabi menyatakan tidak semua hal baru atau bid'ah secara otomatis tercela.

Menurutnya, sesuatu dianggap bid'ah tercela jika hal tersebut bertentangan dengan sunnah, yang mengarah pada penyimpangan dari ajaran Islam.

Secara umum, bid'ah dibagi menjadi bid'ah dlalalah dan hasanah.

Hal yang bertentangan dengan Al-Quran dan sunnah termasuk dalam bid'ah dlalalah, sedangkan hal yang tidak bertentangan dengan Al-Quran dan sunnah termasuk bid'ah hasanah.

Baca juga: Mualem Ingatkan TPID Antisipasi Inflasi di Bulan Maulid

Sejarah Perayaan Maulid Nabi

Dalam skripsi berjudul Tradisi Maulid Nabi pada Masyarakat Bugis di Kelurahan Ponrangae Kabupaten Sidrap (Tinjauan Nilai Pendidikan Agama Islam) oleh Abd. Asis Tjake, mahasiswa jurusan Pendidikan Agama Islam di Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Pare Pare tahun 2021, disebutkan setidaknya ada tiga teori yang menjelaskan asal mula peryaan maulid Nabi.

1. Versi Dinasti Fathimiyah (Syiah Ubaidiyah di Mesir)

Perayaan Maulid Nabi pertama kali diyakini muncul pada masa Dinasti Ubaid (Fathimiyah) yang berhaluan Syiah Rafidhah di Mesir. 

Mereka berkuasa sekitar tahun 362–567 H (abad ke-4 hingga ke-6 H).

Tradisi ini diperkirakan mulai dilaksanakan pada masa pemerintahan Abu Tamim Al-Mu‘iz li-Dinillah.

2. Versi Ahlus Sunnah menurut Imam Jalaluddin As-Suyuti

Di kalangan Ahlus Sunnah wal Jamaah, Imam Jalaluddin As-Suyuti (ulama besar ahli hadis dan sejarah) menyebut bahwa yang pertama kali merintis peringatan Maulid Nabi adalah Sultan Abu Sa‘id Muzhaffar Kukabri bin Zainuddin bin Baktakin, gubernur Irbil di Irak. 

Beliau hidup antara tahun 549–630 H.

3. Versi Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi

Ada juga riwayat lain yang menyebutkan bahwa Maulid pertama kali diselenggarakan oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (567–622 H), penguasa Dinasti Ayyubiyah yang berada di bawah kekhalifahan Abbasiyah. 

Tujuan perayaan ini adalah untuk membangkitkan semangat jihad kaum muslimin menghadapi Perang Salib, sekaligus meneguhkan tekad merebut kembali Yerusalem dari tentara Salib Eropa.

Dengan demikian, Maulid dipandang sebagai sarana menanamkan nilai-nilai pendidikan Islam, mempererat ukhuwah, dan meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW.

Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW tidak sekadar ritual tahunan, tetapi bisa menjadi ajang refleksi diri, memperdalam cinta kepada Rasulullah, serta memperkuat komitmen untuk meneladani sifat amanah, jujur, sabar, dan kasih sayang beliau.

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bersholawatlah kamu untuk Nabi…”
(QS. Al-Ahzab: 56)

Baca juga: Kurir Paket di Aceh Timur Tewas Ditikam Rekan Kerja, Pelaku Terlilit Utang Judi Online

Baca juga: Bawa 140 Gram Sabu, Pemuda Asal Idi Rayeuk Aceh Timur Diciduk Polisi

Baca juga: Tersangka Kasus Wastafel Bertambah, Kali Ini Giliran Syifak Muhammad Yus 

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Doa Maulid Nabi Muhammad, Menyambut Hari Lahir Rasulullah, 

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News

Sumber: Tribunnews
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved