Rabu, 15 April 2026

Polusi Udara Tingkatkan Risiko Gangguan Penglihatan

Studi skala besar di Inggris telah menemukan kaitan antara polusi udara dengan peningkatan kasus degenerasi makula terkait usia (AMD)..

Editor: Muliadi Gani
FOTO: SHUTTERSTOCK
ILUSTRASI polusi udara dari rumah tangga yang berasal dari penggunaan bahan bakar kayu untuk memasak. Biomassa kayu bakar dapat berakibat buruk pada kesehatan paru-paru. Polutan dari biomassa kayu dapat menyebabkan kerusakan paru-paru. 

PROHABA.CO - Studi skala besar di Inggris telah menemukan kaitan antara polusi udara dengan peningkatan kasus degenerasi makula terkait usia (AMD).

Degenerasi makula adalah gangguan penglihatan parah yang dapat terjadi secara permanen.

Seperti dikutip dari IFL Science, Rabu (27/1/2021), ada faktor-faktor risiko yang diketahui berkontribusi terhadap perkembangan AMD.

Beberapa di antaranya adalah faktor usia, tekanan darah tinggi, kelebihan berat badan, serta genetik yang diturunkan dalam keluarga.

Meski begitu, penyebab pasti AMD belum sepenuhnya dapat dijelaskan.

Beberapa studi juga dilakukan untuk memahami asal-usul genetik AMD dan apakah sel induk dan terapi gen mungkin dapat membalikkan atau mencegah proses tersebut.

Tetapi nampaknya harus lebih banyak lagi studi untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan seorang individu dapat berisiko lebih tinggi terkena AMD.

Kini, peneliti memasukkan satu faktor lagi yang dapat menyebabkan peningkatan risiko AMD, yaitu polusi udara.

Baca juga: Virus Nipah, Ancaman Pandemi Berikutnya di Asia

“Kami telah mengidentifi kasi risiko kesehatan yang ditimbulkan oleh polusi udara, memperkuat bukti bahwa memperbaiki udara yang kita hirup harus menjadi prioritas kesehatan yang utama,” kata Profesor Paul Foster, penulis utama dari University College London, Inggris.

Dalam studinya, peneliti melihat data dari 115.954 peserta UK Biobank yang berusia antara 40 hingga 69 tahun dan tak memiliki gangguan penglihatan pada awal penelitian pada tahun 2006.

Menggunakan pencitraan retina, peneliti kemudian menilai setiap perubahan struktural retina pada 52.602 orang dari total kelompok asli.

Selain itu, dengan menggunakan data yang dikumpulkan dari Unit Statistik Kesehatan Area Kecil, peneliti menghitung rata-rata polusi udara tahunan di alamat rumah peserta.

Dua polutan utama diamati, yaitu nitrogen dioksida (NO2), dan nitrogen oksida (NOx), yang disebut sebagai materi partikulat halus (PM2.5).

Dari analisis, peneliti menemukan beberapa kesimpulan.

Dari total peserta studi, 1.286 didiagnosis dengan AMD dari waktu ke waktu.

Baca juga: Varian Baru Virus Corona Brasil Ditemukan di Amazon

Sementara 52.602 peserta yang mejalani pemeriksaan mata selama studi, 75 persen memiliki diagnosis klinis AMD dan mengalami perubahan struktural pada mata saat dilakukan pencitraan retina pada akhir penelitian.

Sedangkan peserta yang tidak memiliki diagnosis klinis AMD, 12 persen juga mengalami perubahan struktural pada mata.

Menariknya, peneliti juga menemukan partisipan yang tinggal di lingkungan rumah dengan materi partikulat halus (PM2.5) memiliki risiko AMD 8 persen lebih tinggi.

“Ini menunjukkan bahwa tingkat polusi udara yang lebih tinggi dapat menyebabkan sel-sel menjadi lebih rentan terhadap perubahan yang merugikan dan meningkatkan risiko AMD,” Dr Sharon Chua, peneliti lain yang terlibat dalam studi.

Temuan tersebut pun pada akhirnya dapat memberikan gambaran bahwa tinggal di daerah dengan udara yang tercemar, terutama berasal dari partikel halus atau partikel terkait pembakaran yang berasal dari lalu lintas jalan raya, dapat menyebabkan gangguan penglihatan pada mata.

Studi kaitan polusi udara dengan dampak terhadap gangguan penglihatan ini telah dipublikasikan di Journal of Ophthalmology. (kompas.com)

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved