Breaking News:

 Sepertiga Populasi Ikan Air Tawar Dunia Terancam Punah

SEBUAH laporan memperingatkan tentang penurunan populasi yang "parah" pada ikan air tawar di seluruh dunia, dengan hampir sepertiganya terancam punah.

FOTO: ANTARA
Nelayan mengikat ikan air tawar hasil tangkapanya yang akan dijual di Danau Borong Makassar, Sulawesi Selatan, Selasa (24/7/2020). Nelayan kesulitan menangkap ikan air tawar karena habitatnya mulai berkurang akibat penyempitan sawah dan banyaknya rawa yang dijadikan perumahan. 

Dave Tickner dari WWF mengatakan bahwa habitat air tawar termasuk yang paling hidup di bumi, tetapi--seperti yang ditunjukkan laporan tersebut--habitat air tawar mengalami penurunan yang parah di seluruh dunia.

"Alam dalam kondisi terjun bebas dan Inggris tak terkecuali: satwa liar berjuang untuk bertahan hidup, apalagi berkembang biak, di perairan kita yang tercemar," kata kepala penasihat WWF untuk urusan air tawar itu.

"Jika kita ingin menanggapi janji pemerintah tentang lingkunan dengan serius, mereka harus bertindak bersama, membersihkan sungai dan memulihkan habitat air tawar kita [agar] menjadi lebih sehat," tambahnya.

Carmen Revenga dari Nature Convervancy mengatakan, ikan air tawar sangat beragam dan kelompok spesies yang unik.

Mereka tak hanya penting untuk kesehatan fungsi sungai, danau, dan lahan basah kita, tetapi juga bagi jutaan orang, terutama orang miskin, yang bergantung untuk sumber makanan dan pendapatan mereka.

"Sekarang lebih mendesak dari sebelumnya bahwa kita perlu menemukan kemauan politik secara kolektif dan kolaborasi efektif dengan sektor swasta, pemerintah, LSM dan masyarakat, untuk menerapkan solusi berbasis alam yang melindungi spesies air tawar, sambil juga memastikan kebutuhan manusia terpenuhi," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Dr Jeremy Biggs dari Freshwater Habitats Trust, mengatakan untuk melindungi keragaman hayati ikan air tawar, kita perlu mempertimbangkan perairan besar dan kecil, dan untuk melindungi semua air tawar kita: kolam, danau, sungai dan sungai. (kompas.com)

Berita Populer
Editor: Muliadi Gani
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved