Breaking News:

Dalam Dua Pekan, 243 Wanita Kongo Diperkosa, PBB Ikut Prihatin dan Mengecam

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan luas terhadap sistem kejahatan seksual di Kongo, tempat kelompok-kelompok bersenjata ...

Editor: Muliadi Gani
Sekjen PBB Antonio Guterres
Sekjen PBB, Antonio Guterres 

PROHABA.CO, NEW YORK - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan luas terhadap sistem kejahatan seksual di Kongo, tempat kelompok-kelompok bersenjata melakukan pemerkosaan massal.

Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR), mengatakan pihaknya telah mendengar kesaksian dari orang-orang yang dipindahkan secara paksa di Provinsi Tanganyika Tenggara.

"Sangat prihatin dengan insiden kekerasan seksual yang meluas dan sistematis terhadap perempuan dan anak perempuan Kongo," ujar Juru Bicara UNHCR Shabia Mantoo, seperti yang dilansir dari The Guardian pada Jumat (13/8/2021).

"Hanya dalam dua pekan terakhir, mitra kemanusiaan di zona kesehatan Kongolo dan Mbulula telah mencapai 243 kasus insiden pemerkosaan, 48 di antaranya melibatkan anak di bawah umur di 12 desa berbeda," terang Mantoo.

Jumlah insiden yang sebenarnya diperkirakan lebih tinggi lagi, karena pelaporan kekerasan berbasis gender masih tabu di sebagian besar masyarakat Kongo.

 “Serangan (pemerkosaan) tersebut dilaporkan dilakukan oleh kelompok bersenjata yang bersaing untuk mempertahankan kendali atas wilayah pertambangan, terutama tambang emas, dan sebagai pembalasan terhadap operasi militer yang dipimpin pemerintah,” kata Mantoo.

"Warga sipil terperangkap di tengah konfrontasi antara kelompok berbeda.

Staf kami mendengar kesaksian yang mengerikan tentang kekerasan ekstrem," lanjutnya.

Baca juga: Markas PBB New York Ternyata Tidak Termasuk Wilayah Amerika Serikat

Baca juga: Pembeli Kaget Temukan Ribuan Lebah di Dinding Rumah Tuanya

"Orang-orang yang dipindahkan secara paksa menuduh kelompok-kelompok bersenjata melakukan pemerkosaan massal ketika para wanita berusaha melarikan diri dari rumah mereka,” ucapnya.

Dia mengatakan, beberapa wanita dan gadis telah diculik dan diperkosa di Tanganyika.

Selain itu, uang tebusan telah diminta dari keluarga sebagai imbalan atas kebebasan mereka.

Menurut perkiraan PBB, hampir 310.000 orang telah tereancam bahaya dan kekerasan, tetapi tetap mengungsi di Provinsi Tanganyika.

Mantoo mengatakan, lebih dari 23.000 orang telah mengungsi di daerah Kongolo utara sejak Mei 2021, menurut pihak berwenang setempat, dengan sebagian besar telah melarikan diri beberapa kali karena ancaman bahaya.

UNHCR meminta pihak berwenang Kongo untuk meningkatkan keamanan di daerah yang disebut "segitiga kematian", wilayah yang lebih luas untuk melindungi warga sipil, memungkinkan akses kemanusiaan, dan meluncurkan penyelidikan untuk membawa pelaku ke pengadilan.

Badan tersebut mengatakan telah menerima 36 persen dari 205 juta dolar AS (sekitar Rp 3 triliun) yang dibutuhkan untuk operasinya di Kongo. (kompas.com)

Baca juga: Mahasiswi Dirampok dan Diperkosa di Kamar Kos, 4 Tersangka Pelaku Ditangkap

Baca juga: Diduga Diperkosa Paman dan Ayah, Anak 11 Tahun Menangis, Tersedu Sedan di Pelukan Psikolog

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved