Breaking News:

MA Hukum Paman Pemerkosa Keponakan 200 Bulan Penjara

Pemuda DP, terdakwa pemerkosa anak di bawah umur yang merupakan keponakannya, tak lagi leluasa menghirup udara bebas di luar penjara

Editor: bakri
FOR PROHABA
PRIA berinisial DP, terdakwa rudapaksa keponakannya divonis bersalah oleh majelis hakim Mahkamah Syari'ah Jantho, sehingga dihukum 200 bulan penjara atau 16, 6 tahun dalam sidang tingkat pertama itu beberapa waktu lalu. 

* Putusan MS Aceh Dibatalkan

KOTA JANTHO - Pemuda DP, terdakwa pemerkosa anak di bawah umur yang merupakan keponakannya, tak lagi leluasa menghirup udara bebas di luar penjara. Perantau asal Aceh yang kembali dari Kuala Lumpur, Malaysia, akibat pandemi Covid-19 lalu bermukim di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar, ini segera dieksekusi jaksa untuk menjalani hukuman penjara yang tidak singkat. Pemuda ganteng berkulit putih ini akan menjalani masa hukuman 200 bulan atau setara dengan 16,6 tahun penjara setelah Majelis Hakim Agung pada Mahkamah Agung Republik Indonesia (MARI) dalam persidangannya membatalkan putusan Mahkamah Syar’iyah (MS) Aceh dalam perkara Nomor 07/JN/2021/ MS-Aceh tanggal 20 Mei 2021.

Putusan MS Aceh itu sebelumnya menjatuhkan vonis bebas terhadap DP yang oleh MS Jantho justru divonis 200 bulan penjara karena terbukti secara dan meyakinkan beberapa kali merudapaksa ponakannya, sebut saja umurnya Bunga, umur 11 tahun.

Namun, majelis hakim MS Aceh berpendapat sebaliknya. Tidak tersedia cukup bukti untuk menghukum DP sebagai pemerkosa karena korban yang tidak bisu, tapi di persidangan memberikan keterangan atau kesaksian menggunakan bahasa isyarat. Kesaksian yang demikian diragukan oleh majelis hakim kebenarannya, sehingga hakim MS Aceh membatalkan putusan MS Jantho.

Dengan demikian, bebaslah DP. Namun, karena terdakwa divonis bebas, jaksa penuntut umum dari Kejari Aceh Besar mengajukan kasasi. Sesampai di Mahkamah Agung, putusan perkara ini diperiksa dan disidangkan lagi. Ternyata majelis hakim agung berpendapat lain. DP memang bersalah melakukan jarimah pemerkosaan terhadap kemenakan yang seharusnya dia lindungi.

Dengan demikian, majelis hakim agung membatalkan putusan MS Aceh. Yang berlaku kemudian adalah putusan MS Jantho yang telanjur dianulir oleh MS Aceh yang berkedudukan di Banda Aceh. Terkait dengan putusan terbaru itu, Ketua MS Jantho, melalui Juru Bicaranya Fadlia SSy, MH dalam rilisnya kepada Prohaba, Rabu (22/9/2021), membenarkan tentang sudah turunnya putusan MA tersebut.

“Ya, putusan kasasi telah turun dan oleh majelis hakim agung terdakwa dinyatakan terbukti bersalah dan dijatuhi hukuman 200 bulan penjara atau 16,6 tahun kurungan badan," kata Fadlia MA saat dikonfi rmasi di Jantho, Rabu (22/9/2021). Ia juga menyebutkan bahwa putusan MA itu dikuatkan melalui putusan kasasi Nomor 8 K/Ag/JN/2021.

Menurutnya, majelis hakim agung yang menyidangkan perkara yang menarik perhatian rakyat Aceh ini diketuai oleh Dr Drs H Amran Suadi SH, MHum, MM yang menjabat Ketua Kamar Agama Mahkamah Agung RI sejak 12 April 2017. Hakim anggota terdiri atas dua orang, yakni Dr H Purwosusilo SH MH dan Dr H Yasardin SH MHum. Bahwa terdakwa DP yang merupakan paman kandung korban dinyatakan terbukti bersalah oleh majelis hakim MS Jantho dan dihukum dengan hukuman 200 bulan penjara atau 16,6 tahun dalam putusanya nomor 22/ JN/2020/MS-JtH.

Lalu, terdakwa melalui penasihat hukumnya melakukan upaya banding, lalu terdakwa divonis bebas oleh MS Provinsi Aceh dengan nomor perkara 7/ JN/2021/MS. Aceh tertanggal 20 Mei tahun 2021. Kemudian, atas putusan MS Aceh tersebut JPU Kejari Aceh Besar melakukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung dan Majelis Hakim Agung Mahkamah Agung sependapat dengan pendapat Majelis Hakim MS Jantho dan memutuskan dengan membatalkan putusan MS Aceh Nomor 07/JN/2021/MSAceh dengan menghukum terdakwa uqubat penjara selama 200 bulan, dan dikurangi masa penahanan yang telah ia jalani.

Sebelumnya, abang kandung DP yang merupakan ayah kandung korban juga dipidana 200 bulan atas kejahatannya meniduri bocah Bunga yang seharusnya dia lindungi. Sang ayah melakukan perbuatan tak terpuji itu saat seisi rumah tidur, sedangkan sang paman yang numpang tinggal di rumah abangnya itu merudapaksa ponakannya saat ayah korban pergi kerja. (as)

Berita Populer
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved