Virus Corona

Polemik Penumpang Pesawat Wajib Tes PCR, Ada Yang Mendukung dan Menolak

Syarat tersebut dibuat pemerintah dalam masa perpanjangan PPKM di wilayah Jawa-Bali periode 19 Oktober hingga 1 November 2021.

Editor: IKL
Warta Kota/Nur Ichsan
Suasana kesibukan penumpang pesawat di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Rabu (20/10/2021). Adanya pelonggaran aktifitas PPKM membuat masyarakat yang memanfaatkan transportasi udara makin meningkat untuk menuju ke sejumlah daerah. (Warta Kota/Nur Ichsan) 

PROHABA.CO - Pemberlakuan syarat wajib tes PCR bagi moda transportasi udara atau pesawat menimbulkan polemik.

Syarat tersebut dibuat pemerintah dalam masa perpanjangan PPKM di wilayah Jawa-Bali periode 19 Oktober hingga 1 November 2021.

Kebijakan yang mewajibkan pelaku penerbangan domestik menyertakan hasil pemeriksaan negatif Covid-19 dengan tes PCR meski sudah mendapat vaksin dosis kedua menuai banyak kritikan.

Namun, ada juga pihak yang mendukung kebijakan tersebut dengan alasan kesehatan.

Berikut sejumlah tokoh yang mendukung hingga menolak aturan wajib tes PCR bagi penumpang pesawat:

Baca juga: Penumpang Pesawat Wajib PCR, Berikut Tarif PCR di Sejumlah Layanan Farmasi

Baca juga: Alasan Pemerintah Wajibkan Penumpang Pesawat Tes PCR

Ketua Satgas IDI Mendukung

Ketua Penanganan Satgas Covid-19 dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Prof Zubairi Djoerban mendukung aturan wajib tes PCR bagi penumpang moda transportasi udara atau pesawat.

Selain memiliki tingkat akurasi yang tinggi daripada tes antigen, kebijakan tes PCR dari pemerintah ini tepat karena lebih mempertimbangkan sisi kesehatan.

"Jadi kalau sekarang diperketat ya menurut saya setuju saja. Kali ini pemerintah lebih mempertimbangkan masalah keamanan daripada masalah ekonomi saya kira bagus," ujarnya saat dikonfirmasi Tribunnews.com, Jumat (22/10/2021).

Dokter penyakit dalam ini menerangkan sampai saat ini tes PCR masih menjadi tes terbaik dalam mendeteksi Covid-19.

Diharapkan dengan pengetatan testing ini penularan Covid-19 dapat ditekan semaksimal mungkin.

"PCR lebih baik daripada antigen. Dulu kenapa diperlakukan antigen? Karena kalau antigen teoritiskan bisa lebih cepat mendeteksinya."

"Cuma kemudian mungkin dipikirkan lagi kita ini sudah bagus banget kondisi kasus Covid-19. Jadi kalau sekarang diperketat ya menurut saya setuju saja," jelasnya.

Ia pun mengingatkan meski telah menerima vaksin dosis lengkap tidak ada jaminan seseorang tidak tertular Covid-19.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved