Rabu, 8 April 2026

Tahukah Anda

Antibodi Covid-19 Bertahan di Tubuh Selama 10 Bulan Setelah Terinfeksi

Antibodi Covid-19 masih berada di dalam tubuh penyintas (orang yang selamat) hingga sepuluh bulan setelah terinfeksi...

Editor: Muliadi Gani
FOTO: SHUTTERSTOCK
Ilustrasi tes antibodi terhadap SARS-CoV-2. Ilmuwan menemukan antibodi Covid-19 masih ada di tubuh penyintas Covid hingga sepuluh bulan setelah ia terinfeksi. 

PROHABA.CO - Antibodi Covid-19 masih berada di dalam tubuh penyintas (orang yang selamat) hingga sepuluh bulan setelah terinfeksi.

Selama ini belum ada yang dapat memastikan hingga berapa lama antibodi Covid-19 bertahan dalam tubuh penyintas.

Penelitian terbaru yang terbit di jurnal Nature Microbiology mendeteksi adanya antibodi pada 38 pasien dan petugas kesehatan di RS St Thomas yang terinfeksi Covid- 19 saat gelombang pertama, sebelum mereka divaksinasi.

Dilansir dari Medical Xpress, Jumat (29/10/2021), meski ada penurunan tingkat antibodi, hasilnya menunjukkan bahwa kebanyakan orang (18-19 pasien) mempertahankan tingkat antibodi selama sepuluh bulan setelah mereka terinfeksi.

Antibodi membantu melawan Covid-19 dengan mengikat protein spike dari virus corona SARS-CoV-2 agar tidak bisa menginfeksi sel.

Nah, vaksin meniru protein spike ini agar bisa menciptakan antibodi terhadap Covid-19.

Penelitian yang dipimpin oleh Dr Katie Doores dari School of Immunology & Microbial Sciences juga menguji bagaimana antibodi dari virus corona SAR-CoV-2 spesifi k akan merespons varian lain.

Mereka menguji ketahanan antibodi terhadap varian asli SARSCoV- 2, varian alpha, beta, dan delta.

Mutasi pada varian baru SARSCoV- 2 (alpha, beta, dan delta) telah menimbulkan kekhawatiran.

Baca juga: Obat Antibodi Ganda Efektif Melawan Varian Virus Corona

Baca juga: Mulai Ada Bayi yang Lahir dengan Antibodi Covid-19

Banyak yang bertanya, apakah vaksin yang awalnya dikembangkan untuk menargetkan varian SARS-CoV-2 asli akan efektif terhadap varian baru.

Jika tidak efektif, apakah perlu vaksin baru? Dr Liane Dupont mengatakan, penelitian ini memberikan wawasan unik tentang respons antibodi penetral silang yang disebabkan oleh varian SARS-CoV-2 yang berbeda.

Hasil penelitian ini menunjukkan, antibodi dari varian baru (alpha, beta, atau delta) sangat unik dan ada perbedaan satu sama lain.

Artinya, jika ada vaksin khusus yang dirancang untuk varian baru tersebut, kemungkinan itu kurang efektif untuk varian lain.

Namun di sisi lain, vaksin Covid- 19 yang ada sekarang yang dirancang berdasarkan varian asli SARS-CoV-2 tetap mampu memberikan perlindungan terbaik terhadap semua varian.

Oleh karena itu, ini harus digunakan untuk program vaksinasi.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved