Selasa, 28 April 2026

Tahukah Anda

Indra Penciuman Jutaan Penyintas Covid-19 Tidak Kunjung Pulih

Gejala Covid-19 yang paling umum salah satunya adalah anosmia atau hilangnya kemampuan mencium. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi pasien ...

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
FOTO: FREEPIK/KARLYUKAV
Anosmia(hilang kemampuan mencium) dapat terjadi karena sejumlah kondisi kesehatan selain Covid-19. 

PROHABA.CO - Gejala Covid-19 yang paling umum salah satunya adalah anosmia atau hilangnya kemampuan mencium. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi pasien Covid-19 yang memiliki gejala tersebut.

Pasalnya, menurut sebuah studi yang dipublikasikan di JAMA Otolaryngology-Head & Neck Surgery, diperkirakan sebanyak 700.000 hingga 1,6 juta orang di Amerika Serikat yang terinfeksi virus corona mengalami gangguan indra penciuman selama lebih dari enam bulan.

Namun, peneliti dari Fakultas Kedokteran Universitas Washington di St Louis memperkirakan jumlahnya mungkin lebih dari itu. Para peneliti menganggap kondisi ini sebagai masalah yang serius.

Sebagai perbandingan, data sebelum pandemi tercatat hanya 13,3 juta orang berusia 40 tahun ke atas yang mengalami disfungsi penciuman (OD) atau disfungsi penciuman kronis (COD).

"Data ini menunjukkan kekhawatiran kesehatan masyarakat yang muncul tentang OD dan kebutuhan mendesak bagi penelitian yang berfokus pada pengobatan COD Covid-19," tulis peneliti dalam studi tersebut, dilansir dari CNN, Kamis (18/11/2021).

Sementara itu, penelitian tahun 2020 menunjukkan bahwa sebanyak 72 persen pasien Covid-19 dapat memulihkan indra penciumannya setelah sebulan, tetapi tidak berlaku pada sebagian pasien lainnya.

Baca juga: Penyintas Covid Kemungkinan Mengalami Disfungsi Kognitif

John Hayes, direktur di Sensory Evaluation Center di Penn State's College of Agricultural Sciences, mengatakan, beban penyakit ini akan berlangsung lama hingga beberapa dekade ke depan.

Kehilangan kemampuan pada indra penciuman mungkin terdengar sepele dibandingkan dengan gejala long Covid seperti kelelahan kronis atau masalah jantung.

Kendati demikian, Hayes menegaskan bahwa efek samping Covid-19 ini bisa dialami pada jutaan orang dan bisa membahayakan.

Misalnya, pada studi tahun 2014 yang menemukan orang dengan anosmia dua kali lebih berisiko makan makanan basi dan rentan mengalami depresi.

"(Efek Covid-19) ini benar-benar terkait dengan nafsu makan dan hubungan sosial, seperti orang yang kehilangan indra penciumannya mungkin tidak dapat mengetahui jika mereka memiliki bau badan, dan juga dapat memengaruhi pola makan," ujar Hayes.

Baca juga: 87.782 Orang Divaksin Covid-19 dalam 112 Hari Pelaksanaan

Lebih lanjut, dia berkata, berdasarkan penelitian yang dilakukannya, pasien Covid-19 telah mengalami tiga jenis gangguan penciuman jangka panjang yang berbeda.

Pertama, beberapa orang mengalami kemampuan indra penciuman yang berkurang.

Kedua, mengalami penciuman yang mati, di mana seseorang salah mengenali bau.

Ketiga, mencium aroma yang sebenarnya tidak ada seperti bahan kimia maupun bau terbakar yang disebutnya sebagai 'sindrom tungkai hantu'.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved