Sabtu, 2 Mei 2026

Luar Negeri

Efek Perubahan Iklim, Satwa Liar Jepang Lebih Ganas Serang Warga

Perubahan signifikan terhadap lanskap pedesaan di Jepang telah menyebabkan perubahan perilaku hewan liar di negara itu, yang mengarah pada ...

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
FOTO: AP
Ada peningkatan signifikan dalam jumlah kasus serangan monyet di Jepang pada musim panas ini. 

PROHABA.CO, TOKYO - Perubahan signifikan terhadap lanskap pedesaan di Jepang telah menyebabkan perubahan perilaku hewan liar di negara itu, yang mengarah pada pemberontakan mereka terhadap manusia, menjadi lebih ganas, dan lebih sering terjadi.

Di tahun-tahun sebelumnya, beruang mendominasi serangan terhadap manusia, bersamaan dengan amukan dari babi hutan sesekali.

Namun, terdapat peningkatan tajam dari jumlah laporan serangan kawanan monyet pada musim panas ini.

Sementara itu, pihak berwenang di salah satu kota pesisir juga telah memperingatkan adanya perlawanan agresif dari kawanan lumba-lumba terhadap para perenang.

Sedangkan di masa lalu, konfrontasi semacam itu hanya terjadi ketika manusia tengah tersesat di hutan atau saat para pencari jamur dan sayuran di gunung yang diserang oleh beruang.

Namun sekarang, insiden semacam itu justru semakin sering terjadi di pinggiran beberapa kota terbesar di Jepang.

Baca juga: Perubahan Iklim Berpotensi Sebabkan Pandemi Berikutnya

Beruang ditembak

Pada Juni 2021, pemburu dipanggil untuk menembak beruang cokelat yang telah melukai empat orang di wilayah pinggiran Sapporo, kota terbesar di pulau utara Hokkaido.

Pihak berwenang bahkan sampai menutup bandara kota, 42 sekolah, dan mengunci pangkalan militer mereka, sebelum akhirnya beruang setinggi 2 meter itu dieksekusi.

Dalam waktu enam bulan hingga November 2020, rekor dengan total 13.670 beruang terlihat di seluruh wilayah Jepang.

Tidak kurang dari 63 warga Jepang terluka dalam serangan tersebut, bahkan dua di antaranya meninggal.

Di selatan Jepang, penduduk pulau kecil Kakara tengah mempertimbangkan untuk mengungsi karena babi hutan telah mengambil alih teritorial mereka, hingga menghancurkan tanaman labu dan juga ubi jalar milik warga, bahkan babi hutan itu juga menjadi semakin agresif.

Situasi menjadi sangat buruk sehingga orang tua tidak dapat mengizinkan anak-anak mereka kembali bermain di luar rumah karena takut anak-anak mereka akan diserang oleh hewan-hewan liar itu.

Baca juga: Beruang Bobol Rumah Warga di Bener Meriah, Gula dan Minyak Habis Dimangsa

Pada musim panas ini, media Jepang juga telah meliput sejumlah laporan bentrokan antara pasukan monyet dan penduduk setempat.

Dalam beberapa kasus, simpanse nakal itu telah memasuki pekarangan rumah warga, bahkan membuka jendela dan tak segan-segan merobek tirai nyamuk, menggigit, dan mencakar hingga melukai warga.

Otoritas setempat di Prefektur Yamaguchi telah melaporkan sebanyak 66 insiden yang terjadi hanya pada bulan Juli lalu dan mengimbau kepada penduduk setempat untuk tidak melakukan kontak mata dengan monyet-monyet tersebut karena dapat dianggap sebagai tantangan dan menjadi faktor pemicu serangan.

Pihak berwenang juga telah memasang beberapa perangkap dan melakukan patroli.

Alhasil, dua monyet yang sangat agresif berhasil ditangkap dan disuntik mati.

"Saya pikir, statistik telah mengonfirmasi bahwa kita melihat lebih banyak kasus dalam beberapa tahun terakhir daripada tahun-tahun sebelumnya," kata Mariko Abe, perwakilan dari Masyarakat Konservasi Alam Jepang.

"Tampaknya ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan inside-insiden ini, tapi saya pikir salah satu faktor terbesar, terutama yang terjadi pada tahun ini adalah efek dari perubahan iklim," tambah Abe kepada tim DW.

Baca juga: Gegara Ponsel Disita, Pakai Topeng Monyet, Santri Aniaya Gurunya hingga Tewas

Baca juga: Krisis Iklim Makin Mengkhawatirkan, Kenali 6 Penyebab Pemanasan Global

"Selama sekitar satu dekade terakhir, musim hujan bulan Juni yang biasanya berlangsung selama sekitar satu bulan itu menjadi lebih pendek dan curah hujan pun menurun," katanya.

"Dan tahun ini sangat ekstrem.

Ada tutupan awan selama bulan Juni, tetapi tidak cukup curah hujan dan sekarang kami berada pada rekor suhu tertinggi di seluruh negeri," ungkap Abe lebih lanjut.

Akibatnya, sumber makanan di hutan dan pegunungan belum menghasilkan jumlah yang cukup untuk populasi kera-kera tersebut.

Itu artinya, mereka harus pergi mencari makan.

Dan hal itu yang membawa mereka ke daerah tempat tinggal manusia.

Menurut Abe, pinggiran kota yang terus-menerus merayap lebih jauh ke dalam habitat hewan-hewan liar menjadi salah satu faktor penyebab lainnya.

Kevin Short, seorang profesor yang ahli dalam pendidikan lingkungan di Universitas Ilmu Informasi Tokyo, setuju bahwa hilangnya habitat asli mereka adalah alasan utama meningkatnya jumlah intrusi hewan liar ke daerah perkotaan.

(Kompas.com)

Baca juga: Krisis Iklim Makin Mengkhawatirkan, Kenali 6 Penyebab Pemanasan Global

Baca juga: Ruang Ganti Panas, Mbappe Ingin Tendang Neymar dari PSG

Baca juga: Channa Barca, Ikan Hias Berkepala Ular dengan Harga Termahal di Dunia

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved