Rabu, 15 April 2026

Tahukah Anda

Belalang Bisa Mencium Sel Kanker pada Manusia

Para ilmuwan telah menemukan fakta bahwa belalang ternyata mahir dalam mencium sel kanker pada manusia. Belalang bisa membedakan sel manusia ...

Editor: Muliadi Gani
PIXABAY
Ilustrasi belalang. Belalang adalah salah satu hama yang merusak tanaman. 

PROHABA.CO - Para ilmuwan telah menemukan fakta bahwa belalang ternyata mahir dalam mencium sel kanker pada manusia.

Belalang bisa membedakan sel manusia yang sehat dan mana sel manusia yang terkena kanker hanya dengan menggunakan indera penciuman mereka.

Para ilmuwan merasa temuan ini merupakan suatu hal yang baik karena bisa menjadi peluang untuk dapat mendeteksi penyakit kanker lebih awal dan meningkatkan peluang pemulihan.

Melansir Science Alert edisi (8/8/2022), studi tersebut tidak hanya menemukan fakta belalang bisa mencium sel kanker, tetapi bisa melakukan hal yang lebih baik daripada itu.

Di antaranya memilih garis sel kanker individu atau riwayat, menunjukkan jenis kanker, serta keberadaan kanker dapat dideteksi.

Hal ini dianggap peluang yang baik dalam dunia medis karena jika kita dapat mengetahui bagaimana memanfaatkan kemampuan belalang ini dalam perangkat atau teknologi medis, maka ini akan menjadi potensi perkembangan yang sangat besar dalam bidang kesehatan.

Baca juga: Bangkai Cumi-Cumi Raksasa Ditemukan di Afrika Selatan

Studi ini telah diterbitkan di situs web pracetak BioRxiv sebelum peer-review, mengenai temuan yang menjanjikan untuk deteksi dini kanker.

Di berbagai jenis kanker, tingkat kelangsungan hidup sekitar 10-20 persen ketika kanker terdeteksi pada stadium 4, ketika telah menyebar ke bagian lain dari tubuh.

Bandingkan dengan kanker yang terlihat pada stadium 1, di mana pasien memiliki peluang 80-90 persen untuk bertahan hidup sehingga perbedaanya sangat besar.

Ahli mikrobiologi Christopher Contag dari Michigan State University menjelaskan, dalam studi yang dilakukan, menunjukkan bahwa deteksi belalang yang diukur dengan perubahan aktivitas otak mereka yang diambil oleh elektroda, terbukti andal, sensitif, dan cepat terjadi hanya dalam beberapa milidetik.

“Deteksi dini (kanker) sangat penting, dan kita harus menggunakan setiap alat yang mungkin untuk sampai ke sana, apakah itu direkayasa atau diberikan kepada kita oleh jutaan tahun seleksi alam,” kata Contag.

“Jika kita berhasil, kanker akan menjadi penyakit yang bisa diobati,” tambahnya.

Baca juga: Channa Barca, Ikan Hias Berkepala Ular dengan Harga Termahal di Dunia

Ini semua dimungkinkan karena senyawa organik volatil (VOC) yang kita hirup, yang diketahui para ilmuwan entah bagaimana diubah oleh kehadiran kanker yang mengganggu proses metabolisme sel individu.

Sebenarnya ada projek yang sedang berlangsung, yaitu mengembangkan perangkat ‘hidung bionik’ yang dapat mendeteksi pergeseran VOC, tetapi para ilmuwan masih jauh dari menciptakan sensor yang cocok dengan apa yang telah diciptakan alam.

Tujuan akhir dari tim ini adalah untuk ‘meretas’ otak serangga agar dapat digunakan untuk diagnosis penyakit, merekayasa balik kekuatan mengendus alami belalang.

Contag berpendapat bahwa ini masih sangat awal, tetapi para peneliti dapat melihat jalan menuju perangkat deteksi yang dapat digunakan.

“Secara teoritis, Anda bisa bernapas melalui perangkat, dan itu akan mampu mendeteksi dan membedakan beberapa jenis kanker dan bahkan stadium penyakit mana,” kata insinyur biomedis Debajit Saha dari Michigan State University.

“Namun, perangkat semacam itu belum digunakan dalam pengaturan klinis,” imbuhnya.

Mekanisme studi kemampuan belalang deteksi kanker Contag menjelaskan, dengan temuan ini, kita berharap dapat memanfaatkan kemampuan yang dimiliki oleh belalang dalam hal penciuman bau itu untuk dapat menangkap perubahan sel abnormal pada individu lebih awal.

Baca juga: Berukuran Setengah Milimeter, Robot Kepiting Terkecil di Dunia

Tim peneliti melakukan penelitian ini dengan melihat respons elektroda yang menempel pada otak belalang.

Dengan menilai elektroda belalang, tim dapat mengukur respons serangga terhadap sampel gas dari sel yang berbeda dan membangun profil sinyal yang mewakili bahan kimia yang mereka cium.

Benar saja, profil yang dibuat sebagai respons terhadap sel sehat dan sel kanker berbeda.

Setelah sebelumnya menetapkan bahwa sel-sel dari kanker mulut terlihat berbeda dengan sel-sel normal di bawah mikroskop, dan menempatkannya pada pergeseran metabolit, para ilmuwan dapat mengonfi rmasi bahwa sel-sel tersebut memang berbau berbeda.

Belalang kemungkinan besar bisa mendeteksi bau VOC di udara, yang dilepaskan oleh sampel gas dari sel yang dijadikan bahan studi.

Namun, memang studi khusus ini membatasi pengujian sampel saat itu pada kanker mulut.

Kendati demikian, para peneliti yakin bahwa jenis kanker lain dapat dideteksi dengan cara yang sama, karena sinyal yang berbeda dari VOC yang dihasilkan oleh gas dari sel-sel itu akan berbeda.

“Kami berharap sel kanker akan tampak berbeda dari sel normal.

Tetapi ketika serangga dapat membedakan tiga kanker yang berbeda satu sama lain, itu luar biasa,” kata Contag.

(Kompas. com)

Baca juga: Kepercayaan Terhadap Polri Turun Jadi 28 Persen, Ini Penegasan Kapolri

Baca juga: Sikap Suami Berubah Drastis Setelah 10 Tahun Nikah, Sang Istri Kaget saat Menemukan Benda Ini di Tas

Baca juga: Moniq Cewek Papua Dinikahi Cowok Bule Brondong Asal Belanda, Kini Keduanya Tinggal di Luar Negeri

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved