Minggu, 7 Juni 2026

Tahukah Anda

Kenapa Hari Senin Terasa Menyebalkan?

Bagi sebagian besar orang, ungkapan besok Senin, mungkin terdengar tidak menyenangkan mengingat harus kembali beraktivitas setelah akhir pekan ...

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
Unsplash
Monday blues adalah perasaan negatif yang muncul ketika menghadapi hari senin 

PROHABA.CO - Setelah melewati akhir pekan, tak terasa Senin kembali datang dan sering kali terasa sangat menyebalkan.

Hari Senin bahkan dikaitkan dengan tingkat stres emosional tertinggi, dengan tingkat produktivitas kerja terendah.

Bagi sebagian besar orang, ungkapan besok Senin, mungkin terdengar tidak menyenangkan mengingat harus kembali beraktivitas setelah akhir pekan yang panjang.

Lantas, kenapa Senin terasa menyebalkan dan disebut hari terburuk? Kondisi ini sebenarnya berkaitan dengan efek kurang tidur dan disfungsi sirkadian.

Dilansir dari Psychology Today, Minggu (14/8/2022) secara subjektif, kebanyakan orang meremehkan efek perubahan pola tidur terhadap kesehatan dan fungsi tubuh.

Studi di laboratorium menemukan bahwa satu sampai dua jam kurang tidur menyebabkan penurunan fungsi kognitif, gangguan hormon, percepatan penuaan biologis, hingga pola aktivasi gen yang merugikan.

Mayoritas perubahan ini kerap kali tidak terlihat ataupun disadari.

Baca juga: Peneliti Berhasil Ungkap Jejak Kaki Hantu Kuno di Gurun Utah

Hanya ketika efeknya mencapai ambang intensitas tinggi seperti pada jet lag atau episode insomnia, orang biasanya lebih memperhatikannya.

Dalam kasus jet lag, kebanyakan orang dewasa akrab dengan kombinasi antara kelelahan, perlambatan mental, dan pengaruh akibat perjalanan melintasi beberapa zona waktu.

Adapun jet lag adalah contoh gangguan sirkadian yang terjadi, ketika siklus tidur-bangun menjadi tidak selaras dengan jadwal 24 jam yang biasa digunakan tubuh.

Efek samping kognitif, emosional, dan fisik dari jet lag disebabkan oleh kumpulan hormon kompleks yang pengaturannya secara perlahan menjadi kacau.

Dalam banyak kasus, perubahan siklus tidur-bangun ini berlangsung selama beberapa jam.

Setelah seminggu sekolah atau jam kerja reguler misalnya, seseorang dapat memanfaatkan hari Sabtu mereka untuk begadang pada Jumat malam dan tidur pada Sabtu pagi.

Pola serupa mungkin berulang pada Sabtu malam dan Minggu pagi.

Baca juga: Isi Chat Putri Candrawathi Puji Brigadir J, Esoknya Dieksekusi

Hanya dalam 48 jam ini, perubahan tidur-bangun secara nyata menggeser jam internal dan siklus hormon seseorang.

Kadar kortisol atau hormon stres biasanya naik satu hingga dua jam sebelum orang tersebut bangun untuk sekolah atau bekerja, dan menurun setelah puncak siklus ini.

Demikian pula, tingkat melatonin untuk mengatur pola tidur yang biasanya memuncak pada malam hari mulai lebih lambat di akhir pekan, untuk menyelaraskan dengan waktu tidur.

Banyak hormon lain yang sebagian diatur oleh mekanisme sirkadian seperti estrogen, testosteron, hormon pertumbuhan, hormon tiroid, insulin, dan hormon nafsu makan lainnya, berusaha keras karena pola tidur berubah.

Siklus hormon tersebut memiliki efek mendalam tidak hanya pada perasaan saja, tetapi fungsi organ internal.

Oleh karena itu, ketika tidak selaras dengan jadwal tidur alami, Anda menjadi rentan terhadap sejumlah kondisi fisik dan psikologis yang negatif.

Saat Senin datang, setelah 48 jam dari siklus tidur-bangun yang terlambat, kadar kortisol memuncak selama perjalanan ke tempat kerja dan di pagi hari bukan sebelum bangun.

Akibatnya, orang cenderung stres saat Senin pagi.

Baca juga: Lucinta Luna Bongkar Biaya Operasi Pita Suara

Bangun lebih awal pada hari Senin dibandingkan saat Sabtu dan Minggu, mungkin juga menyebabkan resistensi insulin dan leptin.

Sehingga, memengaruhi suasana hati, fungsi kognitif, nafsu makan, dan kontrol glukosa darah.

Efek dari disregulasi hormon begitu kuat bahkan mengurangi kemampuan jantung untuk merespons stres, meningkatkan risiko kejadian kardiovaskular seperti serangan jantung.

Cara mengatasi hari Senin yang buruk Solusi paling efektif dan praktis untuk mengatasi hari Senin yang terasa buruk adalah meminimalkan perubahan siklus tidur-bangun, antara hari kerja dan akhir pekan.

Artinya, mengurangi tingkat perubahan jam sirkadian merupakan cara untuk menghindari peningkatan stres di hari Senin.

Peneliti menemukan, tingkat penurunan variabilitas detak jantung yang disebabkan oleh jet lag atau akhir pekan secara langsung berkaitan dengan perbedaan siklus tidur-bangun selama sepekan.

Sederhananya, orang yang menerapkan pola tidur-bangun dengan konsisten sepanjang minggu merasa lebih baik pada hari Senin seperti pada hari-hari lain dalam sepekan.

Maka, tetap mengikuti jam tidur seperti pada hari biasanya dapat membantu meminimalkan perasaan menyebalkan yang muncul saat memulai aktivitas seperti bekerja ataupun bersekolah. (Kompas.com)

Baca juga: Naik Mobil Pikap, Tiga Orang Turun dan Gasak Kotak Amal di Masjid Al-Barokah Klaten

Baca juga: Peneliti Temukan Kura-Kura Raksasa Baru di Galapagos, Spesiesnya Belum Diketahui

Baca juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental Anak, Deteksi Sejak Usia Sekolah

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved