Sabtu, 11 April 2026

Tahukah Anda

Misteri Air Terjun Darah Antartika Terungkap, Berikut Penjelasannya

Ahli geografi Inggris, Thomas Griffith Taylor menemukan pemandangan yangmenakutkan ketika melakukan perjalanan melalui Antartika Timur pada tahun 1911

Editor: Muliadi Gani
Peter Rejcek/NSF/Public Domain via IFLSCIENCE
Ilustrasi Blood Falls atau air terjun darah di Antartika. Selama satu abad, misteri fenomena air terjun darah akhirnya terpecahkan. (Peter Rejcek/NSF/Public Domain via IFLSCIENCE) 

PROHABA.CO - Pemandangan merah seperti darah kontras dengan putihnya es salju abadi.

Tampilannya begitu mengganggu pandangan mata, seperti adegan mengerikan telah terjadi di Antartika Timur.

Ahli geografi Inggris, Thomas Griffith Taylor menemukan pemandangan yangmenakutkan ketika melakukan perjalanan melalui Antartika Timur pada tahun 1911.

Dalam ekspedisinya tersebut, ia menjumpai tepi gletser yang mengeluarakan warna merah seperti darah.

Misteri fenomena air terjun ini pun terus memberi tanda tanya besar.

Setelah satu abad kemudian, misteri mengapa glestser yang dijuluki Blood Falls atau air terjun darah ini pun akhirnya terpecahkan.

Misteri air terjun darah Akhirnya, sekelompok peneliti menemukan penjelasan dari misteri air terjun darah di Antartika tersebut dalam sebuah studi baru.

Dikutip dari IFL Science, Senin (10/7/2023) para ilmuwan di Amerika Serikat menggunakan mikroskop elektron transmisi yang kuat untuk menganalisis sampel air terjun darah tersebut.

Baca juga: Wisata Aceh Tengah, Temukan Keindahan alam Takengon di destinasi Air Terjun Mengaya

Saat menganalisis sampel air tersebut, mereka menemukan banyak nanosfer kaya zat besi yang berubah menjadi merah saat teroksidasi.

Inilah yang kemudian mengungkap misteri asal-usul warna merah darah pada air terjun tersebut.

“Setelah saya melihat gambar mikroskop, saya perhatikan bahwa ada nanosfer kecil dan kaya akan zat besi dan mereka memiliki banyak elemen berbeda di dalamnya dan semuanya bervariasi,” kata Ken Livi, seorang ilmuwan peneliti di Departemen Sains dan Teknik Material Sekolah Whiting di Universitas Johns Hopkins, Amerika Serikat.

Sebelumnya warna merah yang mengalir dari gletser itu diperkirakan karena oksidasi besi.

Namun, teknik pencitraan yang terbaru ini telah membantu para peneliti mendapatkan gambar yang lebih jelas tentang mengapa air yang keluar berwarna merah cerah dan mengapa penelitian sebelumnya gagal mengungkapnya.

“Agar menjadi mineral, atom harus tersusun dalam struktur kristal yang sangat spesifik.

Nanosfer ini tidak berbentuk kristal sehingga metode yang sebelumnya digunakan untuk memeriksa padatan tidak mendeteksinya,” jelas Livi.

Baca juga: Pertama di Dunia, Ahli Lakukan Transfusi Sel Darah Hasil Buatan Lab

Baca juga: Polisi Tangkap Dua Pengirim 24,6 Kg Ganja Via Ekspedisi, Jaringan Aceh-Banten-Jakarta

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved