Lingkungan
84 Persen Warga Aceh Singkil Masih BAB Sembarangan
Kabupaten Aceh Singkil menjadi nomor 7 tertinggi tingkat BAB sembarangan di tempat terbuka hingga November 2023.
Penulis: Dedek Sumarnim | Editor: Jamaluddin
Dijelaskan, hal ini menjadi masalah kesehatan yang serius karena tinja yang mengalir di sungai dan laut mencemari serta menjadi sumber penyakit bagi yang lain.
PROHABA.CO – Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di tempat terbuka dapat mencemari lingkungan.
Contoh BABS antara lain di laut, sungai, parit, dan sebagainya.
Hingga November 2023, sebanyak 66,65 persen warga Aceh masih BABS di tempat terbuka.
Kabupaten Aceh Singkil menjadi nomor 7 tertinggi tingkat BAB sembarangan di tempat terbuka.
Hal itu seperti data yang dipaparkan Kadis Kesehatan Aceh, dr Munawar, saat ditemui di ruangannya, Senin (11/12/2023).
Dijelaskan, hal ini menjadi masalah kesehatan yang serius karena tinja yang mengalir di sungai dan laut mencemari serta menjadi sumber penyakit bagi yang lain.
"Bahkan ada yang mendapat rumah duafa bantuan dari pemerintah, minta supaya kamar mandinya dipisah ke luar rumah," ungkap dr Munawar dikutip dari Serambinews.com.
"Ini sangat sulit mengubah perilaku masyarakat BAB sembarangan di tempat terbuka, namun kita terus mendorong agar perlahan berubah," tambahnya.
Difteri dan campak meningkat
Pada bagian lagi, Kadis Kesehatan Aceh menjelaskan bahwa penyakit difteri dan campak kembali meningkat di Aceh.
Penyebabnya karena imunisasi pada bayi saat baru lahir masih rendah.
Dikatakan, orang tua terutama kaum bapak banyak yang menolak anaknya diimunisasi setelah pandemi Covid-19.
Alasannya, dampak vaksin saat imunisasi menyebabkan anak demam tinggi dan sakit.
"Padahal, demam setelah vaksin itu bagus, artinya ada reaksi dalam pembentukan imun tubuh," jelas dr Munawar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/prohaba/foto/bank/originals/BAB-tempat-terbuka.jpg)