Minggu, 14 Juni 2026

Pemilu 2024

Pemilu Indonesia 2024 Jadi Perhatian Dunia, Ini Alasannya

Pemilihan Umum merupakan momen penting dalam kehidupan demokratis suatu negara. Tak hanya menjadi sorotan dalam negeri, namun juga menarik perhatian

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
ISTOCKPHOTO/ABUDZAKY SURYANA
Ilustrasi pemilih memasukkan surat surat ke kotak suara. 

PROHABA.CO, JAKARTA - Pemilihan Umum merupakan momen penting dalam kehidupan demokratis suatu negara.

Tak hanya menjadi sorotan dalam negeri, namun juga menarik perhatian dunia internasional.

Pemilihan Umum Indonesia 2024 tidak terkecuali.

Dalam konteks globalisasi dan teknologi informasi yang semakin maju, media asing memainkan peran penting dalam memberikan liputan, analisis, dan pandangan terhadap proses politik di berbagai belahan dunia.

Termasuk media asal Inggris The Economist menerangkan mengapa pemilihan umum atau Pemilu 2024 Indonesia diperhatikan dunia.

Ada lima faktor yang dijabarkan media berusia 180 tahun ini, meliputi kapasitas negara, demografi penduduk, pertumbuhan ekonomi, komoditas, dan lokasi persaingan negaranegara adidaya.

Pemilu Indonesia 2024 digelar serentak pada Rabu (14/2/2024). Sekitar 204 juta warga memiliki hak pilih di lebih dari 17.000 pulau untuk menentukan penerus Presiden Joko Widodo.

Sebanyak tiga pasangan calon presiden dan calon wakil presiden bersaing mendapatkan suara yaitu Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, dan Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

Berikut adalah lima faktor mengapa pemilu Indonesia 2024 diperhatikan oleh dunia menurut The Economist.

1. Kapasitas negara

The Economist menggambarkan, ukuran Indonesia yang sangat luas jika ditumpangkan ke wilayah Eurasia akan membentang dari Irlandia ke Turkmenistan.

“Penduduknya tersebar di ribuan pulau, beberapa di antaranya padat penduduk, dipenuhi lahan pertanian, dan pabrik.

Kondisi geografis yang menantang mendorong ledakan layanan digital,” tulisnya.

Baca juga: Pemilu di Aceh Besar Lancar, Pj Bupati Bersama Istri Nyoblos di TPS 01 Gampong Gani

Jakarta contohnya, menjadi salah satu inkubator perusahaan teknologi baru tersukses di Asia Tenggara, menurut media ini.

Hampir empat perlima masyarakat Indonesia memiliki ponsel pintar (smartphone), membuat wilayah-wilayah negara ini lebih terhubung daripada sebelumnya.

Kemudian, disinggung pula soal Presiden Jokowi yang membangun sejumlah bandara, pelabuhan, bendungan, dan ratusan kilometer jalan tol sehingga dijuluki Builder-in-Chief.

“Proyek terbesarnya adalah rencana pemindahan ibu kota ke Kalimantan Timur di Pulau Kalimantan.

Proyek kontroversial senilai 32 miliar dolar AS (Rp 500,27 triliun) ini akan jatuh ke tangan sang penerus,” lanjutnya.

2. Demografi penduduk

Bonus demografi yang ditandai pertumbuhan kelas menengah yang mencapai 60 persen jumlah penduduk Indonesia ini menjadi pemicu naiknya konsumsi energi.

Indonesia disebut sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia sehingga demografi penduduknya adalah aset potensial.

Dengan 276 juta penduduk, Indonesia adalah pasar konsumen yang sangat besar, apalagi usia penduduknya masih muda, yaitu 25 persen di bawah 15 tahun dan hanya 7 persen yang berumur di atas 65 tahun.

The Economist mencontohkan, debat capres-cawapres tahun ini menyedot sekitar 100 juta penonton sehingga kampanyenya lebih fokus ke isu-isu dan tak melulu megah serta meriah.

APES, Seorang Lansia Dibohongi Pendamping saat Pemilu
APES, Seorang Lansia Dibohongi Pendamping saat Pemilu (SERAMBI ON TV)

Baca juga: Ayu Ting Ting Dapat Pujian dari Calon Ayah Mertua Usai Dilamar Muhammad Fardana

3. Pertumbuhan ekonomi

Kemudian, Indonesia juga disebut salah satu negara dengan kinerja ekonomi terbaik di dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Meski pemerintahan Jokowi belum mencapai pertumbuhan ekonomi tahunan 7 persen seperti yang dijanjikan, Indonesia mencatatkan diri sebagai negara berkembang terbesar keenam berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB).

“PDB per kapitanya melebihi PDB India dan Vietnam jika disesuaikan dengan daya beli,” urai The Economist.

Di sisi lain, semakin hari penduduk Indonesia semakin padat.

“Jika Indonesia tetap di jalur ini selama dekade berikutnya, Indonesia bisa menjadi salah satu dari sepuluh negara dengan perekonomian terbesar di dunia,” imbuhnya.

Akan tetapi, tantangan besar masih harus dihadapi penerus Jokowi seperti pertumbuhan ekonomi yang tidak merata.

The Economist mencontohkan Jakarta yang PDB per orangnya naik menjadi sekitar 19.000 dolar AS (Rp297 juta) per tahun pada 2022, tetapi di Provinsi Jawa Tengah masih di bawah 3.000 dolar AS (Rp46,89 juta).

4. Komoditas

Faktor ini menjadi tulang punggung perekonomian negara karena sebagian di antaranya diminati negara-negara lain terkait transisi energi.

Produksi nikel bahan pembuat baterai kendaraan listrik misalnya, yang jauh melebihi negara-negara lain di dunia.

Indonesia hendak membuat baterai mobil listrik dengan total kapasitas 140GWh pada 2030, hampir sama dengan produksi global pada 2020.

Analisis The Economist memperkirakan, pada 2030 Indonesia dapat menjadi produsen komoditas ramah lingkungan terbesar keempat di dunia setelah Australia, Chile, dan Mongolia.

Baca juga: Pemilu di Indonesia Berlangsung 14 Februari 2024, Begini Harapan Pemain Bali United asal Palestina

Pemerintah RI saat ini melarang beberapa ekspor mineral untuk mendorong perusahaan multinasional membangun pabrik di Indonesia.

Kebijakan yang dikenal sebagai hilirisasi.

5. Lokasi persaingan negara-negara adidaya

Perpaduan lokasi, kapasitas, dan sumber daya menjadikan Indonesia arena utama persaingan negara-negara adidaya.

Investasi terus mengalir dari Amerika Serikat (AS) dan Cina.

Negara yang disebut terakhir itu berinvestasi lebih banyak.

Dunia akan menantikan bagaimana presiden Indonesia berikutnya mengatasi dua masalah, yaitu ketegangan AS-Cina dan hilirisasi.

Hubungan AS-Cina yang semakin tegang dapat berdampak ke perusahaan-perusahaan Cina yang menjadi andalan Indonesia karena dapat terpengaruh tarif atau sanksi dari AS.

Selanjutnya, hilirisasi mungkin bermanfaat bagi nikel, tetapi bisa menjadi bumerang di sektor lain.

Industri tenaga surya di Indonesia misalnya, yang masih terhambat peraturan pemerintah.

“Malaysia, Thailand, dan Vietnam yang menerapkan lebih sedikit pembatasan terhadap investor luar menjadi tujuan lebih menarik bagi perusahaan yang ingin memindahkan rantai pasokan mereka dari Cina,” pungkasnya.

(Kompas.com)

 

Baca juga: APES, Seorang Lansia Dibohongi Pendamping saat Pemilu

Baca juga: Perhatikan! Ini Imbauan Bawaslu serta Larangan pada Masa Tenang Pemilu 2024 dan Sanksinya

Baca juga: Gara-gara Sang Istri Hanya Dapat 3 Suara, Suami Caleg di Jambi Aniaya Ketua RT dan Anggota KPPS

 

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "5 Alasan Kenapa Pemilu Indonesia 2024 Diperhatikan Dunia", 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 02:00 WIB
Qatar
Qatar
1 - 1
Switzerland
Swiss
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 05:00 WIB
Brazil
Brasil
1 - 1
Morocco
Maroko
Grup C - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 08:00 WIB
Haiti
Haiti
0 - 1
Scotland
Skotlandia
Grup D - Matchday 1
Minggu, 14 Juni 2026 | 11:00 WIB
Australia
Australia
2 - 0
Turkiye
Turki
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved