Rabu, 20 Mei 2026

Kesehatan

Apa Itu Brain Rot? Berikut Tanda-Tanda, Bahaya. dan Cara Mengatasinya

Dalam konteks media sosial, brain rot dapat terjadi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten yang bersifat ringan dan instan

Tayang:
Penulis: Amelia Puspa Trinanda | Editor: Jamaluddin
Canva Premium
ILUSTRASI BRAIN ROT - Grafis yang dibuat melalui aplikasi Canva pada Kamis (17/4/2025) menunjukkan ilustrasi brain rot. Salah satu fenomena yang kini semakin banyak dibicarakan adalah brain rot. Berikut ini bahaya brain rot, tanda-tanda. dan cara mengatasi brain rot. 

Dalam konteks media sosial, brain rot dapat terjadi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten yang bersifat ringan dan instan seperti video TikTok, atau Instagram yang hanya berdurasi beberapa detik tanpa memberikan nilai lebih.

PROHABA.CO - Di era digital ini, media sosial sudah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.

Namun, tahukah Kamu bahwa kebiasaan mengonsumsi konten-konten di media sosial bisa mempengaruhi kualitas kesehatan mental kita?

Salah satu fenomena yang kini semakin banyak dibicarakan adalah brain rot.

Dilansir dari laman Oxford University Press, istilah ini merujuk pada kondisi mental yang terjadi akibat kebiasaan mengonsumsi konten digital yang tidak bernilai, atau biasa disebut dengan konten receh. 

Konten-konten ringan yang tidak memerlukan banyak pemikiran dan singkat, seperti meme lucu, video pendek, atau tantangan viral, dapat menyebabkan otak kita merasa lelah, tidak fokus, dan sulit untuk berfokus pada hal-hal yang mendalam.

Karena tak sedikit yang mengalaminya, istilah brain rot banyak digunakan sepanjang tahun 2024 dan terpilih sebagai Oxford Word of the Year.

Apa itu brain rot?

Secara sederhana, brain rot adalah kondisi di mana otak kita merasa 'lelah' dan kehilangan kemampuan untuk fokus akibat kebanyakan terpapar konten yang tidak bermutu.

Dalam konteks media sosial, brain rot dapat terjadi ketika seseorang terlalu sering mengonsumsi konten yang bersifat ringan dan instan seperti video TikTok, atau Instagram yang hanya berdurasi beberapa detik tanpa memberikan nilai lebih.

Meskipun istiah ini tidak merujuk pada gangguan medis, efek dari brain rot dapat sangat mempengaruhi kualitas hidup kita, terutama dalam hal konsentrasi dan produktivitas.

Tanpa kita sadari, kebiasaan ini dapat mempengaruhi cara berpikir dan kemampuan kita dalam menyelesaikan tugas yang memerlukan pemikiran yang mendalam.

Mengapa brain rot bisa terjadi?

Media sosial memang dirancang untuk memikat pengguna agar terus berada dalam platform tersebut.

Algoritma cerdas dari aplikasi seperti TikTok, Instagram, dan YouTube akan menyajikan konten yang sesuai dengan minat pengguna, sering kali dalam bentuk video singkat yang mudah diterima.

Namun, konsumsi berlebihan terhadap konten-konten ini tanpa disadari dapat mengarah pada penurunan kemampuan otak untuk melakukan pemikiran kritis.

Otak kita menjadi terbiasa dengan informasi yang cepat dan mudah diproses, sehingga sulit untuk kembali fokus pada hal-hal yang lebih menantang.

Tanda-Tanda mengalami brain rot

Dilansir dari laman Alodokter pada Kamis (17/4/2025), siapa pun yang mengakses internet secara aktif bisa jadi mengalami brain rot, tidak terkecuali anak-anak dan remaja.

Berikut tanda-tanda untuk mengenali apakah seseorang mengalami brain rot:

  • Lebih tertarik scrolling media sosial saat sedang bersama teman, keluarga, atau kolega.
  • Sulit untuk melepaskan diri dari gadget, bahkan saat bekerja
  • Terlalu sering memeriksa notifikasi ponsel
  • Terlalu banyak menerima informasi yang kurang penting
  • Susah tidur (insomnia)
  • Mengalami mata lelah atau sakit kepala setiap selesai memainkan gadget.

Cara mengatasi brain rot 

  1. Atur Waktu Menggunakan Media Sosial

Batasi waktu Anda untuk menggunakan media sosial.

Gunakan fitur pengingat waktu layar di ponsel untuk membantu mengontrol durasi penggunaan aplikasi tertentu.

2. Ciptakan Waktu Bebas Gadget

Tentukan waktu tertentu setiap hari untuk tidak menggunakan ponsel, misalnya satu jam sebelum tidur atau saat makan.

Ini memberi kesempatan bagi otak untuk beristirahat.

3. Pilih Konten yang Meningkatkan Pengetahuan

Alih-alih terus terjebak dalam konten ringan, coba pilih konten yang dapat memberi manfaat lebih, seperti podcast edukatif, artikel yang memperluas wawasan, atau video dokumenter.

4. Lakukan Detoks Digital Secara Berkala

Cobalah untuk melakukan detoks digital selama satu hari atau beberapa jam setiap minggu.

Gunakan waktu tersebut untuk melakukan kegiatan offline yang bermanfaat seperti olahraga atau bersosialisasi tanpa perangkat digital.

5. Latih Fokus dengan Aktivitas Offline

Lakukan aktivitas yang dapat melatih fokus otak, seperti membaca buku, menulis, atau mengerjakan tugas yang membutuhkan konsentrasi penuh.

Mari lebih bijak dalam memilih konten yang dikonsumsi, sehingga otak kita tetap terjaga kemampuannya untuk berpikir jernih dan tetap produktif. (Penulis adalah mahasiswa internship dari Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala)

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News
 

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved