Jumat, 12 Juni 2026

Kesehatan Rambut

Sering Mengalami Kerontokan Rambut yang berlebihan? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Setiap individu pasti mengalami rambut rontok 50-100 helai setiap harinya, namun hal ini jangan disepelekan jika anda mengalami kerontokan berlebihan.

Tayang:
Penulis: Cut Bintu Jabbabirah | Editor: Jamaluddin
FREEP!K
ILUSTRASI RAMBUT RONTOK - Ilustrasi rambut rontok. Umumnya, setiap orang akan mengalami rambut rontok kurang lebih 50-100 helai setiap hari. Namun, jika kamu mengalami rambut rontok dalam ukuran yang lebih dari itu, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang lazim dan harus segera dikonsultasikan ke dokter. 

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya rambut rontok, seperti faktor keturunan, perubahan hormon, penuaaan, akibat penggunaan obat medis, dan kondisi medis.

PROHABA.CO - Rambut rontok yang dalam dunia medis dikenal dengan alopecia merupakan suatu hal yang bisa terjadi pada rambut kepala manusia atau rambut yang berada di bagian tubuh lainnya.

Kondisi ini bisa terjadi dalam waktu atau keadaan tertentu baik bersifat sementara atau permanen.

Ada berbagai faktor yang dapat menyebabkan terjadinya rambut rontok, seperti faktor keturunan, perubahan hormon, penuaaan, akibat penggunaan obat medis, dan kondisi medis.

Umumnya, setiap orang akan mengalami rambut rontok kurang lebih 50-100 helai setiap hari.

Namun, jika kamu mengalami rambut rontok dalam ukuran yang lebih dari itu, maka hal tersebut bukanlah sesuatu yang lazim dan harus segera dikonsultasikan ke dokter.

Rambut yang rontok melebihi 100 helai per hari secara medis disebut sebagai telogen effluvium ini terjadi biasanya ketika seseorang mengalami stres, tertekan baik secara fisik maupun emosional.

Secara umum, rambut rontok yang melebihi kadarnya ini dan pertumbuhan rambut yang lambat disebabkan oleh beberapa faktor berikut:

  • Stres emosional

Jika mengalami stres, maka seseorang akan mengalami rambut rontok yang berlebihan.

Ada tiga jenis kerontokan rambut yang disebabkan oleh stres yaitu:

  1. Telogen Effluvium

Telogen Effluvium merupakan jenis rambut rontok yang paling umum akibat stres.

Stres menyebabkan lebih banyak folikel rambut masuk ke fase istirahat (telogen), sehingga rambut mengalami kerontokan dalam jumlah besar sekitar 2–3 bulan setelah stres terjadi dan biasanya rambut rontok bersifat sementara jika stres ditangani dengan baik.

2. Alopecia Areata

Alopecia Areta adalah kondisi autoimun yang bisa dipicu oleh stres berat dan tubuh menyerang folikel rambut sehingga menyebabkan kerontokan berbentuk bulat atau bercak-bercak.

Rambut rontok ini bukan hanya terjadi di rambut kepala, tapi juga terjadi pada alis, bulu mata, dan lain-lain.

3. Trichotillomania

Yang terakhir ada Trichotillomania, di mana seseorang mengalami gangguan psikologis dan menarik rambutnya sendiri sebagai respons terhadap stres atau kecemasan.

Ketika seseorang melakukan tindakan seperti menarik rambutnya sendiri, ini menyebabkan kebotakan tidak merata dan rambut di kepala mengalami penipisan.

Ketika seseorang mengalami rambut rontok, apakah rambut di kepala akan tumbuh kembali?,

Pertanyaan tersebut sering muncul ketika seseorang sadar bahwa rambut mereka mulai menipis dan mengalami rambut rontok dalam jumlah yang melampaui batas kewajarannya.

Dalam kebanyakan kasus, rambut akan tumbuh kembali setelah stres berkurang dan tubuh kembali ke kondisi seimbang.

Proses pertumbuhan kembali bisa memakan waktu 3–6 bulan atau lebih tergantung pada tingkat keparahan dan penanganannya.
 
Jika Anda mengalami atau merasa rambut anda rontok di luar batas kewajaran dan sudah parah dan bahkan sudah berlangsung lebih dari 6 bulan, maka disarankan untuk berkonsultasi ke dokter kulit atau spesialis rambut (trikologis) untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Sebab, jika Anda tidak menanganinya segera akan sangat berbahaya.

Anda bukan hanya mengalami kebotakan tapi juga bisa mengganggu kesehatan mental dan fisik lainnya.

Stres juga bisa mengganggu penyerapan nutrisi penting untuk rambut seperti zat besi, vitamin D, dan protein.

  • Perubahan Hormonal 

Perubahan hormon sendiri yang terjadi pada seseorang dapat terjadi pada beberapa kasus seperti ketika seorang perempuan mengandung dan setelah melahirkan.

Di saat seorang perempuan sedang mengandung, maka kadar hormon estrogen meningkat dan membuat rambut tampak lebih tebal.

Namun, setelah melahirkan, kadar hormon itu menurun drastis yang dapat menyebabkan rambut rontok cukup banyak dalam beberapa bulan pertama setelah persalinan.

Menopause,

Saat menopause, kadar estrogen dan progesteron menurun dan bisa menyebabkan rambut menjadi lebih tipis dan mudah rontok.

Sindrom Ovarium Polikistik (PCOS)
PCOS menyebabkan ketidakseimbangan hormon androgen (hormon laki-laki) pada perempuan.

Hal ini dapat menyebabkan rambut rontok di kulit kepala (alopecia androgenik) dan pertumbuhan rambut berlebihan di area lain (hirsutisme).

Selain itu, Hormon stres (kortisol) dapat mengganggu siklus pertumbuhan rambut, memperpanjang fase istirahat, dan memperlambat pertumbuhan rambut baru.

  • Kekurangan Gizi

Rambut rontok ada kaitannya dengan kekurangan gizi, karenakan rambut terdiri atas protein (keratin), dan pertumbuhannya sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi. 

Jika tubuh kekurangan nutrisi penting, maka folikel rambut tidak mendapatkan 'bahan baku' yang cukup untuk mempertahankan pertumbuhan yang sehat.

Kekurangan gizi membuat tubuh tidak dapat memelihara rambut dengan baik, sehingga terjadi kerontokan.

Untuk menjaga kesehatan rambut, penting untuk menjaga pola makan seimbang dengan nutrisi yang cukup.

  • Mengidap Penyakit Tertentu

Beberapa penyakit atau kondisi medis tertentu dapat menyebabkan rambut rontok, seperti masalah Tiroid (Hipotiroidisme/Hipertiroidisme).

Ketidakseimbangan hormon tiroid mengganggu siklus pertumbuhan rambut.

Anemia Defisiensi zat besi  z

Zat besi sangat penting untuk memproduksi sel darah merah dan pertumbuhan rambut.

Kekurangannya zat besi membuat rambut menjadi tipis dan mudah rontok.

Polycystic Ovary Syndrome (PCOS)

Gangguan hormonal yang umum pada wanita usia subur.

Kadar androgen (hormon pria) yang tinggi menyebabkan rambut rontok seperti pola kebotakan pria (androgenetic alopecia). 

  • Lupus
    Penyakit autoimun yang menyerang jaringan tubuh, termasuk folikel rambut dan dapat menyebabkan rambut rontok secara menyeluruh atau dalam bercak.
  • Kanker dan Kemoterapi
    Sel kanker dan efek samping pengobatan seperti kemoterapi dan radioterapi dapat merusak folikel rambut dan kerontokan sering terjadi secara menyeluruh tapi umumnya bisa tumbuh kembali setelah pengobatan selesai. 
  • Penyakit Kulit Kepala (Dermatitis Seboroik, Psoriasis, Infeksi Jamur seperti Tinea Capitis)
    Peradangan dan infeksi bisa merusak folikel rambut atau menyumbat pertumbuhannya. (Penulis adalah mahasiswa internship dari Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala)

Update berita lainnya di PROHABA.co dan Google News

 

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved