Kamis, 18 Juni 2026

Tahukah Anda

Berbeda Jenis Rokok, Beda Pula Letak Kankernya, Ini Kata Dokter

Merokok merupakan faktor risiko paling utama yang menyebabkan kanker paru dan beragam jenis kanker lainnya.

Tayang:
Editor: Muliadi Gani
FOTO: SHUTTERSTOCK
HASIL PEMERIKSAAN PARU - Ilustrasi hasil pemeriksaan paru. Tampilan paru-paru sehat (kiri) dan post covid-19. Beda jenis rokok, beda pula letak kankernya. Berikut penjelasannya.  

PROHABA.CO -  Merokok merupakan faktor risiko paling utama yang menyebabkan kanker paru dan beragam jenis kanker lainnya.

Apapun jenis rokoknya, keretek atau filter, maupun hanya sebagai perokok pasif dapat menyebabkan kanker.

Namun, yang jarang diketahui banyak orang adalah bahwa jenis rokok yang digunakan dapat memengaruhi lokasi munculnya kanker dalam tubuh.

Rokok filter, kretek, cerutu, hingga rokok elektrik masing-masing memiliki risiko kanker yang berbeda berdasarkan bahan dan cara penggunaannya.

Kebiasaan merokok merupakan faktor risiko terbesar terjadinya kanker paru. 

Meski begitu, jenis rokok yang dikonsumsi ternyata memainkan peran penting dalam menentukan tipe kanker paru yang berkembang.

Menurut pemaparan dr Sita Laksmi Andarini SpP(K), jenis rokok kretek atau nonfilter yang menghasilkan asap lebih kasar dan berat, serta cenderung menempel di saluran pernapasan besar.

“Perokok jenis ini biasanya mengalami karsinoma sel skuamosa (SCC) yang berkembang di bronkus besar,” paparnya di sela acara Siloam Oncology Summit yang digelar oleh MRCCC Hospital di Jakarta padaMinggu (18/5/2025).

Baca juga: Mengenal Kanker Paru-paru: Kanker Penyumbang Kematian Terbesar

Sementara itu, asap rokok filter yang mengandung partikel halus pada umumnya bisa memicu kanker paru adenokarsinoma.

“Asapnya yang mengandung partikel halus dapat lebih masuk ke dalam jaringan paru, hingga ke bagian perifer,” ujar dokter spesialis paru subspesialis onkologi toraks ini.

Penelitian juga menunjukkan bahwa durasi dan jumlah rokok yang dikonsumsi (dihitung dalam packyears) berbanding lurus dengan risiko semua tipe kanker paru, terutama SCC dan kanker paru sel kecil (SCLC).

Risiko kanker ini lebih signifi kan pada individu yang mulai merokok pada usia muda.

Di kalangan generasi muda saat ini lebih populer rokok elektrik atau pun vape dengan beragam aroma menarik, mulai dari rasa permen hingga buah-buahan.

Rokok ini juga dianggap sebagai alternatif untuk mengonsumsi nikotin secara aman.

Walau begitu, menurut dr Sita, anggapan itu keliru. Kandungan di dalam vape justru bisa lebih tinggi dibandingkan rokok konvensional.

“Ada vape yang kadar nikotinnya lebih tinggi dibanding rokok biasa.

Bahkan, dari penelitian kami, pengguna shisha bisa memiliki kadar nikotin dalam urine sampai 50 kali lipat dibandingkan perokok biasa,” ujarnya.

WHO juga sudah mengeluarkan pernyataan bahwa rokok elektronik tidak direkomendasikan untuk alat bantu berhenti merokok.

Baca juga: Bencana Alam Bikin Kebiasaan Merokok Meningkat, Yuk Kita Intip Apa Solusinya? 

Sebagai produk dengan bahan beracun yang berpotensi merusak organ paru-paru, vape dinilai dapat meningkatkan kemungkinan risiko kanker paru yang sama seperti kebiasaan merokok.

Kanker paru sering berkembang tanpa disadari dan baru menimbulkan gejala saat tumornya sudah di stadium lanjut dan berkembang ke organ lain.

Karena itu, dr Sita menyarankan agar orang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi kanker paru sangat disarankan melakukan deteksi dini.

“Mereka yang masuk dalam kelompok ini adalah perokok, baik aktif atau pasif, ada riwayat kanker dalam keluarga, atau menderita batuk yang tak kunjung sembuh lebih dari dua minggu,” paparnya.

Pemeriksaan kanker paru saat ini dianjurkan dengan metode Low dose CT (LDCT) Scan yang bisa menemukan nodul yang berukuran lebih kecil.

Sementara itu pemeriksaan dengan foto rontgen baru bisa mendeteksi nodul yang berukuran sekitar 3 cm dan jika ditemukan biasanya sudah stadium lanjut.

Pemeriksaan LDCT aman karena menggunakan radiasi dosis rendah dan bisa dilakukan di rumah sakit tipe C ke atas. 

Melalui pemeriksaan ini, nodul atau benjolan yang abnormal bisa dideteksi secara jelas hingga bisa dilakukan penanganan lebih awal.

LDCT bisa menurunkan angka tingkat kematian hingga 24 persen. 

Oleh sebab itu, berhenti merokok adalah cara terbaik untuk melindungi kesehatan dan mengurangi risiko kanker.

Baca juga: Jalan Kaki Cepat Sepuluh Menit Bisa Bantu Berhenti Merokok, Ini Penjelasan Peneliti

Baca juga: Perokok Berisiko 15-30 Kali Lebih Tinggi Kena Kanker Paru-Paru

Baca juga: 8 Makanan yang Dapat Memicu Kanker, Kenali Ciri-Ciri dan Cara Mencegah Tak Terkena Penyakit Ini  

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Beda Jenis Rokoknya, Beda Pula Letak Kankernya", 

Sumber: Kompas.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Update Jadwal & Skor
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 00:00 WIB
Portugal
Portugal
Live
DR Congo
RD Kongo
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 03:00 WIB
England
Inggris
VS
Croatia
Kroasia
Grup L - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00 WIB
Ghana
Ghana
VS
Panama
Panama
Grup K - Matchday 1
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:00 WIB
Uzbekistan
Uzbekistan
VS
Colombia
Kolombia
Grup A - Matchday 2
Kamis, 18 Juni 2026 | 23:00 WIB
Czechia
Ceko
VS
South Africa
Afrika Selatan
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga
Memuat video…
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved